Penghematan devisa mandatory BBN-BBM ditargetkan USD3,11 M

Jum'at, 07 Februari 2014 - 10:38 WIB
Penghematan devisa mandatory...
Penghematan devisa mandatory BBN-BBM ditargetkan USD3,11 M
A A A
Sindonews.com - Pemerintah menargetkan penghematan devisa pada tahun ini dari kewajiban (mandatory) pencampuran bahan bakar nabati (BBN) pada bahan bakar minyak (BBM) sebesar USDS3,11 miliar. Sementara pada 2013 penghematan devisa dari penggunaan BBN sebesar USD779 juta.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (MESDM) Jero Wacik mengatakan, pada tahun ini dengan asumsi produksi biodiesel 3,8 juta kiloliter (KL) maka dapat mengurangi konsumsi BBM.

"3,8 juta KL itu cukup besar, kalau kita memproduksi biodiesel misal biasanya impor BBM 100, dengan mandatory 10 persen BBN, berarti impornya turun menjadi 90," kata dia dilansir dari situs resmi Kementerian ESDM, Jumat (7/2/2014).

Selain itu, sambung Jero, dengan pencampuran BBN ke BBM sebesar 4,01 juta KL pada tahun ini ditargetkan dapat menghemat subsidi BBM sebesar Rp4,9 triliun.

"2014 ini kami menargetkan produksi biodiesel bersubsidi 1,64 juta KL sedangkan produksi bioethanol 0,16 juta KL," katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pada 2013, realisasi subsidi energi sebesar Rp299,59 triliun, meningkat Rp12,45 triliun dari target Rp287,14 triliun ini disebabkan oleh terkendalanya beberapa proyek PLTU dan pelemahan nilai kurs rupiah.

"Rata-rata harga minyak Indonesia (ICP) 2013 mencapai USD105,82/bbl, atau sekitar 98 persen dari target, tahun 2014 diasumsikan sebesar USD105/bbl," tutur Jero.

Selanjutnya, kata dia, penerimaan sektor ESDM 2013 memberi kontribusi 24 persen dari penerimaan nasional, dan realisasi sebesar 108 persen melebihi dari yang sudah ditargetkan dan rasio elektrifikasi di 2013 sebesar 80,51 persen, atau lebih tinggi 1,3 persen dari yang ditargetkan. Pada 2014 rasio elektrifikasi ditargetkan sebesar 81,51 persen.

Sedangkan kinerja sektor ESDM lain yang sudah dicapai Kementerian ESDM, program percepatan pembangunan pembangkit tahap II, akan mulai terealisasi pada 2014, dengan diresmikannya PLTP Patuha (55 MW) pada bulan Juni 2014.

"Untuk perkembangan renegosiasi KK dan PKP2B, saat ini dari 37 KK, 7 KK telah sepakat terhadap seluruh materi renegosiasi, 1 KK diterminasi dan 2 KK mengajukan proses terminasi. Sementara dari 74 PKP2B, 15 PKP2B telah sepakat materi renegosiasi," pungkas Jero.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
5 Langkah Pengembangan...
5 Langkah Pengembangan Bahan Bakar Nabati Jadi Strategi Ketahanan Energi Nasional
Seberapa Hijaukah Bahan...
Seberapa Hijaukah Bahan Bakar Nabati? Awas Klaim Menyesatkan!
Avtur Berbahan Minyak...
Avtur Berbahan Minyak Sawit Bukan Upaya Sehari, Ini Prosesnya
Menakar Nilai Ekonomis...
Menakar Nilai Ekonomis Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Sawit
Hasilkan Energi Ramah...
Hasilkan Energi Ramah Lingkungan, Legislator Ungkap Urgensi Bangun Pabrik Bioethanol
Ethanol untuk BBN Tanpa...
Ethanol untuk BBN Tanpa Cukai Bakal Jadi Magnet Bagi Dunia Usaha
Berita Terkini
Lindungi Konsumen, Pakar...
Lindungi Konsumen, Pakar UI Ingatkan Dampak Paparan BPA Galon Guna Ulang
7 menit yang lalu
IHSG Kembali Babak Belur...
IHSG Kembali Babak Belur Siang Ini, Nyungsep 2,53% ke 5.692
20 menit yang lalu
Teknologi Fungisida...
Teknologi Fungisida Baru Syngenta Dukung Target Swasembada Beras
33 menit yang lalu
Prabowo Resmi Rilis...
Prabowo Resmi Rilis Aturan Ekspor 3 Komoditas Lewat Satu Pintu, Ini Ketentuannya
44 menit yang lalu
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
2 jam yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
2 jam yang lalu
Infografis
Bahlil Beri Sinyal Ojek...
Bahlil Beri Sinyal Ojek Online Tak Dapat BBM Subsidi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved