Target pembangunan SPBG mobil di Surabaya molor
Senin, 24 Maret 2014 - 18:27 WIB
Target pembangunan SPBG mobil di Surabaya molor
A
A
A
Sindonews.com - Target pembangunan Mobile Refueling Unit (MRU) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) mobile milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dipastikan molor. Karena, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya belum memberikan izin penempatan lokasi.
"Rencananya memang bulan ini. Tapi kayaknya mundur, Bappeko belum mengizinkan," kata Manager Humas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) SBU Wilayah Distribusi II Jatim, Krisdyan Widagdo, Senin (24/3/2014).
Dodo panggilan akrab Krisdyan Widagdo mengatakan, hingga saat ini izin lokasi yang dibutuhkan dari pemkot belum juga turun. Padahal izin tersebut sangat dibutuhkan karena menentukan lokasi yang akan ditempati.
"Kami sudah mengajukan izin penempatan MRU di Tugu Pahlawan, tepat di tengah kota Surabaya. Tetapi Badan Perencanaan Kota Surabaya sepertinya memiliki pertimbangan lain, sehingga belum memberikan izin," ujarnya.
Menurutnya, pemilihan Tugu Pahlawan sebagai tempat mangkal MRU berdasarkan beberapa faktor yang menjadi pertimbangan. Diantaranya kemudahan akses dan kedekatan lokasi dengan calon pengguna BBG.
Apalagi, target utama pengguna BBG yaitu mobil operasional pemerintah, BUMN dan mobil angkutan umum atau dinas. Dengan demikian, lokasi yang harusnya dijadikan tempat mangkal MRU adalah lokasi yang dekat dengan gedung perkantoran pemerintah.
"Selain itu, pembangunan SPBG dan penempatan MRU ini kan juga harus disesuaikan dengan SPBG eksisting. Karena SPBG yang sudah ada sebagian besar berada di luar Surabaya, maka kami memilih di pusat kota, yaitu di Tugu Pahlawan," tegasnya.
Selain karena dekat dengan kantor pemerintah dan mudah dijangkau angkot, juga karena penempatan MRU ini tidak akan mengganggu wilayah monumental itu. Fakta Ini berdasarkan penempatan MRU di Tugu Monas Jakarta.
Sementara, General Manager PT PGN SBU Distribusi Wilayah II, Wahyudi Anas mengatakan, keberhasilan program konversi BBM ke gas harus ditunjang adanya infrastruktur pendukung serta kesiapan pasar dan pasokan. Karena tanpa ketiganya, program tersebut tidak akan jalan.
"Ini solusi jangka pendek untuk membuka pasar. Besarnya potensi pasar harus didorong melalui penyediaan MRU agar mereka tidak kesulitan ketika akan melakukan pengisian BBG. Karena sebenarnya potensi pasar gas transportasi di Indonesia cukup besar," ujarnya.
Saat ini, jumlah kendaraan di Indonesia sangat besar. Untuk motor misalnya mencapai 55,313 juta unit motor. Sementara mobil pribadi mencapai 11,338 juta unit, truk 5,867 unit dan bus mencapai 3,215 unit. Untuk angkot dan taksi mencapai 208.778 unit. Jumlah kendaraan yang sudah terkonversi mencapai 2.550 unit. Padahal cadangan gas di Indonesia mencapai 2.659 miliar.
"Indonesia negara dengan cadangan gas terbesar di Asia, tetapi jumlah kendaraan yang sudah menggunakan gas sangat kecil, terkecil di Asia. Di Pakistan misalnya, jumlah pasokan atau cadangan gas mencapai 792 juta meter kubik. Sementara jumlah kendaraan yang menggunakan BBG mencapai 2,3 juta unit," bebernya.
Sebenarnya, lanjut dia, konversi BBM ke BBG sangat menguntungkan. Selain bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap konsumsi BBM, juga akan menguntungkan konsumen karena tingkat efisiensinya cukup tinggi. Jika dibanding menggunakan Pertamax misalnya, efisiensi mencapai 70 persen dan jika dibanding premium efisiensi mencapai 52 persen.
