Jokowi Butuh Modal Besar untuk Perkuat Perbankan

Minggu, 19 Oktober 2014 - 18:17 WIB
Jokowi Butuh Modal Besar...
Jokowi Butuh Modal Besar untuk Perkuat Perbankan
A A A
JAKARTA - Pemerintah baru membutuhkan modal besar untuk memperkuat perbankan nasional.

Wakil Ketua Ekonomi Nasional (KEN) Raden Pardede mengatakan, diperlukan dua skenario untuk memperkuat perbankan nasional.

Pertama, Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) membutuhkan dana besar untuk membuat bank khusus.

"Dulu Jokowi-JK bilang ingin mempunyai bank pertanian khusus, baik itu bank infrasturktur, pertanian, bank UMKM. Mereka ingin punya itu, tapi kalau ingin punya bank khusus dibutuhkan tambahan modal," ujarnya saat ditemui di Jakarta akhir pekan ini.

Dia melanjutkan, modal tersebut dapat diperoleh dari penghematan atau pembuatan dana khusus untuk disalurkan sebagai modal.

Kedua, dengan jalan merger bank-bank yang sudah ada. Namun, menurut Raden, Jokowi lagi-lagi membutuhkan usaha besar untuk melakukan aksi merger ini lantaran keputusan merger saat ini adalah keputusan politik.

"Jokowi-JK harus mempunyai satu roadmap peta yang jelas. Karena banyak pihak yang terlalu memikirkan siapa kehilangan apa, bukan manfaat dari merger tersebut," ungkapnya.

Menurutnya, dengan kondisi politik saat ini, Jokowi harus sibuk melobi sana-sini untuk mewujudukan proses merger yang diinginkan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan, kapasitas perbankan juga harus diperbesar jika Jokowi tetap ingin menjadikan perbankan sebagai motor utama dalam pembangun.

Namun, lanjut dia, untuk mengawali semua itu, rencana perbankan harus disepakati dalam cetak biru perbankan atau Rencana Pembangunan Perbankan Indonesia.

Sigit menjelaskan, cetak biru perbankan nasional menggariskan arah tujuan serta strategi dan langkah untuk mencapai tujuan dalam 10-30 tahun ke depan.

Cetak biru ini akan menjadi pedoman bagi para pengambil kebijakan yang terkait dengan pertumbuhan dan pengembangan perbankan nasional.

"Strategi bahkan harus berisi bank-bank apa saja yang perlu ditutup karena tidak sesuai dengan tujuan yang ditetapkan," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Hati-Hati, Nasabah Perbankan...
Hati-Hati, Nasabah Perbankan Rentan jadi Korban Kejahatan Social Engineering
Pertemuan Tahunan Perbankan...
Pertemuan Tahunan Perbankan Syariah 2024
Dana Nasabah Raib, Sistem...
Dana Nasabah Raib, Sistem Keamanan Perbankan Dipertanyakan
Lewat Media Dongeng...
Lewat Media Dongeng Perbankan, JMI Berikan Donasi Pendidikan Masyarakat Pesisir di SDN Tanjung Burung Kabupaten Banten
Bagaimana Kinerja Perbankan...
Bagaimana Kinerja Perbankan Dua Kuartal ke Depan?, Nih Hitung-hitungannya
Cermat Dalam Memilih...
Cermat Dalam Memilih Aplikasi Perbankan
Berita Terkini
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
2 jam yang lalu
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
3 jam yang lalu
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
4 jam yang lalu
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
4 jam yang lalu
Komitmen Perbaikan Tata...
Komitmen Perbaikan Tata Kelola Pengadaan Energi, Pertamina Patra Niaga Gelar FGD
6 jam yang lalu
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
7 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved