DJP Tak Ingin Pisah dari Kemenkeu

Jum'at, 08 Agustus 2014 - 11:49 WIB
DJP Tak Ingin Pisah...
DJP Tak Ingin Pisah dari Kemenkeu
A A A
JAKARTA - Polemik pemisahan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dari tubuh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih terus bergulir. Pemisahan tersebut dinilai tidak mudah lantaran masih perlu memperhatikan aspek tenis dan non teknis.

Terlebih, pemisahan tersebut kewenangan negara dan DJP tidak berhak menentukannya.

"DJP bukan yang ingin keluar, bukan keinginan DJP. Ini visi negara. Kalau mau besar revenue pajak yang menunjang, tapi kalau penerimaan pajak (tax administrasi) nya cukup atau enggak cukup saat ini, itu diputuskan saat ini," jelas Pejabat Pengganti Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak, Wahju K Tumakaka di kantornya, Jakarta, Jumat (8/8/2014).

Menurutnya, untuk memperbesar kapasitas penerimaan pajak ada empat aspek ang harus diperhatikan. Yaitu organisasi, Sumber Daya Manusia (SDM), teknologi informasi (TI) serta anggaran.

"Semua ini kapasitas bila diperbesar dikerjakan kalau ada anggaran. Kalau mau diperbesar, harus memperpanjang sisi-sisinya. Ini kebutuhan kita? Bukan kebutuhan negara. Memperbesar ini tidak mudah. Kalau organisasi ini mau diperbesar, pertanyaannya apakah bisa DJP lakukan itu? Kalau bisa selesai urusan," ungkapnya.

Wahju mengatakan, revenue penerimaan pajak dari tahun ke tahun meningkat. Tercatat 2002, penerimaan pajak masih Rp400 triliun, namun sekarang sudah hampir Rp1.000 triliun lebih.

"Berarti dari tahun ke tahun, revenue harus makin besar. Di dalam penerimaan pajak ada beberapa area tax itu perlu ada keleluasaan untuk memperlebar pajak," imbuhnya.

Dalam kaitannya dengan SDM perlu ada perekrutan baru bila ada pemisahan DJP atau istilahnya transformer. "Kalau enggak ganti nanti ada penyakit yang sama. Harus ada change management," ujar dia.

Dari sisi IT pun dibutuhkan level yang expert. Dia mencontohkan, untuk mencari pegawai pada level manajer pun membutuhkan waktu cukup lama, dan hal itu tidak mudah dilakukan.

"Sama kaya bawa mobil Mercedes Benz saja, biasa bawa mobil tapi seminggu sudah lecet-lecet itu mobil. Karena enggak ahli supirnya," katanya.

Selain itu, jika ingin memperbesar penerimaan pajak, harus ada alasan dan riset di berbagai negara. "Jepang, Malaysia, Jerman gimana. Termasuk pandangannya pejabat. Terus terang ini saya bahas dengan dirjen supaya punya frame sama. Mau dibawa mana pun, yang penting penerimaan pajak ini digunakan sebaik mungkin atau enggak," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ditjen Pajak Ungkap...
Ditjen Pajak Ungkap 59,3 Juta Wajib Pajak Sudah Padankan NIK Menjadi NPWP
Korupsi Ditjen Pajak,...
Korupsi Ditjen Pajak, Menkeu Bebas Tugaskan Pejabat Ditjen Pajak
Tiba di KPK, Kepala...
Tiba di KPK, Kepala Kantor Pajak Madya Jaktim Wahono Saputro Bungkam
Kasus Suap Pajak, Ditjen...
Kasus Suap Pajak, Ditjen Imigrasi Cegah 2 ASN Ditjen Pajak
Kanwil DJP Sulselbartra...
Kanwil DJP Sulselbartra Masifkan Kampanye Simpatik PPS
20 Tahun Tak Pernah...
20 Tahun Tak Pernah Naik, Bea Meterai Jadi 10 Ribu
Berita Terkini
Italia Boncos, Bayar...
Italia Boncos, Bayar Rp500 Juta per Hari Cuma Buat Parkir Superyacht Sitaan Milik Miliarder Rusia
25 menit yang lalu
ADVAN Universe 2026...
ADVAN Universe 2026 Digelar di Bandung, Perkuat Ekosistem Talenta Digital
33 menit yang lalu
Obat Generik Bebas Tarif...
Obat Generik Bebas Tarif 2 Tahun, Lalu Melonjak Jadi 200%
2 jam yang lalu
Jasaraharja Putera Raih...
Jasaraharja Putera Raih Pertumbuhan Berkelanjutan dan RBC Capai 371,90%
3 jam yang lalu
Pelabuhan Patimban Resmi...
Pelabuhan Patimban Resmi Layani Impor Perdana, Komponen Mobil Listrik BYD Lanjut ke Pabrik Subang
3 jam yang lalu
Kinerja Positif 2025,...
Kinerja Positif 2025, Jasa Raharja Catatkan Laba Bersih Rp2,30 Triliun
4 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Mojtaba Khamenei...
4 Alasan Mojtaba Khamenei Bersumpah Ingin Balas Dendam Kematian Ayahnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved