Tanpa peningkatan produksi minyak Indonesia mandeg
Minggu, 20 April 2014 - 18:45 WIB
Tanpa peningkatan produksi minyak Indonesia mandeg
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Energi Darmawan Prasodjo mengatakan, Blok Cepu ditargetkan berproduksi 165.000 barel per hari pada Juli 2014.
Namun hal itu mundur akibat dari berbagai kendala seperti lahan dan cuaca buruk yang terjadi pada Januari silam sehingga pemerintah mau tidak mau harus merubah target produksi siap jual tahun ini yang ditetapkan 870.000 bph dalam Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN) 2014.
“Tapi sebenarnya begini, rendahnya target lifting disebabkan tidak terjalin komunikasi efektif antar lembaga, semua hanya mau main sendiri-sendiri,” kata dia, Minggu (20/4/2014).
Dia meminta kepada pemerintah dan SKK Migas menciptakan strategi terpadu dalam melakukan pengawasan terhadap perusahaan yang bergerak di bidang energi. Tidak lantas hanya terfokus pada Blok Cepu saja tapi semua kontraktror kontrak kerjasama harus diawasi dengan benar dan terpadu untuk menggenjot produksi minyak secara berkala.
“Jika ini diterapkan saya yakin masalah produksi minyak akan teratasi,” kata dia.
Menurut dia, produksi minyak sangat penting untuk terus ditingkatkan karena tanpa strategi lifting maka ketika produksi minyak berhenti maka tidak ada lagi yang menopang APBN. “Kalau lifting berhenti, APBN mandeg. Njengkelit Indonesia,” ujarnya.
Tidak hanya itu, menurut Darmawan karakter kemandirian tata kelola migas harus diubah. Bukan berarti anti terhadap asing namun porsi domestik harus lebih besar daripada asing.
“Nasionalisme diletakkan terukur dan rasional. Contoh saja Malaysia, mereka njiplak kemadirian Bung Karno mereka sukses sekarang produksinya mencapai 80 persen,” kata dia.
Namun hal itu mundur akibat dari berbagai kendala seperti lahan dan cuaca buruk yang terjadi pada Januari silam sehingga pemerintah mau tidak mau harus merubah target produksi siap jual tahun ini yang ditetapkan 870.000 bph dalam Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN) 2014.
“Tapi sebenarnya begini, rendahnya target lifting disebabkan tidak terjalin komunikasi efektif antar lembaga, semua hanya mau main sendiri-sendiri,” kata dia, Minggu (20/4/2014).
Dia meminta kepada pemerintah dan SKK Migas menciptakan strategi terpadu dalam melakukan pengawasan terhadap perusahaan yang bergerak di bidang energi. Tidak lantas hanya terfokus pada Blok Cepu saja tapi semua kontraktror kontrak kerjasama harus diawasi dengan benar dan terpadu untuk menggenjot produksi minyak secara berkala.
“Jika ini diterapkan saya yakin masalah produksi minyak akan teratasi,” kata dia.
Menurut dia, produksi minyak sangat penting untuk terus ditingkatkan karena tanpa strategi lifting maka ketika produksi minyak berhenti maka tidak ada lagi yang menopang APBN. “Kalau lifting berhenti, APBN mandeg. Njengkelit Indonesia,” ujarnya.
Tidak hanya itu, menurut Darmawan karakter kemandirian tata kelola migas harus diubah. Bukan berarti anti terhadap asing namun porsi domestik harus lebih besar daripada asing.
“Nasionalisme diletakkan terukur dan rasional. Contoh saja Malaysia, mereka njiplak kemadirian Bung Karno mereka sukses sekarang produksinya mencapai 80 persen,” kata dia.
(gpr)
Lihat Juga :