Peternak puyuh merugi di musim hujan

Minggu, 23 Februari 2014 - 16:23 WIB
Peternak puyuh merugi...
Peternak puyuh merugi di musim hujan
A A A
Sindonews.com - Peternak burung puyuh di Kabupaten Garut mengalami kerugian di musim hujan. Anwar (35), seorang peternak burung puyuh asal Kampung Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, mengaku pada musim hujan kali ini dia mengalami kerugian hingga ratusan ribu rupiah setiap pekan.

Penyebabnya, di setiap musim hujan burung puyuh yang ia ternak diserang oleh bakteri snot. Penyakit tersebut setidaknya membuat produksi telur puyuhnya berkurang.

“Bakteri ini umumnya juga menyerang unggas lain seperti ayam ras, ayam kampung, dan juga itik. Kalau menyerang puyuh ya begini akibatnya, produksi telur berkurang dan saya rugi setiap minggunya,” kata Anwar, Sabtu (22/2/2014).

Menurut Anwar, serangan bakteri snot tidak selalu mengakibatkan kematian, melainkan pengurangan produksi telur. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri tersebut dapat disembuhkan dengan perawatan puyuh yang intensif.

“Penyakitnya selalu muncul di setiap musim hujan. Maka tidak aneh, bila di musim hujan penyakitnya menyebar dan menyerang burung puyuh,” ujarnya.

Tanda-tanda burung puyuh terkena penyakit ini adalah mengeluarkan cairan air mata. Selain itu, burung yang terinfeksi pun terlihat selalu mengantuk.

“Burung puyuh juga menjadi lesu dan kurang nafsu makan. Jika sudah terkena penyakit snot, saya selalu memberikan puyuh obat, vitamin, dan rutin menjaga kebersihan kandang,” sebutnya.

Di luar musim hujan, sekira 2.000 ekor burung puyuh yang dia ternakan dapat menghasilkan 20 kilogram telur setiap tiga hari sekali. Dengan demikian, dalam sepekan keuntungan yang dapat Anwar kantongi mencapai Rp1 juta.

“Sedangkan di musim hujan ini, setiap tiga harinya telur yang dihasilkan hanya 15 kilogram atau turun sekira 20 persen. Saya jelas mengalami kerugian. Kira-kira kerugiannya mencapai ratusan ribu,” katanya.

Sementara itu, Kasi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Disnakanla) Kabupaten Garut Dyah Savitri mengatakan, penyakit yang menyerang unggas memang kerap datang dan menyebar di musim hujan. Savitri mengimbau agar masyarakat yang menernakan unggas untuk menjaga kebersihan dan sanitasi kandang hewannya.

“Unggas memang menjadi rentan jika cuaca dingin. Cuaca ini juga membuat penyakit mudah menyebar jika keadaan kandang kotor. Untuk meminimalisir serangan penyakit, para pemilik ternak unggas mesti menjaga kebersihan kandangnya,” tandasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wow BEEF Membangun Pusat...
Wow BEEF Membangun Pusat Peternakan Terintegrasi di Subang Kapasitas 28.000 Ton
Jelang Purna Tugas,...
Jelang Purna Tugas, Puluhan Polisi Kembangkan Minat Berternak
Bulukumba Optimalkan...
Bulukumba Optimalkan Potensi Sektor Peternakan Lewat Kampung Sapi
Telur Tetas Asal Klaten...
Telur Tetas Asal Klaten Terbang ke Vietnam, Sektor Perunggasan Tumbuh Positif
Warga Pagenggang Lebak...
Warga Pagenggang Lebak Apresiasi Peternakan Sistem Close House
Tidak Punya Izin, Peternakan...
Tidak Punya Izin, Peternakan Babi di Klaten Ditutup Sat Pol PP
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
2 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
2 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
3 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
3 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
3 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
3 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved