China diprediksi salip ekonomi AS lebih cepat

Kamis, 01 Mei 2014 - 18:25 WIB
China diprediksi salip...
China diprediksi salip ekonomi AS lebih cepat
A A A
Sindonews.com - China siap mengambil alih posisi Amerika Serikat (AS) sebagai ekonomi terbesar di dunia lebih cepat dari perkiraan. Namun, kabar itu tidak membuat beberapa orang di China gembira. Mereka lebih suka memiliki udara bersih dan kebebasan.

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis (1/5/2014), Bank Dunia menerbitkan sebuah studi besar tentang peringkat penciptaan kekayaan nasional atas dasar angka pada 2011.

Hal itu dilakukan dengan beberapa organisasi internasional untuk membandingkan angka produksi nasional secara nominal dan juga mencerminkan perbedaan dalam daya beli atau paritas daya beli (purchasing power parity/PPP).

Produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2011 tercatat sebesar USD15,533 triliun, lebih dari dua kali China USD7,321 triliun. Namun, setelah disesuaikan PPP, angka untuk China naik menjadi USD13,495 triliun, berarti raksasa Asia itu bisa menyalip AS lebih cepat.

Pemerintah komunis di masa lalu mengecilkan pembicaraan, mereka tertarik bukan untuk menekankan secara per kapita, warga di sana tetap jauh di belakang negara-negara terkaya di dunia. Tapi ada skeptisisme, dan sinisme di antara pengguna media sosial di China.

"Mereka berbicara tentang PPP, bukan PDB. Selama ini PDB China masih jauh di belakang AS," tulis salah seorang pengguna media sosial Sina Weibo, media Twitter versi China.

Beberapa pengguna Weibo menyampaikan lebih tertarik pada indikator nyata berkaitan dengan kualitas hidup. "Berpenghasilan rendah, tidak bisa bernapas bebas, tidak ada kebebasan, mengapa saya harus peduli. Bahkan jika jadi No 1 di alam semesta? Belum lagi No 1 di bumi," tulis seorang pengguna yang lain.

Gebrakan ekonomi China membawa masalah pada lingkungan, dengan sebagian besar negara berulang kali diselimuti kabut asap tebal, serta saluran air dan tanah yang tercemar.

Salah satu pengguna Weibo menyatakan, peringkat seperti itu lebih diawasi ketat di luar negeri daripada di China. "Tidak ada laporan tentang negeri ini, hanya media asing selalu berbicara tentang hal itu," tandasnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
25 menit yang lalu
DPR Solid Tolak Aturan...
DPR Solid Tolak Aturan Kemasan Polos Produk Tembakau dari Kemenkes
1 jam yang lalu
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
1 jam yang lalu
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
11 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
11 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
12 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved