Rupiah diprediksi masih dalam tekanan
Rabu, 22 Januari 2014 - 08:26 WIB
Rupiah diprediksi masih dalam tekanan
A
A
A
Sindonews.com - Laju rupiah masih membuka peluang pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) seiring spekulasi akan lebih besarnya nilai pengurangan stimulus yang akan dilakukan the Fed nantinya.
"Kembali berhembusnya pemberitaan akan pengurangan stimulus the Fed dalam pertemuan the Fed pada pekan depan memberikan sentimen negatif," ujar Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (22/1/2014).
Reza mengatakan, adanya sentimen negatif tersebut membuat harapan kenaikan lanjutan atas rupiah kembali sirna setelah laju rupiah kembali terdepresiasi.
"Apalagi juga beredar rumor bahwa nantinya the Fed bukan hanya mengurangi pembelian obligasi senilai Rp10 miliar, namun Rp20 miliar atau lebih besar dari ekspektasi pelaku pasar," papar dia.
Namun demikian, Reza menuturkan, rupiah bukan berarti benar-benar tanpa peluang. Menurut dia, pelemahan rupiah sedikit terbatas karena diimbangi dengan kabar aksi PboC yang menginjeksi tambahan likuiditas pada sistem keuangan China dan kenaikan realisasi investasi dalam negeri 2013 sebesar 2,1 persen mencapai Rp398,6 triliun.
Pada perdagangan hari ini rupiah tampak berpotensi mendekati level Rp12.000 per USD-nya, meskipun lajunya masih menunjukkan tren penurunan.
"Laju rupiah berada di atas support Rp12.123. Rentang rupiah di kisaran Rp12.134-12.109 berdasarkan kurs tengah BI," pungkas dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.122 per USD atau terdepresiasi 12 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp12.110 per USD.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pada level Rp12.134 per USD. Posisi ini melemah 21 poin dibanding penutupan Senin (20/1/2014) di level Rp12.113 per USD.
"Kembali berhembusnya pemberitaan akan pengurangan stimulus the Fed dalam pertemuan the Fed pada pekan depan memberikan sentimen negatif," ujar Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (22/1/2014).
Reza mengatakan, adanya sentimen negatif tersebut membuat harapan kenaikan lanjutan atas rupiah kembali sirna setelah laju rupiah kembali terdepresiasi.
"Apalagi juga beredar rumor bahwa nantinya the Fed bukan hanya mengurangi pembelian obligasi senilai Rp10 miliar, namun Rp20 miliar atau lebih besar dari ekspektasi pelaku pasar," papar dia.
Namun demikian, Reza menuturkan, rupiah bukan berarti benar-benar tanpa peluang. Menurut dia, pelemahan rupiah sedikit terbatas karena diimbangi dengan kabar aksi PboC yang menginjeksi tambahan likuiditas pada sistem keuangan China dan kenaikan realisasi investasi dalam negeri 2013 sebesar 2,1 persen mencapai Rp398,6 triliun.
Pada perdagangan hari ini rupiah tampak berpotensi mendekati level Rp12.000 per USD-nya, meskipun lajunya masih menunjukkan tren penurunan.
"Laju rupiah berada di atas support Rp12.123. Rentang rupiah di kisaran Rp12.134-12.109 berdasarkan kurs tengah BI," pungkas dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.122 per USD atau terdepresiasi 12 poin dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp12.110 per USD.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pada level Rp12.134 per USD. Posisi ini melemah 21 poin dibanding penutupan Senin (20/1/2014) di level Rp12.113 per USD.
(rna)