Phapros rogoh kocek Rp1,6 T bangun pabrik di Ungaran

Jum'at, 14 Maret 2014 - 17:33 WIB
Phapros rogoh kocek...
Phapros rogoh kocek Rp1,6 T bangun pabrik di Ungaran
A A A
Sindonews.com - PT Phapros yang merupakan anak perusahaan dari PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), menginvestasikan dana Rp1,6 triliun untuk membangun pabrik baru di kawasan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Pendirian pabrik baru dikarenakan, Pabrik Phapros di Simongan, Kota Semarang akan direlokasi Pemkot Semarang. Hal itu diungkapkan Direktur Utama PT RNI, Ismed Hasan Putro dihadapan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, saat berkunjung di Pabrik Phapros di Simongan, Semarang, Jumat (14/3/2014).

Ismed mengatakan, untuk investasi tahap awal, pihaknya menyediakan dana sebesar Rp350 miliar. "Investasi akan terus tumbuh dan total yang kita alokasikan sebesar Rp1,6 triliun," katanya.

Dia menjelaskan, pabrik baru di Ungaran tersebut selain karena direlokasi Pemkot Semarang, namun juga untuk merespon cepat kebutuhan obat untuk melayani program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) yang anggotanya saat ini mencapai lebih dari 115 juta jiwa.

Selain itu, juga untuk menghadapi Masyarkat Ekonomi ASEAN (MEA), di mana persaingan industri farmasi akan semakin ketat. "Karena itu dengan persaingan ketat pembangunan pabrik nantinya harus disertai Inovasi dan efisiensi. Kami menyadari pembangunan pabrik nanti tidak semata-mata untuk jangka pendek," katanya.

Menurutnya, dengan pembangunan pabrik baru nanti Phapros tidak boleh terpaku dengan persaingan lokal yang artinya bersaingan dengan industri farmasi swasta dan bersaing dengan BUMN lain. Namun, persaingan harus mulai melihat pasar ekspor. Terlebih saat ini Phapros sedang melakukan proses kualifikasi WHO, supaya produk Phapros dapat dijual ke Asia Pasifik.

"Untuk pasar ekspor mulai Juni ini kita akan mulai melakukan ekspor ke Malaysia dan Thailand. Untuk tahap awal akan mengekspor Antimo," ungkapnya.

Namun, kata dia, selama ini produk farmasi di Indonesia harganya masih terlalu mahal, sehingga dibutuhkan inovasi dan efisiensi, sehingga bisa menekan harga. Masih mahalnya produk farmasi di Indonesia tidak lepas dari masih tergantungnya produsen farmasi dengan bahan baku impor.

"Karena itu pabrik di Ungaran nantinya akan menjadi pabrik yang lebih efisien, dan diharapkan dapat menekan harga sampai 50 persen," tandasnya.

Direktur Utama Phapros, Iswanto mengatakan, groudbreking pembangunan pabrik baru di Ungaran akan dilakukan akhir 2014. "Di pabrik baru nanti kami juga akan melakukan kerja sama dengan industri farmasi multinasional untuk memproduksi Imlan KB," ujarnya.

Sementara, Nafsiah sangat mendukung rencana ekspansi Phapros ke Kabupaten Semarang. Dengan melakukan ekpansi dan pabrik yang lebih luas maka akan menambah kuantitas dan kualitas produksi obat.

"Yang terpenting adalah mampu bersaing dengan produksi obat dari luar negeri terlebih saat ini Phapros sudah memproses pra kualiafikasi WHO, sehingga produknya bisa dijual di luar negeri," tandasnya.

Dia berharap produksi farmasi tidak hanya memikirkan segi bisnis tetapi juga memikirkan segi manfaat bagi Bangsa. "Obat tidak hanya harus berkualitas tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan obat di Indonesia, dan yang terpenting juga selain kualitas, harganya juga harus bersaing dan terjangkau," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Transformasi Layanan...
Transformasi Layanan Farmasi Jadi Fokus PIT dan Mukernas HISFARSI 2026 di Pekanbaru
Strategi dan Inovasi...
Strategi dan Inovasi Merck Indonesia di Tengah Gempuran COVID-19
Strategi Bayern dalam...
Strategi Bayern dalam Dorong Pertumbuhan Bisnis Farmasi dan Sains di Masa Depan
SwipeRx Sukses Gelar...
SwipeRx Sukses Gelar IPEC 2026 ke-IV, Satukan Lebih dari 1.500 Apoteker dalam Ajang Farmasi Terbesar di Indonesia
Miliki Logo Baru, Pyridam...
Miliki Logo Baru, Pyridam Farma Terus Berinovasi
EPO Daewoong Infion...
EPO Daewoong Infion Disebut Dapat Hemat Harga Obat Asuransi
Berita Terkini
SYAFIF 2026 di Banjarmasin,...
SYAFIF 2026 di Banjarmasin, Prudential Syariah Gencarkan Literasi Keuangan
12 menit yang lalu
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
31 menit yang lalu
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
1 jam yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
2 jam yang lalu
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
3 jam yang lalu
IHSG Kokoh di Zona Hijau,...
IHSG Kokoh di Zona Hijau, Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.933
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved