PPN di Sektor Hulu Lemahkan Daya Saing Kopi Lokal

Selasa, 19 Agustus 2014 - 15:16 WIB
PPN di Sektor Hulu Lemahkan...
PPN di Sektor Hulu Lemahkan Daya Saing Kopi Lokal
A A A
BANDUNG - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Barat menolak pemberlakuan kebijakan terkait Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% yang dibebankan kepada sektor hulu.

"Kami bersama asosiasi kopi lainnya bersepakat untuk menolak pemberlakuan tersebut," ujar Wakil Ketua AEKI Jabar Iyus Supriatna kepada wartawan, Selasa (19/08/2014).

Mestinya, kata dia, pemerintah mengalihkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai 10% kepada konsumen agar sektor hulu (kopi) menjadi lebih bergairah lagi.

"Dampaknya, para eksportir akan mengurangi harga pembelian kopi dari petani. Mereka (eksportir) tidak mau ambil risiko kerugian terlalu besar makanya berlaku seperti itu. Akibatnya, para petanipun akan terkena dampak kerugiannya," sambungnya.

Menurutnya, gairah di sektor hulu memungkinkan peningkatan nilai ekspor kopi di Jabar hingga mencapai 10%-15% dari biasanya. Pemberlakuan PPN ini, lanjutnya, justru akan menghambat pertumbuhan tersebut.

"Dengan pemberlakuan PPN terhadap sektor hulu secara otomatis akan melemahkan para petani dan eksportir. Kalau ingin tetap bergairah, maka beban PPN ke konsumenkan saja,” katanya.

Adanya kebijakan tersebut membuatnya harus memutar otak untuk tetap bertahan pada sektor ini. Apalagi ketika harus melakukan pinjaman modal ke bank, bunganya relatif tinggi. Bunga bank yang cukup tinggi memicu lemahnya daya saing produk lokal.

"Tidak hanya itu, sentuhan teknologi modern juga belum banyak terasa. Jika inhin lebih memacu kinerja ekspor agar tetap tumbuh, semestinya pemerintah memberikan sentuhan teknologi modern tersebut," katanya.

Dia menambahkan, saat ini produsen kopi besar dunia Brasil saat ini masih dalam recovery pasca-anomali cuaca yang melanda kawasan tersebut. "Ini merupakan kesempatan yang tepat untuk menggenjot produksi kopi," sebutnya.

Berkenaan dengan ekspor kopi, selama ini eksportir masih mengandalkan pintu wilayah Medan dan Surabaya. Meski sebenarnya Jabar pun telah memiliki izin ekspor langsung sejak awal 2014.

"Jabar masih butuh waktu agar dapat melakukan ekspor kopi secara langsung dalam jumlah besar. Perlu komitmen antara petani, pengusaha, dan pemerintah yang terjalin dengan baik agar ekspor secara langsung ini bisa memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah," tuturnya.

Diterangkan dia, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar sudah membuat surat untuk eskpor langsung. Karena beberapa kendala yang belum bisa diatasi, kegiatan ekspor langsung ini dimungkinkan akan molor hingga beberapa tahun ke depan.

"Ekspor kopi secara langsung dari Jabar selama kuartal I/2014 hanya mencapai 500 ton yang disebar ke negara Amerika dan Eropa. Jika ekspor kopi semuanya sudah dilakukan secara langsung di Jabar maka potensinya bisa mencapai ribuan ton," terangnya.

Iyus berharap, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang bernaluri bisnis agar kegiatan ekspor langsung ini bisa berjalan dengan lancar.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Hari Kopi Sedunia, Jumlah...
Hari Kopi Sedunia, Jumlah Pecinta Kopi di Indonesia Terus Menanjak
Ini 5 Jenis Kopi Asli...
Ini 5 Jenis Kopi Asli Nusantara yang Go International
Ingin Bikin Kopi Ala...
Ingin Bikin Kopi Ala Barista, Berikut Tips dari One Two Cups
Bukan Sekedar Kongkow,...
Bukan Sekedar Kongkow, Ngopi di Cafe Ini Bisa Rasakan Jadi Barista
Nikmati Kopi Sumatera...
Nikmati Kopi Sumatera dari NESPRESSO Limited Edition Master Origins 2020
Kafe-Kafe Kekinian Ternyata...
Kafe-Kafe Kekinian Ternyata Banyak Menggunakan Kopi Jenis Ini
Berita Terkini
Tak Ada Pergantian Menkeu,...
Tak Ada Pergantian Menkeu, Sentimen Pasar Berbalik Positif
12 menit yang lalu
Bea Cukai Gagalkan 8,9...
Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Rp8,6 Miliar
31 menit yang lalu
Kinerja Tumbuh 21,17%,...
Kinerja Tumbuh 21,17%, Patra Logistik Catat Pendapatan Rp3,25 Triliun di 2025
48 menit yang lalu
Setelah Chatib Basri,...
Setelah Chatib Basri, Menkes Merapat ke Istana Temui Prabowo
1 jam yang lalu
Menko Yusril Beberkan...
Menko Yusril Beberkan Delapan Arahan Pelayanan Publik yang Bersih
1 jam yang lalu
BI Sangkal Cadangan...
BI Sangkal Cadangan Devisa Terkuras, Masih di Atas Standar IMF
2 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved