AS Tak Intervensi, Minyak Anjlok di Bawah USD48/Barel
Selasa, 20 Januari 2015 - 09:51 WIB
AS Tak Intervensi, Minyak Anjlok di Bawah USD48/Barel
A
A
A
MELBOURNE - Minyak mentah global diperdagangkan anjlok di bawah USD48 per barel setelah Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan tidak akan melakukan intervensi di pasar, meski untuk menurunkan harga.
Kontrak berjangka (futures) turun 3% di New York sejak 16 Januari 2015 setelah lantai perdagangan tutup pada Senin karena libur Martin Luther King Jr.
Utusan Departemen Energi AS Amos Hochstein mengatakan bahwa AS sebagai konsumen minyak terbesar di dunia akan membiarkan pasar menentukan apa yang terjadi.
Sementara Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh menyatakan, Iran cukup kuat untuk menahan kemerosotan harga, bahkan jika harus menjual minyak menyentuh USD25 per barel.
Minyak mentah jatuh hampir 50% tahun lalu karena AS memproduksi minyak dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga dekade dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menolak mamangkas pasokan.
"AS tidak akan memangkas produksi dan itulah masalahnya," kata analis sumber daya di Fat Prophets David Lennox seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (20/1/2015).
Menurut dia, jika harga minyak ingin pulih kembali, maka perlu dilakukan pemangkasan pasokan sekitar 1 juta-1,5 juta barel per hari (bph) dan perlu dilakukan bersama.
West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange untuk pengiriman Februari, yang berakhir hari ini turun USD1,23 menjadi USD47,46 per barel pada pukul 11.24 siang di Sydney. Sementara untuk kontrak teraktif Maret turun USD1,19 menjadi USD47,94.
Minyak Brent di London ICE Futures Europe Exchange untuk pengiriman Maret turun USD1,33, atau 2,7% ke USD48,84 per barel. Premi minyak mentah patokan Eropa ini terhadap WTI mengakhiri sesi sebesar USD1,04 pada 16 Januari 2015.
Administrasi Informasi Energi (EIA) mencatat produksi minyak AS naik menjadi 9,19 juta bph pada 9 Januari 2015, produksi tertinggi setidaknya sejak Januari 1983. Lonjakan produksi tersebut didorong oleh kombinasi pengeboran horizontal dan rekah hidrolik, yang telah membuka formasi minyak dari Texas ke North Dakota.
Kontrak berjangka (futures) turun 3% di New York sejak 16 Januari 2015 setelah lantai perdagangan tutup pada Senin karena libur Martin Luther King Jr.
Utusan Departemen Energi AS Amos Hochstein mengatakan bahwa AS sebagai konsumen minyak terbesar di dunia akan membiarkan pasar menentukan apa yang terjadi.
Sementara Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh menyatakan, Iran cukup kuat untuk menahan kemerosotan harga, bahkan jika harus menjual minyak menyentuh USD25 per barel.
Minyak mentah jatuh hampir 50% tahun lalu karena AS memproduksi minyak dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga dekade dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menolak mamangkas pasokan.
"AS tidak akan memangkas produksi dan itulah masalahnya," kata analis sumber daya di Fat Prophets David Lennox seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (20/1/2015).
Menurut dia, jika harga minyak ingin pulih kembali, maka perlu dilakukan pemangkasan pasokan sekitar 1 juta-1,5 juta barel per hari (bph) dan perlu dilakukan bersama.
West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange untuk pengiriman Februari, yang berakhir hari ini turun USD1,23 menjadi USD47,46 per barel pada pukul 11.24 siang di Sydney. Sementara untuk kontrak teraktif Maret turun USD1,19 menjadi USD47,94.
Minyak Brent di London ICE Futures Europe Exchange untuk pengiriman Maret turun USD1,33, atau 2,7% ke USD48,84 per barel. Premi minyak mentah patokan Eropa ini terhadap WTI mengakhiri sesi sebesar USD1,04 pada 16 Januari 2015.
Administrasi Informasi Energi (EIA) mencatat produksi minyak AS naik menjadi 9,19 juta bph pada 9 Januari 2015, produksi tertinggi setidaknya sejak Januari 1983. Lonjakan produksi tersebut didorong oleh kombinasi pengeboran horizontal dan rekah hidrolik, yang telah membuka formasi minyak dari Texas ke North Dakota.
(rna)
Lihat Juga :