Hipmi dukung pembentukan Komite MEA 2015
Kamis, 13 Maret 2014 - 11:35 WIB
Hipmi dukung pembentukan Komite MEA 2015
A
A
A
Sindonews.com - Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mendukung penuh pemerintah dalam membentuk Komıte Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
Hipmi berharap Komite MEA menjadi daya dorong agar Indonesia jauh lebih agresif menghadapi persaingan di kawasan. "Saya nilai kita kurang agresif memanfaatkan MEA. Kita lebih sibuk mempersiapkan. Sementara negara lain sudah memanfaatkan potensi pasar ASEAN, seperti pembentukan ASEAN-Japan Forum (di Brunei), maupun ASEAN-China Forum di Kamboja beberapa waktu lalu," ujar Ketua umum Hipmi, Raja Sapta Oktohari di kantor Kementrian Perekonomian, Kamis (13/3/2014).
Menurutnya, fakta menunjukkan dari 81 persen masyarakat yang mengetahui MEA 2015, yang mengerti hanya 76 persen. Sedangkan yang benar-benar mengerti dan memahami MEA hanya 5 persen. "Ini tugas berat pemerintah untuk kembali mensosialisasikan apa keuntungan dari MEA 2015," kata dia.
Fakta lain, kata Okto posisi pariwisata Indonesia berada di urutan ke-4 setelah Singapura, Malaysia dan Thailand. Di mana negara-negara tersebut lebih pandai dan fokus mempromosikan aset wisatanya ke seluruh dunia.
Hipmi berharap, Komite MEA 2015 tetap dıpertahankan meski akan ada pemerintahan baru hasil pemilu tahun ini. "Akan menjadı pertanyaan apakah komite ini tetap bertahan ketika pemerintahan berganti mengingat ketua komite dipegang Menko Perekonomian," ujarnya.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, komite tersebut bertugas untuk memantau perkembangan dan proses sosialisasi MEA termasuk persiapan empat pilar pembangunan memasuki MEA seperti pasar tunggal, daya saing, pemerataan pembangunan dan integrasi ekonomi global.
Hatta mengakui, terbatasnya pemahaman dunia usaha tentang MEA juga mendorong pembentukan komite tersebut. "Karena dari berbagai survei terungkap masih terbatas pemahaman pelaku dunia usaha terhadap manfaat kerja sama ASEAN," kata Hatta.
Hipmi berharap Komite MEA menjadi daya dorong agar Indonesia jauh lebih agresif menghadapi persaingan di kawasan. "Saya nilai kita kurang agresif memanfaatkan MEA. Kita lebih sibuk mempersiapkan. Sementara negara lain sudah memanfaatkan potensi pasar ASEAN, seperti pembentukan ASEAN-Japan Forum (di Brunei), maupun ASEAN-China Forum di Kamboja beberapa waktu lalu," ujar Ketua umum Hipmi, Raja Sapta Oktohari di kantor Kementrian Perekonomian, Kamis (13/3/2014).
Menurutnya, fakta menunjukkan dari 81 persen masyarakat yang mengetahui MEA 2015, yang mengerti hanya 76 persen. Sedangkan yang benar-benar mengerti dan memahami MEA hanya 5 persen. "Ini tugas berat pemerintah untuk kembali mensosialisasikan apa keuntungan dari MEA 2015," kata dia.
Fakta lain, kata Okto posisi pariwisata Indonesia berada di urutan ke-4 setelah Singapura, Malaysia dan Thailand. Di mana negara-negara tersebut lebih pandai dan fokus mempromosikan aset wisatanya ke seluruh dunia.
Hipmi berharap, Komite MEA 2015 tetap dıpertahankan meski akan ada pemerintahan baru hasil pemilu tahun ini. "Akan menjadı pertanyaan apakah komite ini tetap bertahan ketika pemerintahan berganti mengingat ketua komite dipegang Menko Perekonomian," ujarnya.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, komite tersebut bertugas untuk memantau perkembangan dan proses sosialisasi MEA termasuk persiapan empat pilar pembangunan memasuki MEA seperti pasar tunggal, daya saing, pemerataan pembangunan dan integrasi ekonomi global.
Hatta mengakui, terbatasnya pemahaman dunia usaha tentang MEA juga mendorong pembentukan komite tersebut. "Karena dari berbagai survei terungkap masih terbatas pemahaman pelaku dunia usaha terhadap manfaat kerja sama ASEAN," kata Hatta.
(izz)
Lihat Juga :