Gejolak Harga Komoditas Sebabkan Prediksi Inflasi BI Meleset

Jum'at, 02 Januari 2015 - 17:39 WIB
Gejolak Harga Komoditas...
Gejolak Harga Komoditas Sebabkan Prediksi Inflasi BI Meleset
A A A
JAKARTA - Gejolak harga komoditas menyebabkan prediksi inflasi Desember 2014 yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) meleset.

Seperti diketahui, inflasi Desember 2014 meningkat tinggi dan sedikit melebihi perkiraan BI, yaitu mencapai 2,46% month to month (MtM) atau secara tahunan sebesar 8,36% year on year (YoY).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengatakan, realisasi inflasi tersebut sedikit lebih tinggi terutama karena lebih tingginya inflasi kelompok makanan olahan (volatile food), akibat gejolak harga komoditas beras dan aneka cabai yang masih terjadi hingga penghujung tahun.

"Namun, inflasi sepanjang 2014 tetap terkendali pada single digit di tengah tingginya tekanan inflasi kelompok administered prices, yang bersumber dari kenaikan harga BBM bersubsidi, penyesuaian tarif tenaga listrik untuk kelompok rumah tangga dan industri, kenaikan harga elpiji 12 kilogram (kg), dan penyesuaian tarif angkutan udara, " ujarnya di Jakarta, Jumat (2/1/2015).

Menurutnya, inflasi ini yang terjaga menyebabkan terjaganya perkembangan inflasi 2014, yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan inflasi 2013, sebesar 8,38% (yoy).

Inflasi inti terkendali pada 4,93% (yoy), di tengah meningkatnya inflasi dari sisi biaya (cost push) akibat kenaikan harga komoditas, yang diatur pemerintah dan gejolak harga pangan.

Tirta menambahkan, capaian ini tidak terlepas dari peran kebijakan BI dalam mengelola permintaan domestik, menjaga stabilitas nilai tukar, dan mengarahkan ekspektasi inflasi, serta semakin baiknya koordinasi kebijakan pengendalian inflasi antara pihaknya dan pemerintah.

"BI ke depannya memandang, risiko tekanan inflasi masih cukup besar meskipun harga beberapa komoditas terutama energi cenderung menurun," terangnya.

Dia menyebutkan, dalam jangka pendek tekanan inflasi dari kelompok pangan diperkirakan masih cukup tinggi, terutama terkait dengan faktor cuaca yang kurang mendukung.

Selain itu, risiko inflasi diperkirakan juga bersumber dari kelompok administered prices, seiring dengan kebijakan reformasi subsidi energi yang tengah berlangsung.

Pihaknya pun akan memperkuat bauran kebijakan, dan meningkatkan koordinasi pengendalian inflasi dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini ntuk meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan, serta mengelola ekspektasi inflasi masyarakat.

"Melalui kebijakan tersebut, BI pun meyakini bahwa inflasi akan terkendali, dan dapat segera kembali pada lintasan sasarannya yaitu 4±1% pada tahun 2015," tandasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Terima Data Inflasi...
Terima Data Inflasi 2,84% dan Pertumbuhan Ekonomi 5,11%, Jokowi: Segar kalau Seperti Ini
Inflasi Bulan Maret...
Inflasi Bulan Maret 2025 Mencapai 1,65 Persen
Badan Pusat Statistik...
Badan Pusat Statistik : Inflasi 2021 Capai 1,87 Persen
Inflasi Mei Diperkirakan...
Inflasi Mei Diperkirakan Mencapai 0,31 Persen
Prediksi Inflasi September...
Prediksi Inflasi September 2022 Efek Kenaikan Harga BBM
Angka Inflasi Jawa Barat...
Angka Inflasi Jawa Barat Tertinggi
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
8 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
8 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
9 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
9 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
9 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
10 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved