Inflasi Korsel Terendah dalam 15 Tahun
Rabu, 04 Maret 2015 - 11:03 WIB
Inflasi Korsel Terendah dalam 15 Tahun
A
A
A
SEOUL - Inflasi Korea Selatan (Korsel) pada Februari menyentuh level terendah dalam lebih dari 15 tahun akibat turunnya harga minyak. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran tentang ancaman deflasi di negara itu.
“Harga konsumen naik 0,5% pada Februari dari tahun lalu, penurunan selanjutnya dari Januari yang sebesar 0,8%,” ungkap data Badan Statistik Korsel, dikutip kantor berita AFP . Data Februari itu merupakan yang terendah sejak Juli 1999, saat harga konsumen naik 0,3%. Inflasi inti, tidak termasuk harga minyak dan makanan, berada sebesar 2,3%, juga melemah dari Januari sebesar 2,4%.
Inflasi tetap bertahan di bawah 1% selama tiga bulan berturut-turut karena penurunan harga minyak global yang melemah sekitar 50% dari nilainya sejak Juni. Negara ekonomi terbesar keempat di Asia itu mengimpor hampir semua kebutuhan energinya dari luar negeri. Harga produk petrokimia turun 24% year on year (yoy).
Adapun, biaya jasa keperluan turun 2,5%. Inflasi tetap berada di bawah target Bank Sentral Korsel sebesar 2,5-3,5% selama hampir tiga tahun. Kini Bank Sentral Korsel mendapat tekanan untuk memangkas suku bunga yang telah berada di level terendah dalam lebih dari empat tahun sebesar 2,0% untuk mengurangi ancaman deflasi. Bank Sentral Korsel pada Januari memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini menjadi 3,4% dari sebelumnya 3,9%.
Bank Sentral Korsel juga mengurangi outlook inflasi menjadi 1,9% dari 2,4%. Adapun, output industri Korsel turun 3,7% pada Januari, penurunan bulanan terbesar dalam enam tahun. Penurunan terjadi akibat melemahnya produksi mesin dan automotif. “Penurunan output industri terjadi dalam produksi pertambangan, manufaktur, gas, dan listrik, setelah peningkatan 3% pada Desember,” ungkap data Pemerintah Korsel, dikutip kantor berita AFP.
Adapun, tingkat pertumbuhan bulanan pada Desember merupakan yang tertinggi dalam lima tahun. Penurunan pada Januari merupakan yang paling tajam sejak Desember 2008, saat output turun 10,5%. Produksi mobil turun 7,7% dari bulan sebelumnya dan produksi mesin turun 6,8%. Penjualan ritel turun 3,1% pada bulan tersebut.
“Kenaikan harga rokok hingga 80% yang berlaku sejak Januari turut memberikan dampak penurunan konsumsi rokok,” ungkap pejabat Kementerian Keuangan Korsel, dikutip kantor berita Yonhap . Investasi juga merosot 7,1% karena penurunan belanja oleh para produsen mobil dan mesin. Sementara, Korsel bukukan rekor surplus neraca berjalan selama dua tahun berturutturut seiring kuatnya ekspor produk teknologi.
Surplus USD89,4 miliar pada 2014 mengalahkan rekor sebelumnya USD81,1 miliar pada 2013, menurut data awal Bank Sentral Korea. Pada Desember saja surplus neraca berjalan mencapai USD7,2 miliar. Neraca berjalan yang mengukur perdagangan asing untuk barang dan jasa, kembali positif selama dua tahun 10 bulan, periode surplus terlama sejak 1989.
Ekspor yang mencakup lebih dari setengah ekonomi Korsel, sebesar USD621,5 miliar pada 2014, naik 0,5% dari tahun sebelumnya. Impor turun 1,3% menjadi USD528,7 miliar, membukukan surplus tahunan USD92,9 miliar pada neraca barang.
Syarifudin
“Harga konsumen naik 0,5% pada Februari dari tahun lalu, penurunan selanjutnya dari Januari yang sebesar 0,8%,” ungkap data Badan Statistik Korsel, dikutip kantor berita AFP . Data Februari itu merupakan yang terendah sejak Juli 1999, saat harga konsumen naik 0,3%. Inflasi inti, tidak termasuk harga minyak dan makanan, berada sebesar 2,3%, juga melemah dari Januari sebesar 2,4%.
Inflasi tetap bertahan di bawah 1% selama tiga bulan berturut-turut karena penurunan harga minyak global yang melemah sekitar 50% dari nilainya sejak Juni. Negara ekonomi terbesar keempat di Asia itu mengimpor hampir semua kebutuhan energinya dari luar negeri. Harga produk petrokimia turun 24% year on year (yoy).
Adapun, biaya jasa keperluan turun 2,5%. Inflasi tetap berada di bawah target Bank Sentral Korsel sebesar 2,5-3,5% selama hampir tiga tahun. Kini Bank Sentral Korsel mendapat tekanan untuk memangkas suku bunga yang telah berada di level terendah dalam lebih dari empat tahun sebesar 2,0% untuk mengurangi ancaman deflasi. Bank Sentral Korsel pada Januari memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini menjadi 3,4% dari sebelumnya 3,9%.
Bank Sentral Korsel juga mengurangi outlook inflasi menjadi 1,9% dari 2,4%. Adapun, output industri Korsel turun 3,7% pada Januari, penurunan bulanan terbesar dalam enam tahun. Penurunan terjadi akibat melemahnya produksi mesin dan automotif. “Penurunan output industri terjadi dalam produksi pertambangan, manufaktur, gas, dan listrik, setelah peningkatan 3% pada Desember,” ungkap data Pemerintah Korsel, dikutip kantor berita AFP.
Adapun, tingkat pertumbuhan bulanan pada Desember merupakan yang tertinggi dalam lima tahun. Penurunan pada Januari merupakan yang paling tajam sejak Desember 2008, saat output turun 10,5%. Produksi mobil turun 7,7% dari bulan sebelumnya dan produksi mesin turun 6,8%. Penjualan ritel turun 3,1% pada bulan tersebut.
“Kenaikan harga rokok hingga 80% yang berlaku sejak Januari turut memberikan dampak penurunan konsumsi rokok,” ungkap pejabat Kementerian Keuangan Korsel, dikutip kantor berita Yonhap . Investasi juga merosot 7,1% karena penurunan belanja oleh para produsen mobil dan mesin. Sementara, Korsel bukukan rekor surplus neraca berjalan selama dua tahun berturutturut seiring kuatnya ekspor produk teknologi.
Surplus USD89,4 miliar pada 2014 mengalahkan rekor sebelumnya USD81,1 miliar pada 2013, menurut data awal Bank Sentral Korea. Pada Desember saja surplus neraca berjalan mencapai USD7,2 miliar. Neraca berjalan yang mengukur perdagangan asing untuk barang dan jasa, kembali positif selama dua tahun 10 bulan, periode surplus terlama sejak 1989.
Ekspor yang mencakup lebih dari setengah ekonomi Korsel, sebesar USD621,5 miliar pada 2014, naik 0,5% dari tahun sebelumnya. Impor turun 1,3% menjadi USD528,7 miliar, membukukan surplus tahunan USD92,9 miliar pada neraca barang.
Syarifudin
(bbg)