Pertamina dan Tim Reformasi Bertemu di ESDM
Rabu, 03 Desember 2014 - 16:06 WIB
Pertamina dan Tim Reformasi Bertemu di ESDM
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) siang ini, mengunjungi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk bertemu dengan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas).
Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko mengatakan, tim mewakili pemerintah tersebut ingin mengetahui berapa biaya pengadaan minyak yang dilakukan Pertamina.
Selain itu, tim juga ingin mengetahui berapa subsidi yang dibayar pemerintah ke Pertamina. Tim juga menanyakan adakah kerugian dari Pertamina atas kegiatan penyaluran BBM bersubsidi.
"Jadi, yang dilaporkan tadi hanya volume, enggak ada yang lain. Karena harga patokannya sudah ditetapkan pemerintah. Harga ecerannya sudah ditetapkan pemerintah. Hanya volumenya, ini untuk menghitung subsidi (yang harus dibayarkan pemerintah ke Pertamina)," kata dia di Jakarta, Rabu (3/12/2014).
Selama ini, dari volume BBM bersubsidi yang disalurkan, Pertamina hanya mendapatkan ganti Public Service Obligation (PSO) sebesar 95% saja. Kemudian 5% ditahan untuk diverifikasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap akhir tahun.
Suhartoko juga menjelaskan, volume BBM bersubsidi tahun ini melampaui yang direncanakan pemerintah dalam APBN-P 2014 sebesar 46 juta kiloliter, meski pemerintah telah menaikkan harga.
"Paska kenaikan harga BBM bersubsidi terjadi migrasi ke BBM non-subsidi sepekan terakhir, konsumsi Pertamax melonjak 237%, dibanding rata-rata konsumsi harian sebelum kenaikan," kata dia.
Menurutnya, paska kenaikan harga BBM bersubsidi, stok nasional premium mencapai 18,2 hari, minyak tanah mencapai 72 hari, solar 20,39 hari, avtur selama 28,8 hari, pertamax hingga 49,35 hari, Pertamax plus selama 44,9 hari, serta Pertamax Dex selama 75 hari.
Senior Vice President Fuel Marketing and Distribution Pertamina Suhartoko mengatakan, tim mewakili pemerintah tersebut ingin mengetahui berapa biaya pengadaan minyak yang dilakukan Pertamina.
Selain itu, tim juga ingin mengetahui berapa subsidi yang dibayar pemerintah ke Pertamina. Tim juga menanyakan adakah kerugian dari Pertamina atas kegiatan penyaluran BBM bersubsidi.
"Jadi, yang dilaporkan tadi hanya volume, enggak ada yang lain. Karena harga patokannya sudah ditetapkan pemerintah. Harga ecerannya sudah ditetapkan pemerintah. Hanya volumenya, ini untuk menghitung subsidi (yang harus dibayarkan pemerintah ke Pertamina)," kata dia di Jakarta, Rabu (3/12/2014).
Selama ini, dari volume BBM bersubsidi yang disalurkan, Pertamina hanya mendapatkan ganti Public Service Obligation (PSO) sebesar 95% saja. Kemudian 5% ditahan untuk diverifikasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap akhir tahun.
Suhartoko juga menjelaskan, volume BBM bersubsidi tahun ini melampaui yang direncanakan pemerintah dalam APBN-P 2014 sebesar 46 juta kiloliter, meski pemerintah telah menaikkan harga.
"Paska kenaikan harga BBM bersubsidi terjadi migrasi ke BBM non-subsidi sepekan terakhir, konsumsi Pertamax melonjak 237%, dibanding rata-rata konsumsi harian sebelum kenaikan," kata dia.
Menurutnya, paska kenaikan harga BBM bersubsidi, stok nasional premium mencapai 18,2 hari, minyak tanah mencapai 72 hari, solar 20,39 hari, avtur selama 28,8 hari, pertamax hingga 49,35 hari, Pertamax plus selama 44,9 hari, serta Pertamax Dex selama 75 hari.
(izz)
Lihat Juga :