Pemerintah dinilai tak adil soal smelter

Rabu, 14 Mei 2014 - 18:56 WIB
Pemerintah dinilai tak...
Pemerintah dinilai tak adil soal smelter
A A A
Sindonews.com - PT Indosmelt dan Nusantara Smelting Corporation selaku pengembang pembangunan pabrik pemurnian (smelter) konsentrat tembaga menilai pemerintah tidak adil.

Pihaknya menilai pemerintah terlalu berpihak kepada PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terkait pasokan bahan baku yang akan didapatkan dari PT Freeport Indonesia (Freeport) dan PT Newmont Nusa Tenggara (Newmont).

Persoalannya, kata Direktur Nusantara Smelting Corporation Juangga Manggis, hingga sebelum 10 Januari 2014, pihaknya sudah menandatangani CSPA. Meski angkanya belum ditetapkan, namun dipastikan akan ditindaklanjuti.

"Tiba-tiba datang skenario baru, Antam gabung. Tapi tolong hak kita dihormati sesuai etika bisnis. Walaupun kita enggak masalah dia (Antam) gabung, tapi hak kita tolong diperhatikan," ujarnya di Jakarta, Rabu (14/5/2014).

Menurutnya, pemerintah sebagai regulator harusnya memperhatikan hak dari tiga perusahaan yang berniat mendirikan smelter dengan hak yang sama. Namun, pemerintah justru memberikan hak lebih kepada Antam dengan 1,6 juta ton pasokan bahan baku yang didapat dari Freeport dan Newmont.

"Tapi 1,6 juta ton diambil semua sama skenario ketiga. Apakah ya pemerintah memilih risiko dan apa itu keputusan baik. Saya minta 800 ribu ton, Pak Natsir Mansyur (Dirut PT Indosmelt) 500 ribu ton. Bahkan saya kalau enggak bisa 800 ribu ton, disamakan saja sama Pak Natsir. Tapi deadlock trus," tambahnya.

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk bertindak adil dan menjadi regulator yang melihat permasalahan ini dengan lebih jernih.

"Secara adil alokasikan ketersediaan bahan baku untuk sediakan ketiga skenario yang punya niat baik. Dan proses ini sudah berjalan, dengan ada cost. Tolong kembalikan pemerintah fungsinya jadi regulator dan keadilan," terangnya.

Senada dengan Juangga, Natsir mengatakan, pemerintah seharusnya berperan sebagai regulator dan bukan bertindak sebagai player dengan berpihak pada Antam.

"Karena itu yang kita harapkan, pemerintah harusnya sebagai regulator. Menurut pengamatan, pemerintah justru bertindak sebagai player dan berpihak kepada Antam. Jadi pembangunan smelter tidak jalan, ekspor Freeport tidak jalan. Terjadi stagnasi akibat pemerintah tidak cerdas me-manage neraca bahan baku kita," tutur dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkini
Tak Hanya di Bali, PFII...
Tak Hanya di Bali, PFII Juga Akan Dibangun di Jakarta
6 menit yang lalu
SPKS Dorong Riset BPDP...
SPKS Dorong Riset BPDP Hasilkan Teknologi Murah untuk Petani Sawit
54 menit yang lalu
Transformasi IFG Tak...
Transformasi IFG Tak Hanya Streamlining, Tapi Perkuat Tata Kelola Investasi
1 jam yang lalu
Danantara Pangkas Ribuan...
Danantara Pangkas Ribuan BUMN Jadi 200-300 Entitas, Langkah Rasional Selamatkan Aset Negara
1 jam yang lalu
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Lifting Perdana BBM B50, dari Kilang Kasim dan Plaju
1 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved