Harga Minyak Dunia Naik Jelang Laporan AS
Rabu, 18 Juni 2014 - 20:40 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Jelang Laporan AS
A
A
A
LONDON - Harga minyak di perdagangan global hari ini masih bertahan di jalur hijau menjelang laporan kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) AS dan kondisi geopolitik di produsen minyak mentah Irak.
Berdasarkan data Bloomberg, patokan AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, naik 30 sen menjadi USD106,66 per barel. Sebelumnya, di perdagangan Asia sempat berada di angka US106,93 per barel. Sementara minyak mentah Brent Nort Sea untuk Agustus naik 12 sen menjadi USD113,57 per barel.
Dilansir dari New Vision, Rabu (18/6/2014), United Overseas Bank (UOB) Singapura melihat perdagangan akan didominasi pernyataan kebijakan Fed yang akan dirilis Rabu waktu setempat, setelah pertemuan kunci dua hari.
FOMC bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan kebijakan menjaga tingkat suku bunga dan langkah pengurangan program stimulus moneter.
Sementara Bank Prancis, Credit Agricole memandang investor akan fokus pada proyeksi The Fed atas pertumbuhan ekonomi AS, pengangguran, inflasi dan perkiraan waktu kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, investor gelisah atas kekerasan sektarian di Irak. Di mana para pemberontak telah menguasai sebagian besar wilayah utara Irak. Mereka mengancam akan menguasai wilayah selatan negara itu yang dikenal sebagai lumbung minyak.
Berdasarkan data Bloomberg, patokan AS, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli, naik 30 sen menjadi USD106,66 per barel. Sebelumnya, di perdagangan Asia sempat berada di angka US106,93 per barel. Sementara minyak mentah Brent Nort Sea untuk Agustus naik 12 sen menjadi USD113,57 per barel.
Dilansir dari New Vision, Rabu (18/6/2014), United Overseas Bank (UOB) Singapura melihat perdagangan akan didominasi pernyataan kebijakan Fed yang akan dirilis Rabu waktu setempat, setelah pertemuan kunci dua hari.
FOMC bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan kebijakan menjaga tingkat suku bunga dan langkah pengurangan program stimulus moneter.
Sementara Bank Prancis, Credit Agricole memandang investor akan fokus pada proyeksi The Fed atas pertumbuhan ekonomi AS, pengangguran, inflasi dan perkiraan waktu kenaikan suku bunga.
Di sisi lain, investor gelisah atas kekerasan sektarian di Irak. Di mana para pemberontak telah menguasai sebagian besar wilayah utara Irak. Mereka mengancam akan menguasai wilayah selatan negara itu yang dikenal sebagai lumbung minyak.
(dmd)
Lihat Juga :