BI Perkirakan Penjualan Eceran Meningkat
Rabu, 11 Februari 2015 - 12:23 WIB
BI Perkirakan Penjualan Eceran Meningkat
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan, penjualan eceran akan kembali meningkat pada Januari 2015.
Ini terindikasi dari nilai indeks penjualan riil (IPR) Januari yang diperkirakan sebesar 175,1 atau tumbuh 12,5% (yoy) atau lebih tinggi dari 4,3% (yoy) pada bulan sebelumnya. “Sementara pertumbuhan tahunan terbesar diperkirakan terjadi pada penjualan riil kelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 36% (yoy), lebih tinggi dari 28% (yoy) pada bulan sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta kemarin.
Dia melanjutkan, secara bulanan penjualan eceran diperkirakan mengalami kontraksi sebesar -1,6% (mtm), lebih rendah dari 6,4% (mtm) pada bulan sebelumnya. Penurunan penjualan diperkirakan terjadi pada mayoritas kelompok barang, terbesar pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi dari sebesar 12,4% (mtm) menjadi sebesar -3,2% (mtm).
Penurunan IPR disinyalir didorong oleh belum tingginya permintaan masyarakat pada awal tahun. Berdasarkan hasil survei penjualan eceran BI, pada Desember 2014 pertumbuhan penjualan eceran secara tahunan melambat, namun secara bulanan meningkat. Indikasi tersebut terlihat dari pertumbuhan IPR Desember 2014 sebesar 178 atau tumbuh 4,3% (yoy), lebih rendah dari 11,4% (yoy) pada bulan sebelumnya.
“Sementara secara bulanan, penjualan eceran tumbuh sebesar 6,4% (mtm), lebih tinggi dari -0,7% (mtm) pada November 2014,” ujar Tirta. Secara tahunan, pertumbuhan penjualan riil pada Desember 2014 melambat pada mayoritas kelompok barang, terbesar pada kelompok suku cadang dan aksesori yang mengalami kontraksi sebesar -2,7% (yoy), lebih rendah dari 15,3% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan tahunan terendah tercatat pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang mengalami kontraksi sebesar -22,6% (yoy). Menurutnya, kontraksi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh menurunnya penjualan produk perabotan rumah tangga dan alat musik. Secara bulanan, lanjut dia, peningkatan pertumbuhan penjualan eceran terjadi pada seluruh kelompok barang.
Kondisi tersebut didorong oleh maraknya program diskon akhir tahun dan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Pengamat ekonomi A Prasetyantoko mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perlambatan penjualan eceran karena daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.
Selain itu juga karena ada dorongan harga yang menyebabkan inflasinya naik pada akhir Desember. “Saya kira itu dampak dari kenaikan harga BBM pada November yang diikuti dengan BI Rate. Itu dampaknya masih terasa pada Desember,” ujar Prasetyantoko kepada KORAN SINDO.
Dia memperkirkan, pada Januari penjualan eceran akan meningkat lantaran dampak kenaikan BBM dan BI Rate sudah mulai mereda. Kemudian karena ada ekspektasi harga akan turun terkait turunnya harga minyak dunia sehingga inflasi turun dan adanya ekspektasi BI Rate akan turun. “Sehingga indeks itu juga mestinya mulai turun. Artinya pem-beliannya akan naik di bulan Januari,” imbuh dia.
Dia menuturkan, akan ada ekspektasi penurunan BI Rate dapat terjadi pada kuartal II/2015. Ini dikarenakan kondisi yang membuat BI Rate turun di kuartal II sudah mulai terasa karena likuiditas sudah mulai longgar sehingga diharapkan kuartal II sudah bisa direalisasikan penurunan itu. “Ya, sekitaran Juni-Juli. Tapi, saya kira masih akan sangat ditentukan dengan dinamika pasarkeuangan, terutamaterkait dengan rencana suku bunga di AS,” paparnya.
Bila pada April nanti The Fed jadi menaikkan suku bunga, harus dilihat dulu apakah dampaknya pada market, pada nilai tukar, dan IHSG itu terlalu signifikan atau tidak. “Kalau tidak, itu bisa dieksekusi penurunannya. Penurunan BI Rate itu masih di kisaran 25 sampai 50 bps,” tutup dia.
Kunthi Fahmar
Ini terindikasi dari nilai indeks penjualan riil (IPR) Januari yang diperkirakan sebesar 175,1 atau tumbuh 12,5% (yoy) atau lebih tinggi dari 4,3% (yoy) pada bulan sebelumnya. “Sementara pertumbuhan tahunan terbesar diperkirakan terjadi pada penjualan riil kelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 36% (yoy), lebih tinggi dari 28% (yoy) pada bulan sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta kemarin.
Dia melanjutkan, secara bulanan penjualan eceran diperkirakan mengalami kontraksi sebesar -1,6% (mtm), lebih rendah dari 6,4% (mtm) pada bulan sebelumnya. Penurunan penjualan diperkirakan terjadi pada mayoritas kelompok barang, terbesar pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi dari sebesar 12,4% (mtm) menjadi sebesar -3,2% (mtm).
Penurunan IPR disinyalir didorong oleh belum tingginya permintaan masyarakat pada awal tahun. Berdasarkan hasil survei penjualan eceran BI, pada Desember 2014 pertumbuhan penjualan eceran secara tahunan melambat, namun secara bulanan meningkat. Indikasi tersebut terlihat dari pertumbuhan IPR Desember 2014 sebesar 178 atau tumbuh 4,3% (yoy), lebih rendah dari 11,4% (yoy) pada bulan sebelumnya.
“Sementara secara bulanan, penjualan eceran tumbuh sebesar 6,4% (mtm), lebih tinggi dari -0,7% (mtm) pada November 2014,” ujar Tirta. Secara tahunan, pertumbuhan penjualan riil pada Desember 2014 melambat pada mayoritas kelompok barang, terbesar pada kelompok suku cadang dan aksesori yang mengalami kontraksi sebesar -2,7% (yoy), lebih rendah dari 15,3% (yoy) pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan tahunan terendah tercatat pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya yang mengalami kontraksi sebesar -22,6% (yoy). Menurutnya, kontraksi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh menurunnya penjualan produk perabotan rumah tangga dan alat musik. Secara bulanan, lanjut dia, peningkatan pertumbuhan penjualan eceran terjadi pada seluruh kelompok barang.
Kondisi tersebut didorong oleh maraknya program diskon akhir tahun dan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Pengamat ekonomi A Prasetyantoko mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perlambatan penjualan eceran karena daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.
Selain itu juga karena ada dorongan harga yang menyebabkan inflasinya naik pada akhir Desember. “Saya kira itu dampak dari kenaikan harga BBM pada November yang diikuti dengan BI Rate. Itu dampaknya masih terasa pada Desember,” ujar Prasetyantoko kepada KORAN SINDO.
Dia memperkirkan, pada Januari penjualan eceran akan meningkat lantaran dampak kenaikan BBM dan BI Rate sudah mulai mereda. Kemudian karena ada ekspektasi harga akan turun terkait turunnya harga minyak dunia sehingga inflasi turun dan adanya ekspektasi BI Rate akan turun. “Sehingga indeks itu juga mestinya mulai turun. Artinya pem-beliannya akan naik di bulan Januari,” imbuh dia.
Dia menuturkan, akan ada ekspektasi penurunan BI Rate dapat terjadi pada kuartal II/2015. Ini dikarenakan kondisi yang membuat BI Rate turun di kuartal II sudah mulai terasa karena likuiditas sudah mulai longgar sehingga diharapkan kuartal II sudah bisa direalisasikan penurunan itu. “Ya, sekitaran Juni-Juli. Tapi, saya kira masih akan sangat ditentukan dengan dinamika pasarkeuangan, terutamaterkait dengan rencana suku bunga di AS,” paparnya.
Bila pada April nanti The Fed jadi menaikkan suku bunga, harus dilihat dulu apakah dampaknya pada market, pada nilai tukar, dan IHSG itu terlalu signifikan atau tidak. “Kalau tidak, itu bisa dieksekusi penurunannya. Penurunan BI Rate itu masih di kisaran 25 sampai 50 bps,” tutup dia.
Kunthi Fahmar
(ftr)