Fitch Pangkas Rating Kredit Rusia

Minggu, 11 Januari 2015 - 13:25 WIB
Fitch Pangkas Rating...
Fitch Pangkas Rating Kredit Rusia
A A A
WASHINGTON - Fitch Ratings memangkas peringkat kredit Rusia menjadi hanya satu level di atas junk (sampah). Menurut lembaga itu, penurunan harga minyak dan sanksi Barat akan mengakibatkan Rusia mengalami penyusutan ekonomi 4% tahun ini.

Fitch mengurangi rating untuk utang Pemerintah Rusia sebanyak satu level menjadi BBB-, grade investasi terendah, dan menambah outlook negatif pada rating . “Outlook ekonomi telah memburuk sejak pertengahan 2014 setelah penurunan tajam harga minyak dan rubel, ditambah dengan kenaikan suku bunga,” papar pernyataan Fitch, dikutip kantor berita AFP.

“Sanksi Barat pertama diberlakukan pada Maret 2014 dengan memblokir akses perbankan dan perusahaan Rusia ke pasar modal eksternal, sehingga kian membebani ekonomi,” ungkap Fitch. Lembaga itu menyatakan telah memangkas proyeksi ekonomi Rusia tahun ini menjadi penyusutan 4,0%, dibandingkan proyeksi penyusutan sebelumnya yang sebesar 1,5% dan pertumbuhan 0,6% pada 2014. “Pertumbuhan mungkin tidak kembali terjadi hingga 2017,” papar lembaga tersebut.

Fitch mengasumsikan, harga minyak mentah yang menjadi sumber utama pendapatan pemerintah akan menjadi ratarata USD70 per barel, di atas level USD50 per barel harga minyak mentah Brent di London pada Jumat (9/1). “Jika harga minyak tetap di bawah ini, ini dapat mengakibatkan resesi lebih dalam dan mengakibatkan tertekannya keuangan publik, mengurangi ruang otoritas untuk manuver,” ujar Fitch.

Fitch juga menjelaskan, denganrubelyangmasihlemahdan sanksi pemblokiran akses pada pasar modal global, perbankan Rusia dapat lebih menderita dan pemerintah akan kesulitan untuk terus mendukungnya. Di sisi lain, Pemerintah Rusia tetap berada di grade investasi karena memiliki tingkat utang yang rendah dan devisa asing yang solid. Sejumlah sanksi yang lebih lama tetap ada dan tanda positif dapat hilang.

“Keadaan sulit Rusia sekarang memberikan ruang yang sempit bagi lebih banyak agenda kebijakan ekonomi liberal dan menaikkan risiko isolasi yang lebih luas,” ungkapnya. Awal bulan ini proyeksi awal pemerintah menunjukkan inflasi tahunan Rusia pada 2014 akan mencapai 11,4%. Tingginya inflasi itu akibat melemahnya nilai rubel. Penurunan nilai rubel membuat harga-harga naik, terutama makanan yang naik sekitar 15,4% pada 2014.

Kantor statistik Rosstat menyatakan, harga konsumen naik 2,6% pada Desember, saat rubel turun di level terendah. Pemerintah Rusia juga telah melakukan intervensi untuk membantu Bank Gazprombank. Pada 2013, level inflasi tahunan sebesar 6,5%. Data inflasi 2014 itu merupakan yang tertinggi sejak krisis keuangan Rusia pada 2008.

Harga minyak yang rendah dan berbagai sanksi Barat terhadap Rusia terkait konflik Ukraina telah mengakibatkan nilai rubel turun. Artinya, harga sebagianbesarbarang, terutama yangimpor, menjadilebihtinggi. “Harga produk non-pangan naik 8,1% selama 2014, adapun biaya jasa naik 10,5%,” ungkap pernyataanRosstat, dikutip BBC. Rosstat akan memublikasikan data inflasi akhir pada 12 Januari.

Ekonomi Rusia menyusut pada November untuk pertama kali dalam lima tahun dan diperkirakan memasuki resesi pada kuartal I/2015. Penurunan harga minyak memangkas pendapatan pemerintah. Adapun, sanksi yang diberlakukan terhadap Rusia telah memukul sektor perbankan dengan pemotongan pinjaman asing. Sebelumnya pemerintah membeli saham Gazprombank senilai USD683 juta sebagai bagian dari rencana mendukung perbankan.

“Suntikan dana itu membantu bank memperkuat struktur modal dan menyediakan ruang yang cukup untuk operasi ekspansi,” papar pernyataan Gazprombank. Bank terbesar kedua di Rusia, VTB, juga menerima USD1,8 miliar dari dana kesejahteraan nasional Rusia yang menjadi bagian skema rekapitalisasi sistem perbankan.

Moskow juga telah meningkatkan dana penyelamatanuntukTrustBankmenjadi USD2,4 miliar dalam bentuk pinjaman untuk dana talangan. Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan, perbankan domestik harus mendukung peningkatan pinjaman untuk berbagai proyek penting.

Syarifudin
(bbg)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
6 jam yang lalu
Membaca Pola Pelemahan...
Membaca Pola Pelemahan Rupiah, DEN Prediksi Kurs Melandai pada Juli 2026
6 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
7 jam yang lalu
Pengembangan Bioenergi...
Pengembangan Bioenergi Berpotensi Serap 150 Ribu Tenaga Kerja
7 jam yang lalu
Kuliah Umum di Unhas,...
Kuliah Umum di Unhas, Afi Kalla Tekankan Peran IKM dalam Hilirisasi Ekonomi
7 jam yang lalu
Seminar dan Live Trading,...
Seminar dan Live Trading, Didimax Dorong Edukasi Trading yang Aman serta Mandiri
7 jam yang lalu
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved