KTT G-20 Fokus Tingkatkan Pertumbuhan

Kamis, 13 November 2014 - 10:19 WIB
KTT G-20 Fokus Tingkatkan...
KTT G-20 Fokus Tingkatkan Pertumbuhan
A A A
BRISBANE - Para pemimpin G-20 akhir pekan ini akan berjanji meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga USD2 triliun. Meski demikian, para analis skeptis dengan target tersebut karena mesin ekonomi global seperti Jerman dan China mulai melemah.

Konferensi tingkat tinggi G-20 di Brisbane akan dihadiri antara lain Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Presiden China Xi Jinpin, dan Presiden Rusia Vladimir Putih. Selain membahas masalah ekonomi, sejumlah isu politik seperti konflik Suriah, Ukraina, Negara Islam, dan wabah ebola juga akan turut diperbincangkan. Meski demikian, Australia berupaya bekerjakerasuntukberkonsentrasi pada isu ekonomi.

“Ini tidak akan menjadi ajang perbincangan saja,” ungkap Perdana Menteri Australia Tony Abbott, dikutip kantor berita AFP. Abbott berjanji diskusi dalam KTT G-20 tidak hanya membahas pertumbuhan ekonomi, tapi juga pada sejumlah prioritas G-20 seperti perusahaan dan investor yang diuntungkan dari berbagai perbedaan aturan pajak di sejumlah negara. Anggota G-20 mencakup 85% ekonomi dunia.

Australia memfokuskan kepresidenannya di grup itu dengan komitmen menaikkan level output ekonomi sedikitnya 2% di atas level yang diproyeksikan sekarang dalam lima tahun mendatang, melalui reformasi kebijakan domestik dan meningkatkan jutaan lapangan kerja baru. Kendati demikian, para analis tidak yakin janji itu dapat terpenuhi, saat beberapa negara besar menghadapi tantangan baru dalam perekonomian, meski pertumbuhan AS saat ini cukup untuk membuat Bank Sentral (Federal Reserve/Fed) menghentikan kebijakan moneter dana murah.

Pertumbuhan masih mengecewakan di Eropa, dengan Jerman tidak lagi imun pada tekanan dari sejumlah mitra dagangnya. Jepang sekali lagi mengucurkan dana dalam jumlah besar untuk mendorong pertumbuhan setelah dua dekade stagnan. Bahkan, China yang menjadi lokomotif ekonomi dunia, mulai melemah, meski Xi menyatakan outlook negaranya tidak perlu dikhawatirkan karena penurunan ekonomi menuju tingkat yang lebih berkelanjutan.

Negara-negara G-20 menyatakan sekitar 900 langkah untuk memenuhi tujuan mereka telah disepakati, termasuk mempercepat investasi infrastruktur, reformasi keuangan, dan mendorong perdagangan bebas. Namun, pengamat menilai rincian atas tujuan itu masih samar. Mark Melatos, pengajar di School of Economics, University of Sydney, mengatakan penting bagi G-20 menghasilkan kemajuan nyata di Brisbane atau forum itu hanya akan menghasilkan pernyataan politik yang tanpa tindakan.

“Ini terlihat pada agenda pertumbuhan dan ketangguhan ekonomi, termasuk target pertumbuhan 2%. Agenda G-20 kekurangan kebijakan khusus untuk mencapai target ini. Forum itu juga kekurangan ide baru untuk mencapai target tersebut. Jadi, tidak jelas bagaimana G-20 akan mencapai target pertumbuhan lebih tinggi saat terjadi penurunan output di Jerman dan China, serta berakhirnya kebijakan moneter dana murah di AS dan Inggris,” katanya.

Organisasi untuk Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD) ingin negara-negara G-20 meningkatkan langkah mendukung pertumbuhan global, terutama mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mengatasi keengganan terhadap kebijakan quantitative easing (QE) ala Fed. Adapun Nicholas Reece dari Melbourne School of Government and School of Social and Political Sciences berpendapat, G-20 tertatih-tatih akibat besarnya skala dan keragaman antara anggotanya.

“Sederhana saja, ada terlalu banyak perbedaan kepentingan di meja sehingga sangat sulit menyepakati reformasi nyata,” ujarnya. KTT G-20 di Brisbane akan fokus pada reformasi sistem keuangan dunia, seperti aturan kapital untuk perbankan dalam mengatasi risiko kegagalan sistemik, dan cara menutup lubang pajak yang digunakan banyak perusahaan multinasional. Pertarungan melawan penipuan fiskal juga semakin penting dibahas, setelah pekan lalu terungkap bahwa Luksemburg memberi keringanan pajak yang besar pada ratusan perusahaan global.

Sorotan baru di Uni Eropa menjelang KTT G-20 itu membuat Kepala Ekonom OECD Catherine Mann memperingatkan risiko besar pada pertumbuhan global. Tapi jika G-20 mampu melaksanakan janji-janjinya, dia menyatakan, “Potensi dampak dari agenda reformasi struktural sangat luar biasa.”

Syarifudin
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
32 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
48 menit yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
2 jam yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
2 jam yang lalu
Infografis
20 PTN dengan Peminat...
20 PTN dengan Peminat Terbanyak di SNBP 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved