Wisata Syariah‬ Indonesia Masih Tertinggal

Selasa, 30 September 2014 - 10:25 WIB
Wisata Syariah‬...
Wisata Syariah‬ Indonesia Masih Tertinggal
A A A
JAKARTA - Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, justru dinilai masih tertinggal dalam mengembangkan pasar wisata syariah.

Pengembangan ekonomi syariah dinilai masih sekedar fokus menyasar pengembangan sektor keuangan semata. Padahal, banyak potensi ekonomi syariah yang belum dioptimalkan seperti wisata syariah.‬

‪Ketua Presidium Lembaga Kajian Ekonomi dan Pembangunan Islam (LKEPI), Pasca Sarjana Universitas Azzahra Dedi Uska menuturkan banyak negara dengan penduduk muslim yang minoritas sudah memnafaatkan potensi ekonomi di wisata syariah.‬

Dia mencontohkan, pengembangan pariwisata syariah telah dijalankan negara lain seperti Thailand yang memiliki wisata halal.

Begitu juga dengan Singapura yang mengusung konsep wisata pelayanan terintegrasi dan Malaysia yang telah mengembangkan wisata syariah secara full.‬

‪"Dengan pengembangan wisata syariah, negara-negara tersebut mampu meraup pendapatan ekonomi yang sangat besar," tutur dia dalam rilisnya, Selasa (30/9/2014).

Dari pengamatannya, orang-orang yang berkunjung di negeri dengan wisata syariah adalah para wisatawan yang kaya dari Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Amerika.

Mereka, kata Dedi, rata-rata sangat menyukai makanan dan tempat wisata halalan thoyiban serta pelayanan yang transparatif dan penuh kenyamanan.‬

"Untuk itu, saya berharap agar pemerintahan terpilih Joko Wiodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan perekonomian masyarakat," tambah Dedi.‬

‪Sementara, Riyanto Sofyan, Pelaku Usaha Wisata Syariah sekaligus pemilik jaringan Hotel Sofyan menuturkan, beberapa negara dunia seperti Thailand, Australia dan Amerika Serikat sebelumnya kurang memperhatikan perkembangan wisata syariah.

Namun, setelah menyadari potensinya, justru perkembangan wisata syariahnya saat ini lebih maju dari Indonesia.‬

Sofyan mengatakan, mereka terus merancang strategi untuk menghimpun potensi tersebut. "Kenapa kita tidak bisa bersaing dengan mereka, saya berharap pemerintah menangkap potensi ini," ujarnya.‬

Dia membeberkan, potensi ekonomi warga muslim dunia dinilai besar. Jika dihitung GDP gabungan negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mencapai USD9,6 triliun.

Angka tersebut persis di bawah GDP Amerika Serikat USD16 triliun, dan di atas China yang hanya USD8,5 triliun.

"Pertumbuhan ekonomi negara OKI itu jauh lebih tinggi yaitu 6,3% dibanding negara lain yang hanya 5,3%," ungkap Sofyan.

‪Menariknya, saat ini mulai terjadi transisi perubahan dari muslim tradisional yang hanya fokus beribadah ke muslim yang futuristik.

Mereka mengikuti perkembangan dan kemajuan zaman. Namu, tetap menegakan ajaran-ajaran Islam.‬

‪"Kini tren masyarakat sudah mulai back to nature, menggunakan hal yang halal dan baik. Tren kaum muda muslim dunia saat ini lebih terbuka terhadap terknologi, dan perkembangan lifestyle namun masih berpegang pada aturan agama," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Gandeng Pos Indonesia,...
Gandeng Pos Indonesia, Treetan Mudahkan Layanan Wisata Halal dan Umrah lewat PosPay
Persepsi Salah Soal...
Persepsi Salah Soal Wisata Halal Jadi Perhatian Wapres Ma'ruf Amin
Wisata Halal Indonesia...
Wisata Halal Indonesia Terbaik di Dunia, Wapres Dorong Ekonomi Syariah di Daerah
Menyaksikan Suguhan...
Menyaksikan Suguhan Alam di Wisata Eco Park Syariah Tan Kayo sambil Berkuliner
Industri Halal, Ramadan,...
Industri Halal, Ramadan, dan Peluang di Tengah Pandemi
Alasan Muhammadiyah...
Alasan Muhammadiyah Tarik Duit dari Bank Syariah Hasil Merger
Berita Terkini
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
15 menit yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
1 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
1 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
2 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
5 jam yang lalu
Cargo Murah Kian Dibutuhkan...
Cargo Murah Kian Dibutuhkan di Tengah Meningkatnya Aktivitas Pengiriman Barang
11 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved