DBS prediksi inflasi RI tahun ini 6,4%
Rabu, 26 Maret 2014 - 16:03 WIB
DBS prediksi inflasi RI tahun ini 6,4%
A
A
A
Sindonews.com - Bank DBS meyakini inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) akan terus moderat, dan dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun lalu sudah mereda.
Ekonom dari Bank DBS, Gundy Cahyadi mengatakan, tren inflasi dari tiga komponen utama IHK yaitu pangan, perumahan/sarana, dan transportasi serta komunikasi terus menunjukkan tren menurun.
"Selain itu, inflasi inti menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi menurun. Dengan demikian, kami memperkirakan inflasi di angka 6,4 tahun ini," ungkap Gundy, Rabu (26/3/2014).
Meski demikian, kata dia, risiko inflasi pun masih tetap ada. Hal ini menyusul rencana pemerintah untuk meningkatkan tarif listrik untuk konsumen industri sekitar 8,6 hingga 13,3 persen setiap dua bulan mulai Mei.
"Dampak paling besar kemungkinan akan dirasakan pada perumahan atau sarana komponen IHK, meskipun dampak ke sektor lain selalu terjadi," imbuhnya.
Gundy menuturkan, perubahan yang diusulkan dari skema subsidi BBM juga perlu dipantau. Menurutnya, pemerintah akan mengalihkan subsidi menggunakan basis per liter. Harga BBM bersubsidi akan disesuaikan setiap bulan, sesuai dengan harga pasar.
Namun, pelaksanaan kebijakan ini pada 2014 kemungkinan tidak akan diimplementasikan melihat adanya pemilu. Dalam hal apapun, efek dasar yang tinggi dari tahun lalu menandakan bahwa tren inflasi IHK akan turun menuju 5 persen secara year on year (yoy) pada akhir tahun ini.
"Hal ini masih dalam zona aman Bank Indonesia (BI) dan secara signifikan lebih rendah dari angka 8 persen yang terlihat pada Desember tahun lalu," pungkasnya.
Ekonom dari Bank DBS, Gundy Cahyadi mengatakan, tren inflasi dari tiga komponen utama IHK yaitu pangan, perumahan/sarana, dan transportasi serta komunikasi terus menunjukkan tren menurun.
"Selain itu, inflasi inti menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi menurun. Dengan demikian, kami memperkirakan inflasi di angka 6,4 tahun ini," ungkap Gundy, Rabu (26/3/2014).
Meski demikian, kata dia, risiko inflasi pun masih tetap ada. Hal ini menyusul rencana pemerintah untuk meningkatkan tarif listrik untuk konsumen industri sekitar 8,6 hingga 13,3 persen setiap dua bulan mulai Mei.
"Dampak paling besar kemungkinan akan dirasakan pada perumahan atau sarana komponen IHK, meskipun dampak ke sektor lain selalu terjadi," imbuhnya.
Gundy menuturkan, perubahan yang diusulkan dari skema subsidi BBM juga perlu dipantau. Menurutnya, pemerintah akan mengalihkan subsidi menggunakan basis per liter. Harga BBM bersubsidi akan disesuaikan setiap bulan, sesuai dengan harga pasar.
Namun, pelaksanaan kebijakan ini pada 2014 kemungkinan tidak akan diimplementasikan melihat adanya pemilu. Dalam hal apapun, efek dasar yang tinggi dari tahun lalu menandakan bahwa tren inflasi IHK akan turun menuju 5 persen secara year on year (yoy) pada akhir tahun ini.
"Hal ini masih dalam zona aman Bank Indonesia (BI) dan secara signifikan lebih rendah dari angka 8 persen yang terlihat pada Desember tahun lalu," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :