Ini Tantangan yang Harus Dihadapi RI
Jum'at, 06 Juni 2014 - 15:55 WIB
Ini Tantangan yang Harus Dihadapi RI
A
A
A
JAKARTA - Pengusaha muda Sandiaga Uno mengatakan, Indonesia memiliki kondisi pasar menjanjikan. Di mana, risiko di Indonesia lebih rendah dengan margin tinggi.
Misalnya, bidang pertambangan dengan margin tinggi, namun nilai investasi rendah dan persaingannya tidak terlalu besar. Indonesia pun dinilai termasuk negara yang memiliki potensi baik.
Meski demikian, kata dia, banyak tantangan yang harus diperbaiki dalam membangun potensi perekonomian Indonesia.
"Namun, kita memiliki tantangan karena tingkat kompetitif kita paling rendah, daya saing di nomor 38, tidak naik tidak turun di dua tahun terakhir ini. Kita melihat menjadi perusahaan inovatif dan asupan teknologinya baik, belum tentu dapat mendorong perusahaan menjadi kompetitif," ujarnya di Hotel Amos Cozy, Jakarta, Jumat (6/6/2014).
Sandiaga mengatakan, tantangan berikutnya di saat memulai usaha. Di mana, langkah memulai usaha terbilang ironis.
"Indonesia kini berada di 10 besar ekonomi dunia, tapi kemudahan usaha berada di nomor 120, ibaratnya kalau ada secara size, ekonomi kita berada di liga premium legue, tapi kemudahan usahanya ada di liga tarkam (antar kampung)," ujarnya.
Dia mengatakan, bahwa hal ini yang mejadi hambatan bagi pengusaha, masalah di sektor birokrasi tersebut tidak pernah terselesaikan.
"Di sini tantangan kita yaitu meningkatkan kemampuan usaha kita minimanal di 50 besar dunia," katanya.
Selain itu, logistik dan infrastruktur juga menjadi tantangan bangsa ini. Logistik dan infrastruktur Indonesia 30% daripada ongkos produksi. Dibandingkan negara lain, yang kurang lebih setengah 10-15%, Indonesia memiliki nilai yang cukup tinggi untuk masalah logistik dan infrastruktur.
"Ini dapat mengakibatkan produk-produk di Indonesia mahal. Biaya ongkos kirim dari Jakarta ke Medan lebih mahal daripada dari Jakarta kirim ke Hongkong. Biaya logistik ini bahkan bisa 50% daripada total biaya," pungkasnya.
Misalnya, bidang pertambangan dengan margin tinggi, namun nilai investasi rendah dan persaingannya tidak terlalu besar. Indonesia pun dinilai termasuk negara yang memiliki potensi baik.
Meski demikian, kata dia, banyak tantangan yang harus diperbaiki dalam membangun potensi perekonomian Indonesia.
"Namun, kita memiliki tantangan karena tingkat kompetitif kita paling rendah, daya saing di nomor 38, tidak naik tidak turun di dua tahun terakhir ini. Kita melihat menjadi perusahaan inovatif dan asupan teknologinya baik, belum tentu dapat mendorong perusahaan menjadi kompetitif," ujarnya di Hotel Amos Cozy, Jakarta, Jumat (6/6/2014).
Sandiaga mengatakan, tantangan berikutnya di saat memulai usaha. Di mana, langkah memulai usaha terbilang ironis.
"Indonesia kini berada di 10 besar ekonomi dunia, tapi kemudahan usaha berada di nomor 120, ibaratnya kalau ada secara size, ekonomi kita berada di liga premium legue, tapi kemudahan usahanya ada di liga tarkam (antar kampung)," ujarnya.
Dia mengatakan, bahwa hal ini yang mejadi hambatan bagi pengusaha, masalah di sektor birokrasi tersebut tidak pernah terselesaikan.
"Di sini tantangan kita yaitu meningkatkan kemampuan usaha kita minimanal di 50 besar dunia," katanya.
Selain itu, logistik dan infrastruktur juga menjadi tantangan bangsa ini. Logistik dan infrastruktur Indonesia 30% daripada ongkos produksi. Dibandingkan negara lain, yang kurang lebih setengah 10-15%, Indonesia memiliki nilai yang cukup tinggi untuk masalah logistik dan infrastruktur.
"Ini dapat mengakibatkan produk-produk di Indonesia mahal. Biaya ongkos kirim dari Jakarta ke Medan lebih mahal daripada dari Jakarta kirim ke Hongkong. Biaya logistik ini bahkan bisa 50% daripada total biaya," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :