Pengusaha keluhkan buruknya infrastruktur di Jateng
Rabu, 26 Maret 2014 - 18:10 WIB
Pengusaha keluhkan buruknya infrastruktur di Jateng
A
A
A
Sindonews.com - Berdasarkan hasil survai dan Liason yang dilakukan Bank Indonesia (BI), sejumlah pelaku usaha di Jawa Tengah (Jateng) mengeluhkan kondisi infrastruktur, terutama jalan dan pelabuhan yang masih buruk.
Dengan kondisi ini, para pengusaha pun berharap pembenahan infrastruktur harus menjadi prioritas utama untuk mendukung kegiatan usaha.
"Permasalahan infrastruktur merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam menggerakan perekonomian. Kondisi tersebut sejalan dengan asesmen yang kami lakukan secara periode setiap triwulan serta riset dan kajian mengenai ekonomi di Jateng," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V Jateng dan DIY Sutikno, disela-sela Diskusi Forum Ekonomi dan Bisnis Jateng di Gedung BI, Rabu (26/3/2014).
Menurut dia, dengan masih belum memadainya kondisi infrastruktur terutama jalan di Jawa Tengah, saat ini yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah salah satunya jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan perekonomian.
Contohnya, peningkatan konektivitas yang menghubungkan utara dan selatan Jawa Tengah. Diakui Sutikno, di Jawa Tengah telah memiliki beberapa infrastruktur dasar (fisik) yang diperlukan, seperti bandara, pelabuhan, jalur Kereta Api, dan jalan tol. Hanya saja, kapasitas infrastruktur tersebut masih jauh dari kata layak.
"Dibandingkan dengan Jawa Barat dan Jawa Timur kondisi infrastruktur Jateng relatif masih tertinggal," jelasnya.
Sementara, berdasarkan data APBD Provinsi Jateng, pemerintah telah menaikan alokasi anggaran perbaikan infrastruktur menjadi Rp2,8 triliun atau naik 83 persen dibandingkan tahun lalu.
Porsi anggaran perbaikan infrastruktur tersebut mencapai 55,3 persen dari total belanja langsung atau 16,45 persen dari total APBD Jateng tahun ini sebesar Rp13,90 triliun. "Hal ini perlu mendapatkan dukungan dari kita semua termasuk pelaku usaha," uajrnya.
Masih buruknya infrastruktur di Jateng ini sangat dirasakan kalangan pengusaha. Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Jateng, Rio Rianto mengaku, kondisi jalan dan pelabuhan yang belum ideal membuat dunia usaha sulit untuk berkembang.
Di sisi lain, buruknya infrastruktur jalan, juga berdampak pada pembiayaan atau delivery cost. "Pengiriman barang jadi terlambat, biayanya menjadi semakin mahal," katanya.
Hal yang sama diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi. Menurutnya, pemerintah harus gerak cepat untuk melakukan perbaikan infrastruktur.
"Kita memang sudah punya bandara dan pelabuhan, tetapi kondisinya sangat tidak layak. Bandara harus diperlebar atau dipindahkan, pelabuhan infrastrukturnya harus dibenahi untuk menunjang dunia usah," pungkas dia.
Dengan kondisi ini, para pengusaha pun berharap pembenahan infrastruktur harus menjadi prioritas utama untuk mendukung kegiatan usaha.
"Permasalahan infrastruktur merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam menggerakan perekonomian. Kondisi tersebut sejalan dengan asesmen yang kami lakukan secara periode setiap triwulan serta riset dan kajian mengenai ekonomi di Jateng," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah V Jateng dan DIY Sutikno, disela-sela Diskusi Forum Ekonomi dan Bisnis Jateng di Gedung BI, Rabu (26/3/2014).
Menurut dia, dengan masih belum memadainya kondisi infrastruktur terutama jalan di Jawa Tengah, saat ini yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah salah satunya jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan perekonomian.
Contohnya, peningkatan konektivitas yang menghubungkan utara dan selatan Jawa Tengah. Diakui Sutikno, di Jawa Tengah telah memiliki beberapa infrastruktur dasar (fisik) yang diperlukan, seperti bandara, pelabuhan, jalur Kereta Api, dan jalan tol. Hanya saja, kapasitas infrastruktur tersebut masih jauh dari kata layak.
"Dibandingkan dengan Jawa Barat dan Jawa Timur kondisi infrastruktur Jateng relatif masih tertinggal," jelasnya.
Sementara, berdasarkan data APBD Provinsi Jateng, pemerintah telah menaikan alokasi anggaran perbaikan infrastruktur menjadi Rp2,8 triliun atau naik 83 persen dibandingkan tahun lalu.
Porsi anggaran perbaikan infrastruktur tersebut mencapai 55,3 persen dari total belanja langsung atau 16,45 persen dari total APBD Jateng tahun ini sebesar Rp13,90 triliun. "Hal ini perlu mendapatkan dukungan dari kita semua termasuk pelaku usaha," uajrnya.
Masih buruknya infrastruktur di Jateng ini sangat dirasakan kalangan pengusaha. Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Jateng, Rio Rianto mengaku, kondisi jalan dan pelabuhan yang belum ideal membuat dunia usaha sulit untuk berkembang.
Di sisi lain, buruknya infrastruktur jalan, juga berdampak pada pembiayaan atau delivery cost. "Pengiriman barang jadi terlambat, biayanya menjadi semakin mahal," katanya.
Hal yang sama diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi. Menurutnya, pemerintah harus gerak cepat untuk melakukan perbaikan infrastruktur.
"Kita memang sudah punya bandara dan pelabuhan, tetapi kondisinya sangat tidak layak. Bandara harus diperlebar atau dipindahkan, pelabuhan infrastrukturnya harus dibenahi untuk menunjang dunia usah," pungkas dia.
(izz)
Lihat Juga :