BI Akan Tahan Inflasi Tahun Ini 7,7%
Rabu, 26 November 2014 - 15:56 WIB
BI Akan Tahan Inflasi Tahun Ini 7,7%
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengungkap akan menahan laju inflasi sepanjang tahun 2014 di level 7,7% (mtm) atau di batas bawah perkiraan BI sebelumnya sekitar 7,7%-8,1%. Bulan Oktober lalu, laju inflasi mencapai 0,47% (mtm) atau 4,8% (yoy).
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D. W. Martowardjo memprediksi, pada bulan November ini akan terjadi kenaikan laju inflasi akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Sekarang ini karena sudah ada kenaikan harga BBM, inflasi kelihatannya akan sedikit naik, akan ada di kisaran 1,3% sampai 1,6%," ujar Agus saat ditemui usai acara Euromoney Indonesia Investor Forum di Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Dia mengungkapkan, inflasi pada pekan ketiga November masih bisa terjaga. Namun, pada bulan Desember, dia memperkirakan inflasi bisa di atas 2% (mtm).
"Inflasi tertinggi di Desember bisa di atas 2%, dari volitle food yang dijaga, "papar dia.
Lebih lanjut dia menuturkan, sebenarnya penerapan subsidi BBM tetap bisa memperbaiki pengelolaan inflasi. Menurutnya, penerapan subsidi tetap akan menjadi kebijakan yang sifatnya struktural.
Dengan pemerintah melakukan kebijakan subsidi BBM tetap, maka ke depannya pengelolaan subsidi energi akan lebih terkelola dengan baik. Selain itu, pengelolaan subsidi energi BBM dan listrik, akan membaik.
Agus melanjutkan, apabila ini bisa ditangani secara lengkap dan struktural, maka akan sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Dengan adanya kebijakan struktural, maka inflasi dapat ditekan hingga ke angka 4 plus minus 1%.
BI juga mengungkapkan, dalam satu dekade ke depan akan mengupayakan tingkat inflasi secara bertahap menurun dan terjaga pada laju yang semakin rendah.
"Untuk itu, kebijakan moneter berbasis sasaran inflasi (inflation targeting framework) akan terus dilanjutkan dan diperkuat," ujarnya.
Sebelumnya BI telah menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 7,75%. Kenaikan BI rate ini dilakukan untuk merespon ekspektasi inflasi, menjaga kondisi defisit neraca berjalan, menjaga likuiditas perbankan, dan meningkatkan pertumbuhan kredit.
Agus mengatakan, kenaikan BI Rate ditempuh untuk menjaga ekspektasi inflasi dan memastikan bahwa tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi tetap terkendali, temporer, dan dapat segera kembali pada lintasan sasaran 4 plus minus 1%.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D. W. Martowardjo memprediksi, pada bulan November ini akan terjadi kenaikan laju inflasi akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Sekarang ini karena sudah ada kenaikan harga BBM, inflasi kelihatannya akan sedikit naik, akan ada di kisaran 1,3% sampai 1,6%," ujar Agus saat ditemui usai acara Euromoney Indonesia Investor Forum di Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Dia mengungkapkan, inflasi pada pekan ketiga November masih bisa terjaga. Namun, pada bulan Desember, dia memperkirakan inflasi bisa di atas 2% (mtm).
"Inflasi tertinggi di Desember bisa di atas 2%, dari volitle food yang dijaga, "papar dia.
Lebih lanjut dia menuturkan, sebenarnya penerapan subsidi BBM tetap bisa memperbaiki pengelolaan inflasi. Menurutnya, penerapan subsidi tetap akan menjadi kebijakan yang sifatnya struktural.
Dengan pemerintah melakukan kebijakan subsidi BBM tetap, maka ke depannya pengelolaan subsidi energi akan lebih terkelola dengan baik. Selain itu, pengelolaan subsidi energi BBM dan listrik, akan membaik.
Agus melanjutkan, apabila ini bisa ditangani secara lengkap dan struktural, maka akan sangat baik bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Dengan adanya kebijakan struktural, maka inflasi dapat ditekan hingga ke angka 4 plus minus 1%.
BI juga mengungkapkan, dalam satu dekade ke depan akan mengupayakan tingkat inflasi secara bertahap menurun dan terjaga pada laju yang semakin rendah.
"Untuk itu, kebijakan moneter berbasis sasaran inflasi (inflation targeting framework) akan terus dilanjutkan dan diperkuat," ujarnya.
Sebelumnya BI telah menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 7,75%. Kenaikan BI rate ini dilakukan untuk merespon ekspektasi inflasi, menjaga kondisi defisit neraca berjalan, menjaga likuiditas perbankan, dan meningkatkan pertumbuhan kredit.
Agus mengatakan, kenaikan BI Rate ditempuh untuk menjaga ekspektasi inflasi dan memastikan bahwa tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM bersubsidi tetap terkendali, temporer, dan dapat segera kembali pada lintasan sasaran 4 plus minus 1%.
(rna)
Lihat Juga :