Wait and see, IHSG berpeluang kembali longsor
Kamis, 27 Februari 2014 - 08:28 WIB
Wait and see, IHSG berpeluang kembali longsor
A
A
A
Sindonews.com - Diwarnai aksi tunggu terkait testimoni Presiden The Fed Janet Yellen di depan Komite Perbankan Senat tentang kondisi terkini ekonomi Amerika Serikat (AS), laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun diproyeksi tidak begitu bergairah pada perdagangan hari ini.
"IHSG sendiri kami perkirakan berpeluang melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini menilik pada tren bursa dunia dan nihilnya katalis baru yang cukup kuat dari domestik dengan kisaran pergerakan pada level support 4.510-4.511 dan level resistance 4.551-4.562," terang Research Analyst PT Danpac Sekuritas, Teuku Hendry Andrean, Kamis (27/2/2014).
Menilik lajunya, IHSG pada perdagangan kemarin (26/02) kembali ditutup dalam kondisi negatif dan kembali mengalami pelemahan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Minimnya katalis baru yang cukup kuat dari domestik serta tren konsolidasi bursa global membuat IHSG tidak mampu bergerak positif dalam tiga hari terakhir ini. Sementara bursa Asia di hari kemarin terlihat berada dalam tren mixed.
Pelemahan IHSG kali ini kembali dimotori oleh pelemahan mayoritas sektor industri di dalamnya. Di mana sektor Aneka-Industri, Industri-Dasar, Manufaktur, Properti dan Konsumer menjadi motor utama pelemahannya dengan pelemahan lebih dari 1 persen.
Terlihat hanya sektor Perkebunan yang ditutup menguat kemarin. Sedangkan investor asing terlihat membukukan net selling senilai Rp145,12 miliar kemarin.
Dari luar negeri, bursa global pada perdagangan semalam terlihat berakhir dalam kondisi mixed. Di mana, bursa eropa terlihat dalam kondisi merata melemah sedangkan bursa AS terlihat ditutup merata menguat, namun dengan besaran penguatan yang sangat tipis atau cenderung flat.
Pelemahan pada bursa eropa semalam dipengaruhi oleh nihilnya katalis baru yang beredar di pasar serta pelemahan saham Credit Suisse dipicu oleh tuduhan dari Subkomite Senat AS terhadap bank tersebut yang dianggap telah membantu lebih dari 22.000 orang Amerika Serikat menghindari pembayaran pajak di AS.
Sementara, bursa AS sempat bergerak dalam teritori positif dipicu oleh pertumbuhan Penjualan Rumah Baru (new home sales) per Januari yang berhasil tumbuh diatas ekspektasi konsensus yaitu dari 427.000 di bulan Desember 2013 menjadi 468.000 di bulan Januari 2014 atau lebih tinggi dari level konsensus di level 400.000.
Namun menjelang akhir sesi perdagangan ketiga indeks utama AS mulai kehilangan momentum penguatannya dan mulai mengalami profit taking. Investor di AS tampaknya memilih untuk bersikap antisipatif menanti testimoni Presiden The Fed Janet Yellen di depan Komite Perbankan Senat malam ini.
"Bursa Asia pada perdagangan hari ini kami perkirakan akan bergerak mixed mengantisipasi testimoni Janet Yellen tersebut," pungkas dia.
"IHSG sendiri kami perkirakan berpeluang melanjutkan pelemahannya pada perdagangan hari ini menilik pada tren bursa dunia dan nihilnya katalis baru yang cukup kuat dari domestik dengan kisaran pergerakan pada level support 4.510-4.511 dan level resistance 4.551-4.562," terang Research Analyst PT Danpac Sekuritas, Teuku Hendry Andrean, Kamis (27/2/2014).
Menilik lajunya, IHSG pada perdagangan kemarin (26/02) kembali ditutup dalam kondisi negatif dan kembali mengalami pelemahan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Minimnya katalis baru yang cukup kuat dari domestik serta tren konsolidasi bursa global membuat IHSG tidak mampu bergerak positif dalam tiga hari terakhir ini. Sementara bursa Asia di hari kemarin terlihat berada dalam tren mixed.
Pelemahan IHSG kali ini kembali dimotori oleh pelemahan mayoritas sektor industri di dalamnya. Di mana sektor Aneka-Industri, Industri-Dasar, Manufaktur, Properti dan Konsumer menjadi motor utama pelemahannya dengan pelemahan lebih dari 1 persen.
Terlihat hanya sektor Perkebunan yang ditutup menguat kemarin. Sedangkan investor asing terlihat membukukan net selling senilai Rp145,12 miliar kemarin.
Dari luar negeri, bursa global pada perdagangan semalam terlihat berakhir dalam kondisi mixed. Di mana, bursa eropa terlihat dalam kondisi merata melemah sedangkan bursa AS terlihat ditutup merata menguat, namun dengan besaran penguatan yang sangat tipis atau cenderung flat.
Pelemahan pada bursa eropa semalam dipengaruhi oleh nihilnya katalis baru yang beredar di pasar serta pelemahan saham Credit Suisse dipicu oleh tuduhan dari Subkomite Senat AS terhadap bank tersebut yang dianggap telah membantu lebih dari 22.000 orang Amerika Serikat menghindari pembayaran pajak di AS.
Sementara, bursa AS sempat bergerak dalam teritori positif dipicu oleh pertumbuhan Penjualan Rumah Baru (new home sales) per Januari yang berhasil tumbuh diatas ekspektasi konsensus yaitu dari 427.000 di bulan Desember 2013 menjadi 468.000 di bulan Januari 2014 atau lebih tinggi dari level konsensus di level 400.000.
Namun menjelang akhir sesi perdagangan ketiga indeks utama AS mulai kehilangan momentum penguatannya dan mulai mengalami profit taking. Investor di AS tampaknya memilih untuk bersikap antisipatif menanti testimoni Presiden The Fed Janet Yellen di depan Komite Perbankan Senat malam ini.
"Bursa Asia pada perdagangan hari ini kami perkirakan akan bergerak mixed mengantisipasi testimoni Janet Yellen tersebut," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :