IHSG masih memiliki peluang menguat
Selasa, 21 Januari 2014 - 08:16 WIB
IHSG masih memiliki peluang menguat
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memprediksi, IHSG pada perdagangan hari ini akan berada pada support 4.385-4.412 dan resistance 4.450-4.455.
Reza mengatakan, IHSG masih memiliki utang gap di 4.270-4.292, sehingga lajunya masih akan variatif meskipun secara teknikal memberikan peluang penguatan.
"IHSG dapat bertahan di atas kisaran target support 4.375-4.395 dan mampu masuk dalam kisaran target resisten 4.425-4.438. Utang gap 4.393-4.398 telah tertutupi, namun masih ada utang gap di 4.270-4.292, sehingga laju IHSG masih akan variatif," papar dia, Selasa (21/1/2014).
Reza menambahkan, meski IHSG secara teknikal masih membuka peluang penguatan, akan tetapi peluang tersebut lebih rendah jika dibandingkan bila tidak adanya utang gap tersebut.
"Selalu mewaspadai masih adanya aksi ambil untung yang dapat menghambat kenaikan lanjutan IHSG," kata Reza.
Menilik perdagangan Senin kemarin tampak pergerakan IHSG masih memperlihatkan laju variatifnya, di mana sempat mengalami kenaikan, namun sempat juga menyentuh zona merah.
Pelaku pasar mencoba kembali masuk ke pasar setelah di akhir pekan kemarin laju pelemahan IHSG dapat ditahan, sehingga membuka peluang pembalikan arah. Di sisi lain, IHSG sempat menanggapi negatif rilis data-data pertumbuhan China yang tidak terlalu signifikan.
Meski tercatat lebih rendah dari sebelumnya, namun kembalinya asing mencatatkan nett buy membuat IHSG dapat kembali bersandar di zona hijau. Penguatan saham-saham perkebunan dan infrastruktur turut menopang hijaunya IHSG.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.435,97 di pertengahan sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.407,88 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.431,57.
"Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar dia.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia mayoritas cenderung melemah setelah merespon pelemahan bursa saham AS pasca dirilisnya penurunan jumlah dan persentase pertumbuhan building permits dan industrial production serta lemahnya kinerja beberapa emiten.
Di sisi lain, meski rilis kenaikan GDP China menunjukkan kenaikan, namun tidak mendapat respon negatif karena tidak terlalu naik signifikan yang menunjukkan masih adanya perlambatan dalam ekonomi China. Rilis rendahnya industrial production Jepang turut menambah sentimen negatif.
Reza mengatakan, IHSG masih memiliki utang gap di 4.270-4.292, sehingga lajunya masih akan variatif meskipun secara teknikal memberikan peluang penguatan.
"IHSG dapat bertahan di atas kisaran target support 4.375-4.395 dan mampu masuk dalam kisaran target resisten 4.425-4.438. Utang gap 4.393-4.398 telah tertutupi, namun masih ada utang gap di 4.270-4.292, sehingga laju IHSG masih akan variatif," papar dia, Selasa (21/1/2014).
Reza menambahkan, meski IHSG secara teknikal masih membuka peluang penguatan, akan tetapi peluang tersebut lebih rendah jika dibandingkan bila tidak adanya utang gap tersebut.
"Selalu mewaspadai masih adanya aksi ambil untung yang dapat menghambat kenaikan lanjutan IHSG," kata Reza.
Menilik perdagangan Senin kemarin tampak pergerakan IHSG masih memperlihatkan laju variatifnya, di mana sempat mengalami kenaikan, namun sempat juga menyentuh zona merah.
Pelaku pasar mencoba kembali masuk ke pasar setelah di akhir pekan kemarin laju pelemahan IHSG dapat ditahan, sehingga membuka peluang pembalikan arah. Di sisi lain, IHSG sempat menanggapi negatif rilis data-data pertumbuhan China yang tidak terlalu signifikan.
Meski tercatat lebih rendah dari sebelumnya, namun kembalinya asing mencatatkan nett buy membuat IHSG dapat kembali bersandar di zona hijau. Penguatan saham-saham perkebunan dan infrastruktur turut menopang hijaunya IHSG.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level tertinggi 4.435,97 di pertengahan sesi 2 dan menyentuh level terendah 4.407,88 di awal sesi 1 dan berakhir di level 4.431,57.
"Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell," papar dia.
Dari luar negeri, laju bursa saham Asia mayoritas cenderung melemah setelah merespon pelemahan bursa saham AS pasca dirilisnya penurunan jumlah dan persentase pertumbuhan building permits dan industrial production serta lemahnya kinerja beberapa emiten.
Di sisi lain, meski rilis kenaikan GDP China menunjukkan kenaikan, namun tidak mendapat respon negatif karena tidak terlalu naik signifikan yang menunjukkan masih adanya perlambatan dalam ekonomi China. Rilis rendahnya industrial production Jepang turut menambah sentimen negatif.
(rna)
Lihat Juga :