Tak Realistis, Formula Harga Biodiesel Diubah

Jum'at, 06 Februari 2015 - 11:18 WIB
Tak Realistis, Formula...
Tak Realistis, Formula Harga Biodiesel Diubah
A A A
JAKARTA - Pemerintah akan segera menetapkan acuan baru formula harga indeks pasar (HIP) biodiesel lantaran acuan harga biodiesel terhadap Mean of Pleats Singapore (MoPS) tidak realistis.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridha Mulyana mengatakan, acuan terhadap MoPS tidak lagi realistis karena turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Sehingga, pemerintah mengubah acuan harga biodiesel mengacu kepada minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO).

“Formula harga biodiesel akan segera ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM karena memberi kepastian terhadap pelaku usaha,” kata dia di Jakarta kemarin. Ridha menjelaskan, formula harga baru biodiesel memperhitungkan komponen biaya produksi dan margin. Adapun, pembentukan formula harga dilakukan bersama pelaku usaha di sektor bahan bakar nabati (BBN). Hingga saat ini HIP biodiesel masih berpatokan pada harga MoPS.

Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 2185/12/MEM/2014 menetapkan harga indeks pasar untuk BBN jenis biosolar sebesar 103,48 MOPS solar. Ketua Aprobi Paulus Tjakrawan mengatakan penetapan HIP biodiesel memang semestinya menggunakan parameter biaya bahan baku dan biaya produksi. “Kalau harga BBN disamakan dengan harga BBM maka bisnis biofuel menjadi tidak menarik. Untuk itu kami sedang mengusahakan agar harganya menarik. Parameternya biaya bahan baku ditambah biaya proses,” kata dia.

Terkait penetapan subsidi biodiesel sebesar Rp4.000 per literdansubsidibioetanolsebesar Rp3.000 per liter untuk public service obligation (PSO), Ridha mengaku tidak sepakat karena selama ini subsidi telah ditanggung oleh pelaku usaha dengan demikian, pemerintah justru menanggung beban.

“Kami justru tidak sepakat karena selama ini sudah ditanggung mereka. Tapi, kemudian diambil alih pemerintah padahal mereka yang non-PSO sudah mau mencampurkan tanpa subsidi,” ujarnya. Tahun ini pemerintah menargetkan penyerapan bahan bakar nabati jenis biodiesel di sektor energi mencapai 4,3 juta kiloliter (kl). Penggunaan BBN terus didorong guna menekan konsumsi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) nasional.

Penyerapan biodiesel antara lain akan digenjot untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero), khususnya di wilayah Indonesia Timur. Penggunaan biodiesel juga akan diarahkan untuk sektor pertambangan.

Nanang wijayanto
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
26 menit yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
55 menit yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
1 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
4 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
10 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
11 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved