Rupiah diprediksi masih dalam tren pelemahan
Kamis, 23 Januari 2014 - 08:09 WIB
Rupiah diprediksi masih dalam tren pelemahan
A
A
A
Sindonews.com - Laju rupiah kembali masuk tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (USD) seiring dengan kian menguatnya mata uang negeri Paman Sam tersebut.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memproyeksikan, laju rupiah kian menjauh dari level positifnya dan justru mengarah ke level Rp12.200 per USD.
"Laju rupiah berada di atas support Rp12.123 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.134-12.109 mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Kamis (23/1/2014).
Bila menilik secara umum, laju rupiah masih melanjutkan pelemahannya seiring terdepresiasinya sejumlah mata uang regional setelah merespon kian dekatnya pemberlakuan pengurangan stimulus the Fed.
Di sisi lain, sejumlah sentimen juga turut menghalangi potensi kenaikan rupiah, antara lain keputusan BoE yang belum akan menaikkan suku bunga acuannya untuk mempertahankan pertumbuhan GDP-nya, sehingga berimbas pada turunnya poundsterling.
Ada juga berita tentang rendahnya dolar Australia setelah rilis kenaikan harga konsumer yang lebih cepat dari perkiraan dan turunnya yen setelah diadakannya pertemuan BoJ.
"Di sisi lain, adanya penilaian negatif terhadap emas dari Morgan Stanley membuat laju USD terus terapresiasi," pungkas dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.149 per USD atau terdepresiasi 27 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.122 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada di level Rp12.143 per USD. Posisi ini merosot 9 poin dibanding penutupan Selasa (22/1/2014) di level Rp12.134 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada memproyeksikan, laju rupiah kian menjauh dari level positifnya dan justru mengarah ke level Rp12.200 per USD.
"Laju rupiah berada di atas support Rp12.123 per USD. Rentang rupiah di kisaran Rp12.134-12.109 mengacu kurs tengah BI," kata Reza, Kamis (23/1/2014).
Bila menilik secara umum, laju rupiah masih melanjutkan pelemahannya seiring terdepresiasinya sejumlah mata uang regional setelah merespon kian dekatnya pemberlakuan pengurangan stimulus the Fed.
Di sisi lain, sejumlah sentimen juga turut menghalangi potensi kenaikan rupiah, antara lain keputusan BoE yang belum akan menaikkan suku bunga acuannya untuk mempertahankan pertumbuhan GDP-nya, sehingga berimbas pada turunnya poundsterling.
Ada juga berita tentang rendahnya dolar Australia setelah rilis kenaikan harga konsumer yang lebih cepat dari perkiraan dan turunnya yen setelah diadakannya pertemuan BoJ.
"Di sisi lain, adanya penilaian negatif terhadap emas dari Morgan Stanley membuat laju USD terus terapresiasi," pungkas dia.
Kemarin, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI berada di level Rp12.149 per USD atau terdepresiasi 27 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp12.122 per USD.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada di level Rp12.143 per USD. Posisi ini merosot 9 poin dibanding penutupan Selasa (22/1/2014) di level Rp12.134 per USD.
(rna)