"Dalam perhitungan kami, konsumsi premium untuk 10 liter mencapai Rp65.000, Pertamax mencapai Rp74.000. Sedangkan untuk gas hanya mencapai Rp31.000," pungkas dia.
"Rencananya memang bulan ini. Tapi kayaknya mundur, Bappeko belum mengizinkan," kata Manager Humas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) SBU Wilayah Distribusi II Jatim, Krisdyan Widagdo, Senin (24/3/2014).
Dodo panggilan akrab Krisdyan Widagdo mengatakan, hingga saat ini izin lokasi yang dibutuhkan dari pemkot belum juga turun. Padahal izin tersebut sangat dibutuhkan karena menentukan lokasi yang akan ditempati.
"Kami sudah mengajukan izin penempatan MRU di Tugu Pahlawan, tepat di tengah kota Surabaya. Tetapi Badan Perencanaan Kota Surabaya sepertinya memiliki pertimbangan lain, sehingga belum memberikan izin," ujarnya.
Menurutnya, pemilihan Tugu Pahlawan sebagai tempat mangkal MRU berdasarkan beberapa faktor yang menjadi pertimbangan. Diantaranya kemudahan akses dan kedekatan lokasi dengan calon pengguna BBG.
Apalagi, target utama pengguna BBG yaitu mobil operasional pemerintah, BUMN dan mobil angkutan umum atau dinas. Dengan demikian, lokasi yang harusnya dijadikan tempat mangkal MRU adalah lokasi yang dekat dengan gedung perkantoran pemerintah.
"Selain itu, pembangunan SPBG dan penempatan MRU ini kan juga harus disesuaikan dengan SPBG eksisting. Karena SPBG yang sudah ada sebagian besar berada di luar Surabaya, maka kami memilih di pusat kota, yaitu di Tugu Pahlawan," tegasnya.
Selain karena dekat dengan kantor pemerintah dan mudah dijangkau angkot, juga karena penempatan MRU ini tidak akan mengganggu wilayah monumental itu. Fakta Ini berdasarkan penempatan MRU di Tugu Monas Jakarta.
Sementara, General Manager PT PGN SBU Distribusi Wilayah II, Wahyudi Anas mengatakan, keberhasilan program konversi BBM ke gas harus ditunjang adanya infrastruktur pendukung serta kesiapan pasar dan pasokan. Karena tanpa ketiganya, program tersebut tidak akan jalan.
"Ini solusi jangka pendek untuk membuka pasar. Besarnya potensi pasar harus didorong melalui penyediaan MRU agar mereka tidak kesulitan ketika akan melakukan pengisian BBG. Karena sebenarnya potensi pasar gas transportasi di Indonesia cukup besar," ujarnya.
Saat ini, jumlah kendaraan di Indonesia sangat besar. Untuk motor misalnya mencapai 55,313 juta unit motor. Sementara mobil pribadi mencapai 11,338 juta unit, truk 5,867 unit dan bus mencapai 3,215 unit. Untuk angkot dan taksi mencapai 208.778 unit. Jumlah kendaraan yang sudah terkonversi mencapai 2.550 unit. Padahal cadangan gas di Indonesia mencapai 2.659 miliar.
"Indonesia negara dengan cadangan gas terbesar di Asia, tetapi jumlah kendaraan yang sudah menggunakan gas sangat kecil, terkecil di Asia. Di Pakistan misalnya, jumlah pasokan atau cadangan gas mencapai 792 juta meter kubik. Sementara jumlah kendaraan yang menggunakan BBG mencapai 2,3 juta unit," bebernya.
Sebenarnya, lanjut dia, konversi BBM ke BBG sangat menguntungkan. Selain bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap konsumsi BBM, juga akan menguntungkan konsumen karena tingkat efisiensinya cukup tinggi. Jika dibanding menggunakan Pertamax misalnya, efisiensi mencapai 70 persen dan jika dibanding premium efisiensi mencapai 52 persen.
"Dalam perhitungan kami, konsumsi premium untuk 10 liter mencapai Rp65.000, Pertamax mencapai Rp74.000. Sedangkan untuk gas hanya mencapai Rp31.000," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :