BI Ingin Ekonomi RI Bersaing di Kancah Global
Jum'at, 21 November 2014 - 11:15 WIB
BI Ingin Ekonomi RI Bersaing di Kancah Global
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menginginkan perekonomian nasional mampu semakin bersaing di kancah global di tengah tekanan persaingan dari negara lain akan semakin tinggi.
Menurut Gubernur BI Agus Martowardjojo, semua itu menuntut Indonesia untuk konsisten dalam mengambil langkah perbaikan dan mampu mengadaptasi hal-hal yang meruapakan best-practices di dunia.
Dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, semakin penuh persaingan, dan semakin saling terkait, pengalaman dari krisis global mengindikasikan peran Bank Sentral yang lebih aktif sangat dibutuhkan.
Menyikapi hal itu, kata Agus, BI tidak dapat lagi bekerja sekadar business as usual, namun perlu bertransformasi dan membangun keunggulan intinya.
"Untuk itu, kami telah mencanangkan program transformasi Arsitektur dan Fungsi Strategis Bank Indonesia 2015-2024, dengan menetapkan program-program strategis dalam tema Policy Excellence, Outstanding Execution, Institutional Leadership, Motivated Organization, dan State of The Art of Technology," terangnya saat acara Bankers Dinner di Jakarta, Kamis (21/11/2014) malam.
Di samping itu, BI juga mendukung langkah pemerintah dalam pengalihan subsidi BBM untuk memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pembangunan infrastruktur dan sosial. Walaupun dalam jangka pendek hal itu akan meningkatkan tekanan inflasi, sehingga BI menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,75%.
"Selain itu, kebijakan ahead the curve dengan menaikkan BI rate adalah untuk memastikan bahwa defisit neraca transaksi berjalan tetap terkendali di sekitar 2,5%–3% dari PDB dan tidak membesar, serta menjaga agar kepercayaan investor tetap kuat untuk mendukung pembiayaan pembangunan," ujarnya.
Menurut dia, langkah strategis pemerintah berupa kenaikan harga BBM dan pengalihan subsidi untuk tujuan pembangunan infrastruktur dan sosial, yang baru saja ditempuh, dalam jangka pendek akan meningkatkan tekanan inflasi.
Namun reformasi tersebut sangat diperlukan agar tersedia ruang fiskal (fiscal space) untuk memperkuat laju pembangunan.
"Oleh karena itu, kami mendukung sepenuhnya langkah tegas tersebut, yang manfaatnya akan kita rasakan di tahun-tahun mendatang," kata dia.
Menurut Gubernur BI Agus Martowardjojo, semua itu menuntut Indonesia untuk konsisten dalam mengambil langkah perbaikan dan mampu mengadaptasi hal-hal yang meruapakan best-practices di dunia.
Dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, semakin penuh persaingan, dan semakin saling terkait, pengalaman dari krisis global mengindikasikan peran Bank Sentral yang lebih aktif sangat dibutuhkan.
Menyikapi hal itu, kata Agus, BI tidak dapat lagi bekerja sekadar business as usual, namun perlu bertransformasi dan membangun keunggulan intinya.
"Untuk itu, kami telah mencanangkan program transformasi Arsitektur dan Fungsi Strategis Bank Indonesia 2015-2024, dengan menetapkan program-program strategis dalam tema Policy Excellence, Outstanding Execution, Institutional Leadership, Motivated Organization, dan State of The Art of Technology," terangnya saat acara Bankers Dinner di Jakarta, Kamis (21/11/2014) malam.
Di samping itu, BI juga mendukung langkah pemerintah dalam pengalihan subsidi BBM untuk memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pembangunan infrastruktur dan sosial. Walaupun dalam jangka pendek hal itu akan meningkatkan tekanan inflasi, sehingga BI menaikkan suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,75%.
"Selain itu, kebijakan ahead the curve dengan menaikkan BI rate adalah untuk memastikan bahwa defisit neraca transaksi berjalan tetap terkendali di sekitar 2,5%–3% dari PDB dan tidak membesar, serta menjaga agar kepercayaan investor tetap kuat untuk mendukung pembiayaan pembangunan," ujarnya.
Menurut dia, langkah strategis pemerintah berupa kenaikan harga BBM dan pengalihan subsidi untuk tujuan pembangunan infrastruktur dan sosial, yang baru saja ditempuh, dalam jangka pendek akan meningkatkan tekanan inflasi.
Namun reformasi tersebut sangat diperlukan agar tersedia ruang fiskal (fiscal space) untuk memperkuat laju pembangunan.
"Oleh karena itu, kami mendukung sepenuhnya langkah tegas tersebut, yang manfaatnya akan kita rasakan di tahun-tahun mendatang," kata dia.
(rna)
Lihat Juga :