Pelindo Beli 11 ARTG untuk Modernisasi Pelabuhan
Jum'at, 06 Juni 2014 - 21:05 WIB
Pelindo Beli 11 ARTG untuk Modernisasi Pelabuhan
A
A
A
SEMARANG - Arus pertumbuhan petikemas di Terminal Petikemas Semarang (TPKS) menghalami tren positif. PT Pelabuhan Indonesia memutuskan untuk menginvestasikan anggaran sebesar USD 24,28 juta untuk kelancaran TPS.
Pelindo akan membeli 11 Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG) dari Konecranes, Finlandia. Pembelian ini untuk meningkatkan produktivitas bila melihat troughput pada 2013 sudah mencapai 498.717 TEU’s ditambah 566 call.
Pada 2012 troughput petikemas di TPKS baru 457.152, dan diperkirakan lima tahun kedepan sudah menembus 800 ribu-1 juta TEU’s. “Pembelian alat ini untuk memodernkan peralatan yang ada di pelabuhan,” kata Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha (KPU) PT Pelindo III, Husein Latief, Jumat (6/6/2014).
Husein mengatakan, keberadaan alat ini juga bertujuan untuk menciptakan eco green port (pelabuhan ramah lingkungan) di lingkungan Pelindo III. Karena, tingkat efisien biaya yang diperoleh cukup besar. Apalagi, ARTG ini sudah menggunakan listrik dan dipastikan cost saving sekitar 40%.
Peralatan ARTG ini diperkirakan mampu membongkar 20 box crane hour (BCH/boks perjam) atau lebih banyak dibanding alat konvensional yang hanya 11 BCH. Selain itu, ARTG ini sudah dioperasikan menggunakan listrik dengan suplai energi mencapai 10-11 MW secara total.
“Kita sudah bekerja sama dengan PLN tentang tambahan energi di pelabuhan,” ujarnya.
Dari perkiraan yang ada, pada 2015 sebelas alat ini akan tiba di TPKS. Sebelas unit ARTG akan menggantikan peralatan lama yang akan direlokasi ke Sampit (Kalimantan Tengah) atau Kupang (Nusa Tenggara Timur).
Untuk mekanisme pendanaan, Pelindo III masih menggunakan dana internal. ”Kita masih menggunakan dana internal. Itu sementara. Kalau nanti sudah jatuh tempo, ya kita menggunakan global bond,” ungkapnya.
Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto menambahkan, saat ini peralatan ini paling canggih. Karena, ARTG ini dioperasikan melalui komputer dengan sumber energi utama adalah listrik.
”Crane sudah dilengkapi dengan sensor untuk mendeteksi kontainer secara otomatis, untuk dipindahkan dari truck ke lapangan penumpukan atau sebaliknya,” katanya.
Jika ARTG tetap menggunakan roda karet seperti RTG konvensional. Bedanya jalur untuk roda dibangun beton sebagai landasan. Beton tersebut bisa diangkat atau dipindahkan sesuai jalur yang dilalui ARTG.
Pelindo akan membeli 11 Automated Rubber Tyred Gantry (ARTG) dari Konecranes, Finlandia. Pembelian ini untuk meningkatkan produktivitas bila melihat troughput pada 2013 sudah mencapai 498.717 TEU’s ditambah 566 call.
Pada 2012 troughput petikemas di TPKS baru 457.152, dan diperkirakan lima tahun kedepan sudah menembus 800 ribu-1 juta TEU’s. “Pembelian alat ini untuk memodernkan peralatan yang ada di pelabuhan,” kata Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha (KPU) PT Pelindo III, Husein Latief, Jumat (6/6/2014).
Husein mengatakan, keberadaan alat ini juga bertujuan untuk menciptakan eco green port (pelabuhan ramah lingkungan) di lingkungan Pelindo III. Karena, tingkat efisien biaya yang diperoleh cukup besar. Apalagi, ARTG ini sudah menggunakan listrik dan dipastikan cost saving sekitar 40%.
Peralatan ARTG ini diperkirakan mampu membongkar 20 box crane hour (BCH/boks perjam) atau lebih banyak dibanding alat konvensional yang hanya 11 BCH. Selain itu, ARTG ini sudah dioperasikan menggunakan listrik dengan suplai energi mencapai 10-11 MW secara total.
“Kita sudah bekerja sama dengan PLN tentang tambahan energi di pelabuhan,” ujarnya.
Dari perkiraan yang ada, pada 2015 sebelas alat ini akan tiba di TPKS. Sebelas unit ARTG akan menggantikan peralatan lama yang akan direlokasi ke Sampit (Kalimantan Tengah) atau Kupang (Nusa Tenggara Timur).
Untuk mekanisme pendanaan, Pelindo III masih menggunakan dana internal. ”Kita masih menggunakan dana internal. Itu sementara. Kalau nanti sudah jatuh tempo, ya kita menggunakan global bond,” ungkapnya.
Kepala Humas PT Pelindo III Edi Priyanto menambahkan, saat ini peralatan ini paling canggih. Karena, ARTG ini dioperasikan melalui komputer dengan sumber energi utama adalah listrik.
”Crane sudah dilengkapi dengan sensor untuk mendeteksi kontainer secara otomatis, untuk dipindahkan dari truck ke lapangan penumpukan atau sebaliknya,” katanya.
Jika ARTG tetap menggunakan roda karet seperti RTG konvensional. Bedanya jalur untuk roda dibangun beton sebagai landasan. Beton tersebut bisa diangkat atau dipindahkan sesuai jalur yang dilalui ARTG.
(gpr)
Lihat Juga :