Beras sumbang inflasi tertinggi di Jateng
Senin, 03 Maret 2014 - 17:56 WIB
Beras sumbang inflasi tertinggi di Jateng
A
A
A
Sindonews.com - Inflasi di Jawa Tengah (Jateng) mengalami penurunan signifikan. Jika pada Januari 2014 inflasi mencapai 1 persen, di Februari mengalami penurunan menjadi 0,33 persen.
Turunnya inflasi yang terjadi di Jateng ini tidak lepas dari kembali normalnya distribusi bahan-bahan baku, harga sejumlah bahan pokok mulai turun. Namun, masih ada sejumlah bahan pokok yang masih cukup tinggi dan memberikan sumbangan terjadinya inflasi di Jateng, diantaranya beras dan cabai rawit.
Berdasarkan pantuan di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang, harga beras mengalami kenaikan. Contohnya harga beras jenis IR 64 kualitas biasa, berada di kisaran harga Rp8.800 per kg.
Sementara, untuk kualitas yang lebih baik, seperti IR 64 Super, Pandan wangi, Memberamo dan Delanggu, sudah mencapai kisaran harga Rp9.500 hingga Rp10.000 per kg. Padahal, sepekan sebelumnya harga beras IR 64 kualitas biasa masih berada di harga Rp8.000.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Jamjam Zamachsyari mengatakan, beras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dengan andil sebesar 0,34 persen. "Selain beras, komoditas lain penyumbang inflasi yakni cabai rawit, tukang bukan mandor, nasi dengan lauk dan minyak goreng," ujarnya, Senin (3/3/2014).
Menurutnya, pergerakan beras cukup tinggi seperti di cilacap, Surakarta dan Purwokerto yang memberikan sumbangan tertinggi untuk inflasi. Dia mengatakan, semua Kabupaten/Kota di Jateng mengalami inflasi selama Februari.
Dari enam kota yang disurvei kebutuhan biaya hidup, inflasi tertinggi terjadi di kota Tegal sebesar 0,79 persen. Sementara itu untuk kota dengan inflasi paling rendah yakni Kota Kudus, yang mengalami inflasi sebesar 0,11 persen.
Sementara, Sekretaris II Tim Pengendal Inflasi Daerah (TPID) Marlison Hakim mengatakan, inflasi Februari 2014 secara bulanan memang diperkirakan mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya sejalan dengan membaiknya pasokan barang.
Dia melihat, khusus untuk harga beras meskipun menjadi penyumbang tertinggi inflasi, namun tidak mengalami perubahan signifikan. Harga beras masih cukup stabil karena stoknya memadai, stok beras Bulog cukup sampai tujuh bulan ke depan.
"Pasokan barang sudah mulai normal, setelah sempat terganggu akibat terputusnya beberapa ruas jalan akibat banjir. Harga cabai merah pada Januari masuk dalam lima komoditas penyumbang inflasi terbesar, pada Februari sudah turun. Distribusi elpiji yang sempat terganggu pasca banjir sudah kembali normal terlebih setelah Pertamina menambah pasokan elpiji. Beberapa barang yang terpantau turun lainnya telur ayam ras dan sayur mayor," jelasnya.
Marlison menjelaskan, membaiknya pasokan diindikasikan dari data jembatan timbang, mulai di pekan II terdapat peningkatan jumlah barang yang diangkut. Pemerintah sudah mulai memperbaiki infrastruktur yang rusak pasca banjir. Anggaran yang digunakan direncanakan diambil dari APBN, APBD Provinsi, dan APBD kabupaten/kota.
"Sampai pertengahan Februari telah ditanam ulang lahan padi seluas 27.998,6 ha atau sekitar 86 persen dari lahan puso. Upaya tersebut didukung faktor curah hujan berdasarkan perkiraan BMKG akan normal mulai Februari 2014. Sehingga target produksi 2014 masih terpenuhi, hanya akan terjadi pergeseran musim panen raya dari subround I menjadi subround II," terang dia.
Berdasar Dinas Pertanian, akibat banjir tercatat puso di lahan padi seluas 32.363,26 ha atau sekitar 4 persen dari sasaran panen. Puso terbesar terjadi di Pati, Jepara, Kudus, dan Demak. Pemerintah daerah mengupayakan percepatan tanam dengan varietas padi umur pendek Februari, sehingga akan panen pada Mei.
Turunnya inflasi yang terjadi di Jateng ini tidak lepas dari kembali normalnya distribusi bahan-bahan baku, harga sejumlah bahan pokok mulai turun. Namun, masih ada sejumlah bahan pokok yang masih cukup tinggi dan memberikan sumbangan terjadinya inflasi di Jateng, diantaranya beras dan cabai rawit.
Berdasarkan pantuan di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang, harga beras mengalami kenaikan. Contohnya harga beras jenis IR 64 kualitas biasa, berada di kisaran harga Rp8.800 per kg.
Sementara, untuk kualitas yang lebih baik, seperti IR 64 Super, Pandan wangi, Memberamo dan Delanggu, sudah mencapai kisaran harga Rp9.500 hingga Rp10.000 per kg. Padahal, sepekan sebelumnya harga beras IR 64 kualitas biasa masih berada di harga Rp8.000.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Jamjam Zamachsyari mengatakan, beras menjadi komoditas utama penyumbang inflasi dengan andil sebesar 0,34 persen. "Selain beras, komoditas lain penyumbang inflasi yakni cabai rawit, tukang bukan mandor, nasi dengan lauk dan minyak goreng," ujarnya, Senin (3/3/2014).
Menurutnya, pergerakan beras cukup tinggi seperti di cilacap, Surakarta dan Purwokerto yang memberikan sumbangan tertinggi untuk inflasi. Dia mengatakan, semua Kabupaten/Kota di Jateng mengalami inflasi selama Februari.
Dari enam kota yang disurvei kebutuhan biaya hidup, inflasi tertinggi terjadi di kota Tegal sebesar 0,79 persen. Sementara itu untuk kota dengan inflasi paling rendah yakni Kota Kudus, yang mengalami inflasi sebesar 0,11 persen.
Sementara, Sekretaris II Tim Pengendal Inflasi Daerah (TPID) Marlison Hakim mengatakan, inflasi Februari 2014 secara bulanan memang diperkirakan mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya sejalan dengan membaiknya pasokan barang.
Dia melihat, khusus untuk harga beras meskipun menjadi penyumbang tertinggi inflasi, namun tidak mengalami perubahan signifikan. Harga beras masih cukup stabil karena stoknya memadai, stok beras Bulog cukup sampai tujuh bulan ke depan.
"Pasokan barang sudah mulai normal, setelah sempat terganggu akibat terputusnya beberapa ruas jalan akibat banjir. Harga cabai merah pada Januari masuk dalam lima komoditas penyumbang inflasi terbesar, pada Februari sudah turun. Distribusi elpiji yang sempat terganggu pasca banjir sudah kembali normal terlebih setelah Pertamina menambah pasokan elpiji. Beberapa barang yang terpantau turun lainnya telur ayam ras dan sayur mayor," jelasnya.
Marlison menjelaskan, membaiknya pasokan diindikasikan dari data jembatan timbang, mulai di pekan II terdapat peningkatan jumlah barang yang diangkut. Pemerintah sudah mulai memperbaiki infrastruktur yang rusak pasca banjir. Anggaran yang digunakan direncanakan diambil dari APBN, APBD Provinsi, dan APBD kabupaten/kota.
"Sampai pertengahan Februari telah ditanam ulang lahan padi seluas 27.998,6 ha atau sekitar 86 persen dari lahan puso. Upaya tersebut didukung faktor curah hujan berdasarkan perkiraan BMKG akan normal mulai Februari 2014. Sehingga target produksi 2014 masih terpenuhi, hanya akan terjadi pergeseran musim panen raya dari subround I menjadi subround II," terang dia.
Berdasar Dinas Pertanian, akibat banjir tercatat puso di lahan padi seluas 32.363,26 ha atau sekitar 4 persen dari sasaran panen. Puso terbesar terjadi di Pati, Jepara, Kudus, dan Demak. Pemerintah daerah mengupayakan percepatan tanam dengan varietas padi umur pendek Februari, sehingga akan panen pada Mei.
(izz)
Lihat Juga :