Sentimen ini bikin rupiah menguat
Minggu, 04 Mei 2014 - 12:24 WIB
Sentimen ini bikin rupiah menguat
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan pekan ini berhasil ditutup positif, berbanding terbalik dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, sejumlah sentimen dari luar negeri memberi amunisi bagi laju rupiah sepanjang pekan ini. Misalnya, rilis kinerja dari sejumlah emiten yang di bawah estimasi dan rilis penurunan markit service PMI AS.
"Selain itu, potensi ketegangan di Ukraina memberi tambahan sentimen negatif bagi USD," kata dia, Minggu (4/5/2014).
Dia menjelaskan, pelaku pasar sepanjang pekan ini cenderung dalam posisi wait & see terhadap rilis data-data terkait pending home sales dan ekspektasi data AS lainnya, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara Paman Sam tersebut.
Adapun laju rupiah menjelang libur Hari Buruh International (may Day) pada 1 Mei lalu menguat seiring respon pelaku pasar terhadap rilis lebih rendahnya CB consumer confidence dan Case Shiller home price AS yang membuat nilai USD bergerak melemah.
Di samping itu, belum terlalu kuatnya data-data ekonomi AS membuat banyak spekulasi di pasar akan tertundanya pemangkasan stimulus, sehingga nilai USD melemah dan dimanfaatkan oleh laju mata uang lainnya, termasuk rupiah untuk menguat.
"Terapresiasinya rupiah juga didukung pernyataan World Bank yang menanggapi positif adaptasi pengelolaan risiko Indonesia. Rupiah bertahan di atas target support Rp11.617. Rupiah dalam kisaran Rp11.605-11.528 berdasarkan kurs tengah BI (Bank Indonesia)," tutur dia.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari Senin (28/4/2014) berada di level Rp11.568 per USD. Sementara pada Jumat (2/5/2014), rupiah menguat ke Rp11.537 per USD.
Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, sejumlah sentimen dari luar negeri memberi amunisi bagi laju rupiah sepanjang pekan ini. Misalnya, rilis kinerja dari sejumlah emiten yang di bawah estimasi dan rilis penurunan markit service PMI AS.
"Selain itu, potensi ketegangan di Ukraina memberi tambahan sentimen negatif bagi USD," kata dia, Minggu (4/5/2014).
Dia menjelaskan, pelaku pasar sepanjang pekan ini cenderung dalam posisi wait & see terhadap rilis data-data terkait pending home sales dan ekspektasi data AS lainnya, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara Paman Sam tersebut.
Adapun laju rupiah menjelang libur Hari Buruh International (may Day) pada 1 Mei lalu menguat seiring respon pelaku pasar terhadap rilis lebih rendahnya CB consumer confidence dan Case Shiller home price AS yang membuat nilai USD bergerak melemah.
Di samping itu, belum terlalu kuatnya data-data ekonomi AS membuat banyak spekulasi di pasar akan tertundanya pemangkasan stimulus, sehingga nilai USD melemah dan dimanfaatkan oleh laju mata uang lainnya, termasuk rupiah untuk menguat.
"Terapresiasinya rupiah juga didukung pernyataan World Bank yang menanggapi positif adaptasi pengelolaan risiko Indonesia. Rupiah bertahan di atas target support Rp11.617. Rupiah dalam kisaran Rp11.605-11.528 berdasarkan kurs tengah BI (Bank Indonesia)," tutur dia.
Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari Senin (28/4/2014) berada di level Rp11.568 per USD. Sementara pada Jumat (2/5/2014), rupiah menguat ke Rp11.537 per USD.
(rna)