Minyak Dunia Anjlok, BI Klaim Pemerintah Hemat Rp200 T
Senin, 19 Januari 2015 - 14:23 WIB
Minyak Dunia Anjlok, BI Klaim Pemerintah Hemat Rp200 T
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak dunia yang berada di level terendah di bawah USD50 per barel, diklaim telah menghemat anggaran pemerintah sebesar Rp200 triliun.
"Sekarang ini kita masih menjadi negara nett importir minyak. Dari penurunan harga minyak ini kita dapat mengantongi manfaat lebih dari Rp200 triliun. Ini namanya penghematan," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (19/1/2015).
Menurut mantan menteri keuangan tersebut, saat ini pemerintah memiliki peluang dan tantangan untuk mengalokasikan anggaran lebih. Jangan sampai anggaran tersebut terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak bermanfaat untuk perekonomian.
"Ini tantangan yang dihadapi dalam APBNP 2015, relokasi penghematan anggaran. Pengelolaan subsidi harus lebih baik digunakan untuk hal produktif, seperti membangun infrastruktur," kata Agus.
Namun, penurunan harga minyak dunia juga membawa dampak buruk terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini membuat harga komoditi melemah dan sangat mempengaruhi nilai ekspor.
"Kita sama-sama tahu perkembangan harga minyak dunia yang lemah itu juga membuat harga komoditi juga melemah," tandasnya.
"Sekarang ini kita masih menjadi negara nett importir minyak. Dari penurunan harga minyak ini kita dapat mengantongi manfaat lebih dari Rp200 triliun. Ini namanya penghematan," ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (19/1/2015).
Menurut mantan menteri keuangan tersebut, saat ini pemerintah memiliki peluang dan tantangan untuk mengalokasikan anggaran lebih. Jangan sampai anggaran tersebut terbuang percuma untuk hal-hal yang tidak bermanfaat untuk perekonomian.
"Ini tantangan yang dihadapi dalam APBNP 2015, relokasi penghematan anggaran. Pengelolaan subsidi harus lebih baik digunakan untuk hal produktif, seperti membangun infrastruktur," kata Agus.
Namun, penurunan harga minyak dunia juga membawa dampak buruk terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini membuat harga komoditi melemah dan sangat mempengaruhi nilai ekspor.
"Kita sama-sama tahu perkembangan harga minyak dunia yang lemah itu juga membuat harga komoditi juga melemah," tandasnya.
(dmd)
Lihat Juga :