Chatib: Indonesia jangan bergantung sektor pertanian

Jum'at, 07 Februari 2014 - 11:16 WIB
Chatib: Indonesia jangan...
Chatib: Indonesia jangan bergantung sektor pertanian
A A A
Sindonews.com - Pemerintah perlu mempertimbangkan untuk menfokuskan penyerapan tenaga kerja agar tidak bergantung terhadap sektor pertanian.

Hal ini dirasa perlu dilakukan, karena lahan pertanian semakin lama semakin sempit. Semakin sempitnya lahan pertanian tersebut mengakibatkan sektor pertanian tidak cukup menampung tenaga kerja.

“Saya rasa kuncinya ke depan penyerapan tenaga kerja tidak bisa lagi mengandalkan sektor pertanian, karena sektor pertanian itu lahannya terbatas. Kalau tenaga kerjanya banyak, bayangkan banyak sekali orang yang di lahan terbatas," ujar Menteri Keuangan M Chatib Basri dikutip dari situs Kementerian Keuangan, Jumat (7/2/2014).

"Akibatnya, produktivitas mengalami penurunan. Ini kalau di ekonomi namanya the law of diminishing return, tanah kecil dikasih orang banyak akibatnya kepenuhan," sambungnya.

Menurut Chatib, sektor pertanian saat ini seharusnya dimodernisasi, sehingga tenaga kerja di sektor pertanian bergeser ke sektor manufaktur dan jasa. Oleh karena itu, sektor manufaktur harus tumbuh dan berkembang.

“Yang mesti terjadi adalah bagaimana pertanian ini dimodernisasi supaya orangnya pindah ke manufaktur dan jasa, jadi manufakturnya harus tumbuh,” tambahnya.

Seperti diketahui, sektor manufaktur tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional 2013 yang sebesar 5,78 persen. Hal ini mengakibatkan peralihan petani ke sektor manufaktur menjadi tidak mudah.

“Nah manufakturnya tumbuhnya sedikit, di bawah pertumbuhan ekonomi yang 5,78 persen, akibatnya rasio sektor manufaktur terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) itu pasti mengalami penurunan,” jelas Chatib.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Pertamina EP Bukukan...
Pertamina EP Bukukan Produksi Migas 205 Ribu MBOEPD Sepanjang 2025
34 menit yang lalu
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
49 menit yang lalu
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000 per Gram, Ini Rincian Lengkapnya
1 jam yang lalu
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
2 jam yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
2 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
3 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved