Potensi penguatan IHSG dibayangi profit taking
Jum'at, 24 Januari 2014 - 08:15 WIB
Potensi penguatan IHSG dibayangi profit taking
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menerangkan, adanya potensi penguatan atas laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diperkirakan akan berada pada support 4.430-4.465 dan resistance 4.484-4.492.
"Meski banyak yang menyimpan harapan akan keberlanjutan penguatan IHSG, namun tetap mewaspadai potensi reversal dengan adanya aksi profit taking," terang Reza, Jumat (24/1/2014).
Bila menilik lajunya secara historikal, IHSG memperlihatkan pergerakan anomalinya di awal tahun dimana masih bergerak di zona hijau meskipun laju bursa saham AS dan Eropa mulai variatif cenderung melemah.
Bahkan negatifnya laju bursa saham Asia pasca merespon pelemahan indeks manufaktur China dan pertumbuhan GDP kuartal IV/2013 Korea Selatan tidak menghalangi keinginan IHSG untuk tetap bertahan di zona hijau.
Mulai banyaknya berita-berita positif dari berbagai emiten, baik berupa penambahan capex, rilis produk maupun layanan baru, hingga rilis kinerja keuangan FY yang dimotori PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) memberikan sentimen positif pada IHSG.
Bahkan masih variatifnya laju bursa saham Eropa dan terdepresiasinya rupiah tidak juga menjadi halangan penguatan IHSG.
Sepanjang perdagangan hari Kamis, IHSG menyentuh level tertinggi 4.510,22 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.483,25 di akhir sesi 1 dan berakhir di level 4.496,04.
Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
"IHSG sempat di bawah tipis target resisten (4.484-4.492), namun juga mampu melewati target tersebut seiring dengan masih kuatnya aksi beli. Lagi-lagi IHSG meninggalkan utang gap 4.477-4.483, di mana utang gap sebelumnya di level 4.435-4.440 belum tertutupi," paparnya.
Dari luar negeri, rilis negatif dari penurunan HSBC manufacturing PMI China di bawah level 50 memberikan gambaran kian melambatnya kegiatan industri di China sehingga menghapus kenaikan di awal sesi pada bursa saham Asia.
Saham-saham energi dan material yang sehari sebelumnya menguat, kali ini langsung terkena aksi jual dengan sentimen tersebut.
Di sisi lain, suku bunga swaps dan repo kembali naik yang dibarengi penguatan yield sejumlah obligasi, sehingga makin menambah sentimen negatif. Masih rendahnya kegiatan investasi di Jepang turut memberikan sentimen negatif.
Rilis data manufaktur China yang melemah turut berimbas pada laju bursa saham Eropa yang masih bergerak variatif. Adanya pemangkasan rating rekomendasi dari beberapa emiten antara lain Inditex SA. dan Asos Plc. serta tidak berubahnya angka pengangguran Spanyol menambah sentimen negatif.
Di sisi lain, rilis kenaikan markit manufacturing PMI dan service PMI Perancis serta kenaikan rating rekomendasi di beberapa emiten lainnya a.l Marks & Spencer Group Plc. dapat mengimbangi sentimen negatif tersebut.
"Meski banyak yang menyimpan harapan akan keberlanjutan penguatan IHSG, namun tetap mewaspadai potensi reversal dengan adanya aksi profit taking," terang Reza, Jumat (24/1/2014).
Bila menilik lajunya secara historikal, IHSG memperlihatkan pergerakan anomalinya di awal tahun dimana masih bergerak di zona hijau meskipun laju bursa saham AS dan Eropa mulai variatif cenderung melemah.
Bahkan negatifnya laju bursa saham Asia pasca merespon pelemahan indeks manufaktur China dan pertumbuhan GDP kuartal IV/2013 Korea Selatan tidak menghalangi keinginan IHSG untuk tetap bertahan di zona hijau.
Mulai banyaknya berita-berita positif dari berbagai emiten, baik berupa penambahan capex, rilis produk maupun layanan baru, hingga rilis kinerja keuangan FY yang dimotori PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) memberikan sentimen positif pada IHSG.
Bahkan masih variatifnya laju bursa saham Eropa dan terdepresiasinya rupiah tidak juga menjadi halangan penguatan IHSG.
Sepanjang perdagangan hari Kamis, IHSG menyentuh level tertinggi 4.510,22 di awal sesi 1 dan menyentuh level terendah 4.483,25 di akhir sesi 1 dan berakhir di level 4.496,04.
Volume perdagangan turun dan nilai total transaksi naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
"IHSG sempat di bawah tipis target resisten (4.484-4.492), namun juga mampu melewati target tersebut seiring dengan masih kuatnya aksi beli. Lagi-lagi IHSG meninggalkan utang gap 4.477-4.483, di mana utang gap sebelumnya di level 4.435-4.440 belum tertutupi," paparnya.
Dari luar negeri, rilis negatif dari penurunan HSBC manufacturing PMI China di bawah level 50 memberikan gambaran kian melambatnya kegiatan industri di China sehingga menghapus kenaikan di awal sesi pada bursa saham Asia.
Saham-saham energi dan material yang sehari sebelumnya menguat, kali ini langsung terkena aksi jual dengan sentimen tersebut.
Di sisi lain, suku bunga swaps dan repo kembali naik yang dibarengi penguatan yield sejumlah obligasi, sehingga makin menambah sentimen negatif. Masih rendahnya kegiatan investasi di Jepang turut memberikan sentimen negatif.
Rilis data manufaktur China yang melemah turut berimbas pada laju bursa saham Eropa yang masih bergerak variatif. Adanya pemangkasan rating rekomendasi dari beberapa emiten antara lain Inditex SA. dan Asos Plc. serta tidak berubahnya angka pengangguran Spanyol menambah sentimen negatif.
Di sisi lain, rilis kenaikan markit manufacturing PMI dan service PMI Perancis serta kenaikan rating rekomendasi di beberapa emiten lainnya a.l Marks & Spencer Group Plc. dapat mengimbangi sentimen negatif tersebut.
(rna)
Lihat Juga :