Penjualan Indofood meningkat 15%
Jum'at, 21 Maret 2014 - 21:41 WIB
Penjualan Indofood meningkat 15%
A
A
A
Sindonews.com - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) membukukan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp57,73 triliun atau naik 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp50,20 triliun.
Kontribusi penjualan tersebut dicapai dari lima kelompok usaha strategis (Grup) perseroan, seperti Grup Produk Konsumen Bermerek (CBP) 42 persen, Bogasari 26 persen, Agribisnis 20 persen, dan distirbusi 8 persen.
Direktur Utama dan CEO INDF Anthoni Salim mengatakan, grup budidaya dan pengolahan sayuran juga memberikan kontribusi sekitar 4 persen terhadap penjualan neto konsolidasi. “Grup CBP yang terdiri dari Divisi mie instan, dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus serta minuman juga berhasil tumbuh 14 persen,” ujar Anthoni dalam siaran persnya, Jumat (21/3/2014).
Dia menjelaskan, pertumbuhan itu didorong oleh seluruh divisi utama dalam grup dan kenaikan harga jual rata-rata. Total nilai penjualan grup bogasari juga naik 17,2 persen disebabkan naiknya harga jual rata-rata dan volume penjualan tepung terigu. Sementara untuk grup agribisnis mencatat penurunan total nilai penjualan sebesar 4,1 persen terutama karena penurunan penjualan produk minyak goreng.
“Grup distribusi mencatatkan kenaikan total penjualan sebesar 15,6 persen terutama didukung pertumbuhan penjualan Grup CBP,” katanya.
Sementara grup budidaya dan pengolahan sayuran pada periode September-Desember 2013 mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp2,11 triliun.
Perseroan juga berhasil mencatatkan laba bruto sebesar Rp14,33 triliun atau naik 5,4 persen dari tahun lalu sebesar Rp13,59 triliun. Sementara marjin laba bruto turun menjadi 24,8 persen dari 27,1 persen terutama disebabkan karena turunnya laba bruto yang dihasilkan oleh hampir seluruh Grup yang disebabkan naiknya beban bahan baku, beban gaji, upah, dan imbalan kerja karyawan serta utilitas, serta turunnya harga jual rata-rata pada Grup Agribisnis.
Anthoni menuturkan, laba usaha juga mengalami penurunan 2,3 persen dari Rp6,88 triliun menjadi Rp6,72 triliun. Sedangkan marjin laba bersih usaha turun menjadi 11,6 persen dari 13,7 persen karena kenaikan beban operasional terutama beban gaji, upah, dan imbalan kerja karyawan, beban pengangkutan dan penanganan, serta promosi dan periklanan.
Sama halnya dengan laba usaha, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 23,2 persen menjadi Rp2,5 triliun dari Rp3,27 triliun. Penurunan itu terutama disebabkan kerugian selisih kurs, marjin laba bersih turun dari 6,5 persen jadi 4,3 persen.
Tidak memperhitungkan akun non recurring dan selisih kurs, core profit naik 3 persen menjadi Rp3,37 triliun dari Rp3,27 triliun. “Kami senang kinerja kami terus menunjukan pertumbuhan positif sebagaimana tercermin dalam peningkatan core profit, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Kami akan tetap waspada dan berhati-hati dalam menentukan langkah yang akan diambil untuk mengejar pertumbuhan dan mempertahankan kinerja ke depan,” papar Anthoni.
Analis Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, produk mie sangat mempengaruhi kinerja ICBP. Karena itu, dia memandang berbagai inovasi yang dilakukan oleh ICBP sangat positif. "Saham ICBP cukup menarik untuk dikoleksi. Terutama kondisi fundamental yang sangat baik dan potensi pertumbuhan yang besar," ujar dia dalam risetnya.
Sementara itu, Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat merekomendasikan saham-saham sektor consumers pada tahun ini. Karena consumer spending pada 2014 diharapkan tumbuh besar dibanding 2013 akibat banyaknya kampanye politik, terutama di 1Q14 dan 2Q14.
“Cermati juga saham-saham dari sektor terkait dengan consumer, seperti ICBP. Sebab, secara histori spending atau belanja di sektor ini selalu meningkat setiap pemilu,” jelasnya.
Kontribusi penjualan tersebut dicapai dari lima kelompok usaha strategis (Grup) perseroan, seperti Grup Produk Konsumen Bermerek (CBP) 42 persen, Bogasari 26 persen, Agribisnis 20 persen, dan distirbusi 8 persen.
Direktur Utama dan CEO INDF Anthoni Salim mengatakan, grup budidaya dan pengolahan sayuran juga memberikan kontribusi sekitar 4 persen terhadap penjualan neto konsolidasi. “Grup CBP yang terdiri dari Divisi mie instan, dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus serta minuman juga berhasil tumbuh 14 persen,” ujar Anthoni dalam siaran persnya, Jumat (21/3/2014).
Dia menjelaskan, pertumbuhan itu didorong oleh seluruh divisi utama dalam grup dan kenaikan harga jual rata-rata. Total nilai penjualan grup bogasari juga naik 17,2 persen disebabkan naiknya harga jual rata-rata dan volume penjualan tepung terigu. Sementara untuk grup agribisnis mencatat penurunan total nilai penjualan sebesar 4,1 persen terutama karena penurunan penjualan produk minyak goreng.
“Grup distribusi mencatatkan kenaikan total penjualan sebesar 15,6 persen terutama didukung pertumbuhan penjualan Grup CBP,” katanya.
Sementara grup budidaya dan pengolahan sayuran pada periode September-Desember 2013 mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp2,11 triliun.
Perseroan juga berhasil mencatatkan laba bruto sebesar Rp14,33 triliun atau naik 5,4 persen dari tahun lalu sebesar Rp13,59 triliun. Sementara marjin laba bruto turun menjadi 24,8 persen dari 27,1 persen terutama disebabkan karena turunnya laba bruto yang dihasilkan oleh hampir seluruh Grup yang disebabkan naiknya beban bahan baku, beban gaji, upah, dan imbalan kerja karyawan serta utilitas, serta turunnya harga jual rata-rata pada Grup Agribisnis.
Anthoni menuturkan, laba usaha juga mengalami penurunan 2,3 persen dari Rp6,88 triliun menjadi Rp6,72 triliun. Sedangkan marjin laba bersih usaha turun menjadi 11,6 persen dari 13,7 persen karena kenaikan beban operasional terutama beban gaji, upah, dan imbalan kerja karyawan, beban pengangkutan dan penanganan, serta promosi dan periklanan.
Sama halnya dengan laba usaha, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 23,2 persen menjadi Rp2,5 triliun dari Rp3,27 triliun. Penurunan itu terutama disebabkan kerugian selisih kurs, marjin laba bersih turun dari 6,5 persen jadi 4,3 persen.
Tidak memperhitungkan akun non recurring dan selisih kurs, core profit naik 3 persen menjadi Rp3,37 triliun dari Rp3,27 triliun. “Kami senang kinerja kami terus menunjukan pertumbuhan positif sebagaimana tercermin dalam peningkatan core profit, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Kami akan tetap waspada dan berhati-hati dalam menentukan langkah yang akan diambil untuk mengejar pertumbuhan dan mempertahankan kinerja ke depan,” papar Anthoni.
Analis Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe mengatakan, produk mie sangat mempengaruhi kinerja ICBP. Karena itu, dia memandang berbagai inovasi yang dilakukan oleh ICBP sangat positif. "Saham ICBP cukup menarik untuk dikoleksi. Terutama kondisi fundamental yang sangat baik dan potensi pertumbuhan yang besar," ujar dia dalam risetnya.
Sementara itu, Kepala Riset Mandiri Sekuritas John Rachmat merekomendasikan saham-saham sektor consumers pada tahun ini. Karena consumer spending pada 2014 diharapkan tumbuh besar dibanding 2013 akibat banyaknya kampanye politik, terutama di 1Q14 dan 2Q14.
“Cermati juga saham-saham dari sektor terkait dengan consumer, seperti ICBP. Sebab, secara histori spending atau belanja di sektor ini selalu meningkat setiap pemilu,” jelasnya.
(dmd)
Lihat Juga :