RI butuh Rp4.600 T untuk tuntaskan MP3EI
Senin, 20 Januari 2014 - 12:28 WIB
RI butuh Rp4.600 T untuk tuntaskan MP3EI
A
A
A
Sindonews.com - Untuk menuntaskan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) hingga 2025, Indonesia masih membutuhkan anggaran hingga Rp4.600 triliun.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, meskipun Indonesia telah masuk 15 sebagai negara dengan ekomomi cukup kuat di dunia, namun harus diakui masih ada kekurangan bidang infrastruktur dan properti.
"Sesungguhnya kita masuk 20 negara di dunia dan negara yang sedang bertumbuh dengan income GDP meningkat tajam. Namun kita masih miliki kekurangan infrastruktur dan properti," kata SBY saat membuka Munas ke-13 Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) di Sanur, Bali, Senin (20/1/2014).
Kekurangan itu, kata dia, harus segera dijawab dan pemerintah telah memberi contoh dalam memperkenalkan dengan rintisan program MP3EI di enam koridor.
SBY mengatakan, program MP3EI merupakan rumusan konsep strategis yang disusun bersama pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan ekonom. Semua program itu telah disusun secara maraton mulai dari Cipanas, Tampaksiring dan berakhir di Bogor.
Sejak MP3EI diluncurkan, realisasinya sudah mencapai sekitar Rp800 triliun yang bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan sektor riil. "Sasarannya sampai 2025, kita perlukan anggaran sekitar Rp4.600 triliun," tegasnya.
Hanya saja, lanjut SBY, dari jumlah anggaran yang dibutuhkan itu, pemerintah tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan untuk infrastruktur. Kemampuan pemerintah maksimal sekitar 30 persen, sisanya sebesar 70 persen diharapkan dapat dipenuhi oleh swasta termasuk BUMN.
Menurutnya, kalangan swasta yang berbendera merah putih diberi kesempatan lebih dahulu untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Jika nantinya masih kurang, barulah bermitra dengan negara sahabat dengan mengembangkan semangat kerja sama yang adil.
"Saya ingin sampaikan bahwa MP3EI ini akan meningkatkan infrastruktur kita dan memperkuat konektivitas kita di enam koridor. Ini merupakan peluang besar bagi dunia usaha termasuk industri dan jasa konstruksi," pungkasnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, meskipun Indonesia telah masuk 15 sebagai negara dengan ekomomi cukup kuat di dunia, namun harus diakui masih ada kekurangan bidang infrastruktur dan properti.
"Sesungguhnya kita masuk 20 negara di dunia dan negara yang sedang bertumbuh dengan income GDP meningkat tajam. Namun kita masih miliki kekurangan infrastruktur dan properti," kata SBY saat membuka Munas ke-13 Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) di Sanur, Bali, Senin (20/1/2014).
Kekurangan itu, kata dia, harus segera dijawab dan pemerintah telah memberi contoh dalam memperkenalkan dengan rintisan program MP3EI di enam koridor.
SBY mengatakan, program MP3EI merupakan rumusan konsep strategis yang disusun bersama pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan ekonom. Semua program itu telah disusun secara maraton mulai dari Cipanas, Tampaksiring dan berakhir di Bogor.
Sejak MP3EI diluncurkan, realisasinya sudah mencapai sekitar Rp800 triliun yang bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan sektor riil. "Sasarannya sampai 2025, kita perlukan anggaran sekitar Rp4.600 triliun," tegasnya.
Hanya saja, lanjut SBY, dari jumlah anggaran yang dibutuhkan itu, pemerintah tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan untuk infrastruktur. Kemampuan pemerintah maksimal sekitar 30 persen, sisanya sebesar 70 persen diharapkan dapat dipenuhi oleh swasta termasuk BUMN.
Menurutnya, kalangan swasta yang berbendera merah putih diberi kesempatan lebih dahulu untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Jika nantinya masih kurang, barulah bermitra dengan negara sahabat dengan mengembangkan semangat kerja sama yang adil.
"Saya ingin sampaikan bahwa MP3EI ini akan meningkatkan infrastruktur kita dan memperkuat konektivitas kita di enam koridor. Ini merupakan peluang besar bagi dunia usaha termasuk industri dan jasa konstruksi," pungkasnya.
(izz)