Pengamat: Impor BBM tak bisa dihindari
Senin, 24 Maret 2014 - 17:06 WIB
Pengamat: Impor BBM tak bisa dihindari
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat perminyakan dari Universitas Indonesia (UI) Kurtubi menilai, opsi impor bahan bakar minyak (BBM) tidak dapat dihindari untuk menutupi defisit BBM sebesar 608 ribu barel per hari (bph).
Kalaupun kilang baru dibangun itu baru bisa beroperasi empat tahun kemudian, sehingga defisit BBM akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Direktur Center for Petroleum and Energy Economyc Studies (CPEES) ini menyarakankan untuk mencanangkan kebijakan swasembada BBM dalam negeri secara jangka panjang.
“Sekitar satu juta barel per hari bisa dibangun secara bertahap,” kata dia, Senin (24/3/2014).
Kurtubi menjelaskan, untuk membangun kilang dengan total 1 juta bph diproyeksikan harus mengeluarkan dana sekitar USD10 miliar. Pendanaannya bisa berasal dari keuntungan Pertamina yang tidak disetor dalam bentuk dividen, tapi bisa juga kerja sama dengan investor lokal.
Kilang-kilang, menurut dia, sebaiknya dibangun tersebar tidak hanya fokus di Jawa sebab pertumbuhan ekonomi di luar Jawa juga terus tumbuh.
“Demi ketahanan energi nasional, kilang harus segera dibangun,” pungkas Kurtubi.
Kilang yang dimiliki Pertamina saat ini, antara lain kilang Dumai, Sungai Pakning, Plaju, Cepu, Balikpapan, Kasim, Cilacap dan Balongan. Sedangkan milik swasta rencana dibangun, yakni TWU II akan dibangun di Cilacap.
Berdasarkan data Pertamina, produksi BBM kilang perseroan pada 2018 ditargetkan mencapai 66,70 juta kiloliter (kl), naik 64,3 persen dari target 2013, yang diperkirakan mencapai 40,60 juta kl. Produksi BBM dari kilang Pertamina sudah sesuai dengan asumsi adanya tambahan sekitar dua kilang baru saat ini masih terdapat enam unit kilang.
Kalaupun kilang baru dibangun itu baru bisa beroperasi empat tahun kemudian, sehingga defisit BBM akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Direktur Center for Petroleum and Energy Economyc Studies (CPEES) ini menyarakankan untuk mencanangkan kebijakan swasembada BBM dalam negeri secara jangka panjang.
“Sekitar satu juta barel per hari bisa dibangun secara bertahap,” kata dia, Senin (24/3/2014).
Kurtubi menjelaskan, untuk membangun kilang dengan total 1 juta bph diproyeksikan harus mengeluarkan dana sekitar USD10 miliar. Pendanaannya bisa berasal dari keuntungan Pertamina yang tidak disetor dalam bentuk dividen, tapi bisa juga kerja sama dengan investor lokal.
Kilang-kilang, menurut dia, sebaiknya dibangun tersebar tidak hanya fokus di Jawa sebab pertumbuhan ekonomi di luar Jawa juga terus tumbuh.
“Demi ketahanan energi nasional, kilang harus segera dibangun,” pungkas Kurtubi.
Kilang yang dimiliki Pertamina saat ini, antara lain kilang Dumai, Sungai Pakning, Plaju, Cepu, Balikpapan, Kasim, Cilacap dan Balongan. Sedangkan milik swasta rencana dibangun, yakni TWU II akan dibangun di Cilacap.
Berdasarkan data Pertamina, produksi BBM kilang perseroan pada 2018 ditargetkan mencapai 66,70 juta kiloliter (kl), naik 64,3 persen dari target 2013, yang diperkirakan mencapai 40,60 juta kl. Produksi BBM dari kilang Pertamina sudah sesuai dengan asumsi adanya tambahan sekitar dua kilang baru saat ini masih terdapat enam unit kilang.
(rna)
Lihat Juga :