Pengamat: Pertumbuhan Investasi Bisa Capai 10%
Minggu, 12 Oktober 2014 - 11:05 WIB
Pengamat: Pertumbuhan Investasi Bisa Capai 10%
A
A
A
JAKARTA - Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Samual mengatakan, perlambatan kegiatan usaha pada kuartal III sejalan dengan perlambatan ekonomi di Indonesia.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan bahwa kegiatan usaha pada kuartal III/2014 tumbuh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Hal ini tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar 11,25%, lebih rendah dari SBT kuartal II sebesar 21,05% dan 13,35% pada kuartal III/2013.
“Jadi wajar saja kalau hasil SKDU itu juga menurun dibandingkan tahun lalu,” ujar David kepada KORAN SINDO saat dihubungi, akhir pekan kemarin.
Selain itu, lanjut dia, perlambatan tersebut juga disebabkan oleh investasi yang belum bergerak. Dia mengungkap, pertumbuhan investasi pada 5 kuartal terakhir masih di bawah 5%.
Menurut dia, investasi masih bisa meningkat hingga 10% apabila janji-janji presiden terpilih Jokowi-JK bisa terealisasi.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga bisa melewati angka 5,5% apabila sudah ada kepastian kebijakan struktural yang dilakukan oleh Jokowi-JK.
“Ini kan Jokwoi-JK menjanjikan prosedur yang lebih sederhana dan banyak janji-janji kampanye. Kalau bisa direalisasi, maka pertumbuhan ekonomi bisa ke arah sana,” ungkap dia.
Sementara terkait inflasi tahun depan sangat tergantung dengan kondisi makro terkait dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurut David, apabila tahun depan diasumsikan tidak ada kenaikan harga BBM, maka inflasi masih bisa di angka 5%-5,5%. Namun, jika ada kenaikan harga BBM, inflasi bisa melebihi angka 5,5%.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan bahwa kegiatan usaha pada kuartal III/2014 tumbuh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Hal ini tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar 11,25%, lebih rendah dari SBT kuartal II sebesar 21,05% dan 13,35% pada kuartal III/2013.
“Jadi wajar saja kalau hasil SKDU itu juga menurun dibandingkan tahun lalu,” ujar David kepada KORAN SINDO saat dihubungi, akhir pekan kemarin.
Selain itu, lanjut dia, perlambatan tersebut juga disebabkan oleh investasi yang belum bergerak. Dia mengungkap, pertumbuhan investasi pada 5 kuartal terakhir masih di bawah 5%.
Menurut dia, investasi masih bisa meningkat hingga 10% apabila janji-janji presiden terpilih Jokowi-JK bisa terealisasi.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga bisa melewati angka 5,5% apabila sudah ada kepastian kebijakan struktural yang dilakukan oleh Jokowi-JK.
“Ini kan Jokwoi-JK menjanjikan prosedur yang lebih sederhana dan banyak janji-janji kampanye. Kalau bisa direalisasi, maka pertumbuhan ekonomi bisa ke arah sana,” ungkap dia.
Sementara terkait inflasi tahun depan sangat tergantung dengan kondisi makro terkait dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Menurut David, apabila tahun depan diasumsikan tidak ada kenaikan harga BBM, maka inflasi masih bisa di angka 5%-5,5%. Namun, jika ada kenaikan harga BBM, inflasi bisa melebihi angka 5,5%.
(gpr)
Lihat Juga :