Kenaikan Harga BBM Akan Dorong NPL

Senin, 10 November 2014 - 11:54 WIB
Kenaikan Harga BBM Akan...
Kenaikan Harga BBM Akan Dorong NPL
A A A
SURABAYA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak pada meningkatnya kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL).

Meski begitu, sumbangan kenaikan harga BBM ke NPL dinilai relatif kecil. “Kita sudah bikin hitung-hitungan, sekitar 0,1-0,2% (NPL) naiknya,” ujar Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah di Surabaya akhir pekan lalu. Halim mengatakan, kenaikan harga BBM tentu akan berdampak pada kenaikan inflasi, setidaknya selama tiga bulan. Setiap kenaikan Rp1.000/ liter inflasi akan naik 1% hingga 1,3%.

Kenaikan inflasi itu akan berpengaruh pada turunnya daya beli masyarakat. Pada akhirnya, perusahaan- perusahaan akan mengalami penurunan permintaan atas barang yang mereka produksi. “Ini tentu akan berdampak pada kelancaran membayar kewajiban pada bank,” katanya. Karena itu, BI mendukung program kompensasi untuk mengurangi tekanan akibat kenaikan harga BBM. Seperti diketahui, Juli lalu BI juga sempat mencermati kenaikan NPL di beberapa sektor akibat pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Per Juli 2014 NPL di empat sektor mengalami kenaikan. NPL sektor konstruksi tercatat naik dari 4,24% pada Juni menjadi 4,43%. Selain itu, NPL sektor pertambangan juga naik menjadi 3,09% dibandingkan bulan sebelumnya 2,49%. Adapun, sektor perdagangan mencatat NPL 3,06% dari 2,92% dan jasa sosial naik menjadi 2,96% dari 2,48% pada bulan sebelumnya. Secara industri, NPL per Juli masih 2,24%. Namun, pada Agustus industri perbankan kembali mencatat kenaikan NPL menjadi 2,31%.

Sementara, pemerintah memastikan kenaikan harga BBM akan dilakukan sebelum Januari 2015. Kenaikan harga BBM sebelum tahun depan diharap mampu menekan konsumsi BBM. “Pasti menekan (konsumsi), tahun lalu waktu harga naik Rp2.000, volume yang tadinya 48 juta kiloliter jadinya cuma 45,7 juta kiloliter,” kata Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro belum lama ini.

Meski begitu, dia tidak bisa menjamin kebijakan itu akan memastikan kuota BBM tahun ini tidak akan jebol. Pertamina memperkirakan realisasi BBM bersubsidi akan melebihi kuota yang ditetapkan APBN-P 2014 yaitu 46 juta kiloliter. Konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan kelebihan 1,6 juta kiloliter.

Bambang mengatakan, cara yang lebih keras untuk mengendalikan konsumsi BBM adalah dengan cara nonharga, seperti dengan melarang penggunaan kendaraan pribadi. Sayangnya, infrastruktur belum siap mendukung kebijakan nonharga tersebut.

Ria martati
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
11 menit yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
3 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
9 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
9 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
10 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
11 jam yang lalu
Infografis
Krisis Kepercayaan pada...
Krisis Kepercayaan pada F-35 Dorong Eropa Kembangkan Jet Tempur Gen 6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved