Industri tersendat lambannya proyek PLTU Batang

Rabu, 19 Maret 2014 - 20:17 WIB
Industri tersendat lambannya...
Industri tersendat lambannya proyek PLTU Batang
A A A
Sindonews.com - Berlarut-larutnya proses pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang, Jawa Tengah(Jateng) akan mengganggu iklim investasi di Jateng. Pasalnya, kebutuhan listrik dari tahun ke tahun terus meningkat, terutama untuk dunia usaha.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi mengatakan, tidak segera dibangunnya PLTU Batang sangat tidak menguntungkan. Salah satu persyaratan utama investasi yang mutlak, adanya ketersediaan tenaga listrik yang mencukupi.

"Tanpa listrik yang cukup bagaimana industri bisa berkembang," katanya kepada Koran Sindo, Rabu (19/3/2014).

Di sisi lain, saat ini sudah ada sembilan pabrik yang mengantre, dengan kebutuhan listrik tiap pabriknya bisa mencapai 40-50 Megawatt. Sehinga pembangunan PLTU Batang sudah mendesak untuk dibangun.

Menurutnya, dengan berlarut-larutnya proses pembebasan lahan untuk proyek PLTU Batang, saatnya pemerintah baik Kabupaten Batang maupun Provinsi Jateng turun tangan untuk membantu proses pembebasan lahan. Tanpa campur tangan pemerintah pembebasan lahan akan semakin berlarut-larut.

Dia mengatakan, pemerintah harus tegas dan bersikap adil kepada masyarkat yang selama ini masih tidak mau melepaskan tanahnya untuk pembangunan PLTU. Tegas di sini, kata Frans, pemerintah memiliki wewenangan untuk memaksa rakyat namun tetap adil. Memaksa dalam artian setelah pemerintah sudah melakukan berbagai upaya, namun tetap menemui jalan buntu.

"Pemerintah harus berani supaya rakyat juga memahami bahwa proyek itu untuk kepentingan orang banyak," katanya.

Alasan penolakan masyarkat yang takut terkena polusi dan akan merusak lingkungan adalah alasan klasik. Menurutnya, PLTU ini harus menerapkan teknologi tinggi, di mana akan menekan polusi. "Sekarang ini teknologi kan sudah maju, ketakutan masyarkat selama ini tidak mendasar dan hanya alasan klasik," katanya.

Justru, kata Dia, saat ini Indonesia seharusnya sudah mulai menggunakan listrik tenaga nuklir, seperti negar-negara berkembang lain. Jika terus mengandalkan listrik yang saat ini ada, akan terus kekurangan tenaga listrik.

Jika kekurangan tenaga listrik, investasi tidak akan berkembang. "Saya berfikir sekarang ini justru kita harus menggunakan listrik tenaga nuklir. Saya yakin pengamanan nuklir sudah oke. Kita punya Batan (Badan Atom Nasional), banyak orang Indonesia yang kerja di proyek nuklir di luar negeri, dari SDM kita sudah memiliki. Jadi saya pikir tenaga nuklir juga aman," katanya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
PLTU Barru OMU Berkomitmen...
PLTU Barru OMU Berkomitmen Catatkan Performa Optimal
Keterlambatan RKAB 2026...
Keterlambatan RKAB 2026 Dinilai Hambat Pasokan Batu Bara PLTU Jawa-Bali
Kantongi SLO, PLTA Poso...
Kantongi SLO, PLTA Poso Dukung Transisi ke Energi Terbarukan
PLN Bakal Lakukan Steam...
PLN Bakal Lakukan Steam Blow Proyek PLTU Sulsel Barru-2
PLTU Barru 2 Sukses...
PLTU Barru 2 Sukses Laksanakan Tahapan Backfeeding
Banjir Terjang Lokasi...
Banjir Terjang Lokasi Proyek PLTU Suralaya Akibat Curah Hujan Tinggi
Berita Terkini
SYAFIF 2026 di Banjarmasin,...
SYAFIF 2026 di Banjarmasin, Prudential Syariah Gencarkan Literasi Keuangan
9 menit yang lalu
Pasar Mulai Cemas, Mata...
Pasar Mulai Cemas, Mata Uang Rupee India Kehabisan Napas justru Saat Dolar AS Lemah
28 menit yang lalu
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
1 jam yang lalu
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
2 jam yang lalu
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
3 jam yang lalu
IHSG Kokoh di Zona Hijau,...
IHSG Kokoh di Zona Hijau, Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.933
3 jam yang lalu
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved