Kemendag dan Kementan jangan saling menyalahkan

Jum'at, 31 Januari 2014 - 15:23 WIB
Kemendag dan Kementan...
Kemendag dan Kementan jangan saling menyalahkan
A A A
Sindonews.com - Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mencatat telah terjadi importasi beras sebanyak 83 kali dengan total 19.600 ton. Impor beras tersebut dilakukan oleh 58 importir terdaftar yang menerima SPI Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Beras impor asal Vietnam tersebut dianggap ilegal karena berkualitas medium. Impor beras hanya diperbolehkan untuk beras kualitas premium.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, Kemendag memang mengeluarkan izin impor beras tipe khusus sesuai rekomendasi Kementerian Pertanian (Kementan). Pihak Kemendag sendiri hanya menindaklanjuti rekomendasi yang diminta oleh pihak Kementan.

Anehnya, pihak Kementan sendiri menyurati Kemendag untuk meminta kejelasan mengenai masalah beras impor tersebut.

Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Suhardi mengatakan, pemerintah seharusnya mencari solusi atas permasalahan beras impor tersebut, bukannya saling menyalahkan satu sama lain.

"Pemerintah harus fokus dalam menindaklanjuti permasalahan tersebut, bukannya saling lempar tanggung jawab dan saling menyalahkan. Walau tahun ini merupakan tahun politik, seharusnya kementerian-kementerian terkait fokus pada pekerjaannya," ujar Suhardi dalam siaran persnya, Jumat (31/1/2014).

Suhardi juga mengatakan, saling mencari-cari kesalahan tidak akan menyelesaikan masalah. Seharusnya pemerintah dan rakyat sadar bahwa negara ini kaya dengan berbagai sumber pangan.

"Masih banyak sumber bahan pokok lain selain beras yang masih bisa kita manfaatkan. Bukan malah mengimpor beras, ketika panen raya berhasil. Dan stok beras cukup untuk 8 bulan ke depan," paparnya.

Terkait masalah impor, Suhardi menegaskan, bangsa Indonesia jangan jadi bangsa pengimpor. "Untuk apa kita mengimpor hanya untuk mendapat komisi 10 persen saja. Jika kita menanam sendiri sumber pangan kita, maka keuntungan yang akan kita dapatkan bisa mencapai 100.000 persen," tutup Suhardi.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pecah Rekor, Impor Beras...
Pecah Rekor, Impor Beras 2024 Butuh Anggaran Lebih Rp30 Triliun
Peningkatan Produksi...
Peningkatan Produksi Beras Disebut Hanya 0,55% dalam 22 Tahun, Gak Bahaya Ta?
Harga Beras Naik Gila-gilaan,...
Harga Beras Naik Gila-gilaan, Produksi RI Minus 2,8 Juta Ton
Anomali Harga Beras...
Anomali Harga Beras Bikin Boncos Rp99 T, Pemerintah Ultimatum Pelaku Usaha 2 Minggu
Beras Premium Langka...
Beras Premium Langka dan Mahal, Begini Penjelasan BI Jakarta
Awas, Harga Beras Dapat...
Awas, Harga Beras Dapat Mencapai 30 Ribu per Kilo, Ini Penyebabnya
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
5 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
6 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
7 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
9 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
9 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
9 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved