Bank Sentral Australia Turunkan Suku Bunga

Rabu, 04 Februari 2015 - 12:44 WIB
Bank Sentral Australia...
Bank Sentral Australia Turunkan Suku Bunga
A A A
SYDNEY - Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) kemarin menurunkan suku bunga hingga 25 basis poin, mencapai rekor baru terendah menjadi 2,25%.

Langkah ini diambil setelah satu setengah tahun menunda penurunan suku bunga yang diterapkan demi mendorong pertumbuhan. RBA menyatakan, ekonomi tumbuh di bawah tren dan inflasi rendah. Adapun, pengangguran meningkat pada tahun lalu dan diperkirakan terus bertambah besar.

Dolar Australia turun menjadi USD76,59 sen dari sekitar USD78 sen sebelum pengumuman. Indeks saham S&P/ASX 200 naik pada perdagangan siang dan ditutup menguat 1,46%. “Para rapat hari ini, mempertimbangkan informasi terbaru dan proyeksi terkini, kami melakukan pengurangan lebih lanjut pada suku bunga. Langkah ini diperkirakan menambah dorongan untuk permintaan sehingga dapat mempercepat pertumbuhan berkelanjutan dan inflasi konsisten sesuai target,” ungkap Gubernur RBA Glenn Stevens, dikutip kantor berita AFP .

Menteri Keuangan Australia Joe Hockey mendukung pemangkasan suku bunga dan bank sentral memiliki ruang untuk langkah selanjutnya, khususnya saat turunnya harga minyak dunia yang membuat harga bahan bakar lebih murah, meredam inflasi. “Ini berita bagus bagi Australia. Ini akan membantu perekonomian Australia. Ini membantu menciptakan lebih banyak lapangan kerja karena bisnis mampu membayar lebih murah untuk utang mereka saat konsumen membayar lebih sedikit untuk utang mereka dan orang dengan kredit perumahan dapat membayar lebih sedikit,” ungkap Hockey yang menambahkan, pemangkasan suku bunga oleh RBA ini merupakan yang pertama dilakukan sejak Agustus 2013.

Analis menyatakan, pemangkasan suku bunga dapat mengakibatkan kenaikan harga rumah karena kredit perumahan menjadi lebih terjangkau. Meski demikian, RBA menyatakan, pihaknya bekerja sama dengan regulator lainnya untuk melakukan penilaian dan mengurangi risiko ekonomi yang dapat terjadi akibat gejolak di pasar perumahan.

Bank sentral telah mendapat berbagai tekanan untuk memangkas suku bunga saat pertumbuhan ekonomi tetap lemah dan saat penurunan harga komoditas utama seperti bijih besi yang menekan pendapatan pemerintah. Data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang lebih lemah pada Desember menunjukkan ekonomi hanya tumbuh 0,3% pada kuartal III/2014 sehingga tingkat pertumbuhan tahunan di bawah tren 2,7%.

Adapun, pengangguran mendekati level tertinggi dalam satu dekade sebesar 6,1%. RBA menyatakan, meski dolar Australia turun terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir, masih di atas proyeksi nilai fundamentalnya. “Nilai tukar lebih rendah diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam perekonomian,” ungkap pernyataan RBA.

Kepala Ekonom AMP Capital Shane Oliver menyatakan, pemangkasan suku bunga seperti kebijakan asuransi untuk ekonomi yang terus mengalami ketidakpastian terkait penurunan sektor pertambangan dan kecepatan pertumbuhan ekonomi.

“Saya tidak berpikir situasinya seperti 2008 lalu saat dunia bergejolak dan harus dipangkas untuk mengatasi resesi atau seperti itu. Ini benarbenar seperti asuransi untuk membenahi ekonomi dan memastikan pertumbuhan berlanjut dan faktanya, menguat,” katanya. Para ekonom menyatakan, keputusan RBA dan kondisi ekonomi akan terus melemah sehingga akan ada pemangkasan suku bunga lagi.

“Nada pernyataannya cukup lemah dengan kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan domestik,” ujar Kepala Ekonom ANZ Warren Hogan. “Data awal kami adalah RBA akan mengulangi langkah hari ini pada Maret dan ada kemungkinan, paling tidak untuk proyeksi pasar, tingkat suku bunga di bawah 2,0% pada tahun ini,” papar Hogan.

Ekonom Westpac, Bill Evans, menilai bahwa RBA tidak akan terganggu dengan periode lama stabilitas suku bunga untuk hanya satu langkah meskipun pemangkasan suku bunga telah diproyeksikan,. Adapun, Ekonom Senior RBC Capital Markets Su-Lin Ong, menyatakan, “Sangat jelas penilaian outlook untuk aktivitas ekonomi lebih lemah.”

Menurut dia, RBA saat ini tampaknya mengurangi proyeksi untuk pertumbuhan dan inflasi dalam pernyataan per kuartal setelah rapat kebijakan moneter pada 6 Februari mendatang. “Kita memiliki suku bunga 2% dan risikonya ialah itu menjadi lebih rendah. Kita terganjal pada periode kecil dari pertumbuhan untuk jangka panjang,” katanya.

Syarifudin
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
DSI Dinilai Bisa Perkuat...
DSI Dinilai Bisa Perkuat Ekspor dan Transparansi Tata Kelola SDA
6 menit yang lalu
IHSG Kebakaran, Rontok...
IHSG 'Kebakaran', Rontok 3,58% ke 5.734 Siang Ini
17 menit yang lalu
Mendorong Standar Baru...
Mendorong Standar Baru Hilirisasi Nikel Berkelanjutan Tengah Tuntutan Global
33 menit yang lalu
DPR Sahkan Revisi UU...
DPR Sahkan Revisi UU PPSK Hari Ini, Berikut Poin-poin Lengkapnya
1 jam yang lalu
Ayo Belajar Cara Investasi...
Ayo Belajar Cara Investasi ETF di IG Live MNC Sekuritas: Investasi Simpel dengan Diversifikasi Otomatis
1 jam yang lalu
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
1 jam yang lalu
Infografis
Manfaat Jus Mentimun...
Manfaat Jus Mentimun untuk Turunkan Asam Urat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved