Rupiah Ambruk, Kabinet Jokowi Tak Bisa Yakinkan Pasar
Selasa, 16 Desember 2014 - 21:04 WIB
Rupiah Ambruk, Kabinet Jokowi Tak Bisa Yakinkan Pasar
A
A
A
JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI, Muhammad Misbakhun mengemukakan, ambruknya nilai tukar rupiah ke level terendah sejak 1998 sebagai cerminan Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak sanggup meyakinkan pasar.
"Kita lihat dulu, pelemahan rupiah itu berarti tim ekonomi Jokowi enggak bekerja. Kalau saya melihat, ketidakpercayaan pasar ada di tim ekonomi. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang belum bisa meyakinkan pasar, sehingga pasar bereaksi seperti itu," ujarnya kepada Sindonews, Selasa (16/12/2014).
Menurutnya, upaya Jokowi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk mengurangi defisit transaksi berjalan belum cukup meyakinkan pasar
"Kenaikan harga BBM saja ternyata tidak cukup untuk meyakinkan pasar. Kalau menurut saya seharusnya BI (Bank Indonesia) juga melakukan operasi pasar untuk melakukan stabilisasi. Misalnya, melakukan pembelian dolar (USD)," jelas Misbakhun.
Dia melanjutkan, Kabinet Kerja harus berkoordinasi dengan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD). Sebab, yang memiliki kewenangan untuk mengintervensi adalah BI.
"Ini kan masalah moneter. Kordinasi ini harusnya dilakukan tim ekonomi. Presiden bisa saja berkoordinasi dengan Gubernur BI. Tapi, minimal tim ekonominya bisa Menko Perekonomian atau Menkeu harus melakukan koordinasi," paparnya.
Diketahui, Presiden Jokowi malam ini direncanakan memanggil Gubernur BI Agus Martowardojo untuk membahas mengenai pelemahan rupiah yang hampir menyentuh angka Rp13.000/USD.
"Kita lihat dulu, pelemahan rupiah itu berarti tim ekonomi Jokowi enggak bekerja. Kalau saya melihat, ketidakpercayaan pasar ada di tim ekonomi. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang belum bisa meyakinkan pasar, sehingga pasar bereaksi seperti itu," ujarnya kepada Sindonews, Selasa (16/12/2014).
Menurutnya, upaya Jokowi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk mengurangi defisit transaksi berjalan belum cukup meyakinkan pasar
"Kenaikan harga BBM saja ternyata tidak cukup untuk meyakinkan pasar. Kalau menurut saya seharusnya BI (Bank Indonesia) juga melakukan operasi pasar untuk melakukan stabilisasi. Misalnya, melakukan pembelian dolar (USD)," jelas Misbakhun.
Dia melanjutkan, Kabinet Kerja harus berkoordinasi dengan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika (USD). Sebab, yang memiliki kewenangan untuk mengintervensi adalah BI.
"Ini kan masalah moneter. Kordinasi ini harusnya dilakukan tim ekonomi. Presiden bisa saja berkoordinasi dengan Gubernur BI. Tapi, minimal tim ekonominya bisa Menko Perekonomian atau Menkeu harus melakukan koordinasi," paparnya.
Diketahui, Presiden Jokowi malam ini direncanakan memanggil Gubernur BI Agus Martowardojo untuk membahas mengenai pelemahan rupiah yang hampir menyentuh angka Rp13.000/USD.
(dmd)
Lihat Juga :