BI: Inflasi RI Dalam Tren Menurun
Kamis, 14 Agustus 2014 - 16:06 WIB
BI: Inflasi RI Dalam Tren Menurun
A
A
A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan, inflasi Indonesia terjaga dan berada dalam tren yang menurun sehingga mendukung prospek pencapaian sasaran inflasi 2014 yakni 4,5±1%.
"Inflasi triwulan II-2014 tercatat 6,70% (yoy), menurun dibandingkan 7,32% (yoy) pada triwulan sebelumnya," ujarnya usai rapat RDG di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (14/28/2014).
Agus menjelaskan, inflasi yang terkendali berlanjut di bulan Juli 2014, tercatat sebesar 0,93% (mtm) atau 4,53% (yoy), cukup rendah bila dibandingkan pola musiman Lebaran dalam tiga tahun terakhir.
"Penurunan tersebut ditopang oleh menurunnya tekanan inflasi volatile food dan terjaganya inflasi inti. Inflasi volatile food menurun seiring dengan pasokan yang membaik terkait dengan datangnya musim panen," tambahnya.
Sementara itu, terjaganya inflasi inti ditopang oleh moderasi permintaan domestik, minimalnya tekanan harga global, serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
"Ke depan, risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah potensi tekanan penyesuaian administered prices seperti tarif listrik dan peningkatan harga pangan," tandasnya.
"Inflasi triwulan II-2014 tercatat 6,70% (yoy), menurun dibandingkan 7,32% (yoy) pada triwulan sebelumnya," ujarnya usai rapat RDG di gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (14/28/2014).
Agus menjelaskan, inflasi yang terkendali berlanjut di bulan Juli 2014, tercatat sebesar 0,93% (mtm) atau 4,53% (yoy), cukup rendah bila dibandingkan pola musiman Lebaran dalam tiga tahun terakhir.
"Penurunan tersebut ditopang oleh menurunnya tekanan inflasi volatile food dan terjaganya inflasi inti. Inflasi volatile food menurun seiring dengan pasokan yang membaik terkait dengan datangnya musim panen," tambahnya.
Sementara itu, terjaganya inflasi inti ditopang oleh moderasi permintaan domestik, minimalnya tekanan harga global, serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
"Ke depan, risiko yang tetap perlu diwaspadai adalah potensi tekanan penyesuaian administered prices seperti tarif listrik dan peningkatan harga pangan," tandasnya.
(gpr)
Lihat Juga :