Rupiah berpeluang terapresiasi
Rabu, 15 Januari 2014 - 08:25 WIB
Rupiah berpeluang terapresiasi
A
A
A
Sindonews.com - Laju rupiah diprediksi cukup bergairah berada pada tren penguatannya setelah pelaku pasar merespon positif sentimen yang berkembang sebelumnya.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, positifnya respon tersebut memberi peluang bagi rupiah untuk kembali menguat ke level Rp12.000-an.
"Laju rupiah berada di atas target resisten Rp12.183 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.115-Rp12.000 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Rabu (15/1/2014).
Adapun sejumlah sentimen yang akan mendongkrak laju rupiah hari ini, antara lain pengumuman yang menyebutkan naiknya suku bunga Lembaga Penjamin Sinmpanan (LPS) sebesar 25 basis poin (bps).
Selain itu, ada juga pemberitaan tentang optimisme kenaikan cadangan devisa di negara-negara Asean, termasuk Indonesia yang juga mengalami kenaikan dengan posisi terakhir di Desember 2013 senilai USD99,39 miliar.
Di sisi lain, lanjut Reza, dimulainya penerapan UU larangan ekspor mineral mentah tidak terlalu mendapat respon negatif karena pemerintah juga memberi dispensasi bagi perusahaan yang berkomitmen mengembangkan smelter.
"Apresiasi rupiah juga ditopang rilis melemahnya data nonfarm payrolls Amerika Serikat," pungkas Reza.
Pada Senin (13/1/2014), nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp12.050 per USD. Posisi ini menguat 112 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu di level Rp12.162 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.047 per USD atau terapresiasi signifikan 150 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.197 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, positifnya respon tersebut memberi peluang bagi rupiah untuk kembali menguat ke level Rp12.000-an.
"Laju rupiah berada di atas target resisten Rp12.183 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.115-Rp12.000 per USD mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Rabu (15/1/2014).
Adapun sejumlah sentimen yang akan mendongkrak laju rupiah hari ini, antara lain pengumuman yang menyebutkan naiknya suku bunga Lembaga Penjamin Sinmpanan (LPS) sebesar 25 basis poin (bps).
Selain itu, ada juga pemberitaan tentang optimisme kenaikan cadangan devisa di negara-negara Asean, termasuk Indonesia yang juga mengalami kenaikan dengan posisi terakhir di Desember 2013 senilai USD99,39 miliar.
Di sisi lain, lanjut Reza, dimulainya penerapan UU larangan ekspor mineral mentah tidak terlalu mendapat respon negatif karena pemerintah juga memberi dispensasi bagi perusahaan yang berkomitmen mengembangkan smelter.
"Apresiasi rupiah juga ditopang rilis melemahnya data nonfarm payrolls Amerika Serikat," pungkas Reza.
Pada Senin (13/1/2014), nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg ditutup pada level Rp12.050 per USD. Posisi ini menguat 112 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu di level Rp12.162 per USD.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di level Rp12.047 per USD atau terapresiasi signifikan 150 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.197 per USD.
(rna)