India Pangkas Suku Bunga Jadi 7,5%
Kamis, 05 Maret 2015 - 10:31 WIB
India Pangkas Suku Bunga Jadi 7,5%
A
A
A
MUMBAI - Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) kemarin mengumumkan pemangkasan suku bunga kedua dalam dua bulan. Langkah ini diambil setelah RBI memproyeksi penurunan inflasi.
Kebijakan bank sentral mengakibatkan menguatnya harga saham di India. RBI menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi 7,5%. “Melemahnya inflasi diperkirakan terjadi pada semester I/2015 sebelum menguat lagi di bawah 6% pada semester II/2015. Konsekuensinya, kami memutuskan mengurangi suku bunga hingga 25 basis poin dari 7,75% menjadi 7,5% yang segera berlaku,” ungkap Gubernur RBI Raghuram Rajan, dikutip kantor berita AFP.
Kebijakan ini mengagetkan banyak pengamat karena komite pembuat kebijakan RBI tidak menggelar rapat hingga 7 April dan dilakukan setelah bank sentral menerapkan langkah serupa dengan memangkas suku bunga 25 poin pada pertengahan Januari. Ini merupakan pengurangan suku bunga pertama dalam 20 bulan. Deputi Menteri Keuangan India Jayant Sinha memuji langkah RBI karena mendukung upaya mendorong perekonomian dalam jangka pendek.
Kebijakan RBI juga membuat bursa saham semakin memiliki harapan dan bergerak ke arah positif. Indeks saham gabungan di Bombay Stock Exchange, Sensex, naik lebih dari 1% pada 29.888,62 poin setelah menyentuh rekor tertinggi 30.024,74 poin yang dipicu pengumuman kebijakan pemangkasan suku bunga ini. Indeks menguat hampir 22% sejak Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi berkuasa pada Mei lalu dengan janji melakukan reformasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Nilai rupee India juga menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), naik menjadi 61,84 dari 61,92 pada Selasa (3/3). Rajan menjadikan kontrol inflasi sebagai prioritas sejak memimpin RBI. Sebelumnya dia sering menolak seruan untuk mengurangi suku bunga. Meski demikian, penurunan harga minyak global mengakibatkan penurunan inflasi dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi grosir (wholesale inflation /WPI) tercatat turun 0,39% pada Januari, penurunan kedua dalam tiga bulan.
“Pemangkasan suku bunga oleh RBI mencerminkan berlanjutnya penurunan tekanan inflasi di India. Dengan WPI sekarang yang menunjukkan deflasi pada harga grosir dan tekanan inflasi konsumen (CPI) melemah, ada lebih banyak ruang bagi RBI untuk menerapkan kebijakan moneter dana murah,” ungkap Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia untuk firma konsultan keuangan global IHS.
“Dengan harga minyak dunia yang tetap rendah selama 2015, prospeknya bagus untuk tekanan inflasi di India tetap terkendali selama 2015-2016.” Pengumuman ini hanya beberapa hari setelah pemerintahan baru merilis anggaran setahun penuh untuk pertama kali. Anggaran ini disambut oleh kepala penasihat ekonom Arvind Subramanian. “Pemangkasan suku bunga sangat diharapkan.
Ini menunjukkan RBI dan pemerintah dalam langkah yang sama dengan outlook ekonomi,” tuturnya pada jaringan bisnis CNBC TV18 . Sebagai bagian kesepakatan antara pemerintah dan RBI yang telah ditandatangani bulan lalu dan dipublikasikan pekan ini, bank sentral memiliki target khusus mengendalikan inflasi tetap di bawah 6% pada Januari, dan 4% pada tahun fiskal 2016-2017.
Menteri Keuangan (Menkeu) India Arun Jaitley mengumumkan peningkatan USD11,3 miliar untuk belanja jalan, kereta, dan infrastruktur lainnya saat mengumumkan anggaran pada pekan lalu. Pemerintah juga berencana memangkas tingkat pajak korporat. Laporan resmi yang dirilis menyatakan, ekonomi India siap tumbuh lebih dari 8% pada tahun fiskal mendatang.
Jaitley meningkatkan belanja untuk jaringan transportasi dan infrastruktur energi, sebagai bagian rencana Modi menarik bisnis asing membuka toko di India. Dia juga menjelaskan beberapa tunjangan untuk warga miskin, termasuk skema keamanan sosial universal. Jaitley menyatakan pada parlemen bahwa India sedang tumbuh ke level yang lebih kuat, inflasi turun, dan nilai tukar mata uang menguat.
“Kita mewarisi sentimen penurunan dan kebangkitan. Komunitas investor hampir meninggalkan kita. Kita menempuh jalan panjang sejak saat itu. Kita telah mengubah perekonomian, secara dramatis memulihkan stabilitas makroekonomi dan menciptakan kondisi untuk menghapus kemiskinan secara berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi dua digit,” ujarnya.
Sejumlah pernyataan penting Jaitley ialah langkah pemerintah untuk membangun lima proyek energi ultra mega 4.000 megawatt (MW) untuk mengatasi krisis energi; Belanja infrastruktur dinaikkan USD11,3 miliar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi; Menciptakan keamanan sosial universal yang akan memberi warga miskin India akses pada asuransi bersubsidi dan dana pensiun; Penerapan penyamaan pajak barang dan jasa pada April 2016;
Dana kesejahteraan akan dibayar langsung ke rekening bank warga tidak mampu untuk memberantas korupsi; Pajak kekayaan akan dihapus dan diganti dengan biaya tambahan untuk warga superkaya; Pajak korporat akan dipangkas hingga 25% selama empat tahun mendatang.
Syarifudin
Kebijakan bank sentral mengakibatkan menguatnya harga saham di India. RBI menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menjadi 7,5%. “Melemahnya inflasi diperkirakan terjadi pada semester I/2015 sebelum menguat lagi di bawah 6% pada semester II/2015. Konsekuensinya, kami memutuskan mengurangi suku bunga hingga 25 basis poin dari 7,75% menjadi 7,5% yang segera berlaku,” ungkap Gubernur RBI Raghuram Rajan, dikutip kantor berita AFP.
Kebijakan ini mengagetkan banyak pengamat karena komite pembuat kebijakan RBI tidak menggelar rapat hingga 7 April dan dilakukan setelah bank sentral menerapkan langkah serupa dengan memangkas suku bunga 25 poin pada pertengahan Januari. Ini merupakan pengurangan suku bunga pertama dalam 20 bulan. Deputi Menteri Keuangan India Jayant Sinha memuji langkah RBI karena mendukung upaya mendorong perekonomian dalam jangka pendek.
Kebijakan RBI juga membuat bursa saham semakin memiliki harapan dan bergerak ke arah positif. Indeks saham gabungan di Bombay Stock Exchange, Sensex, naik lebih dari 1% pada 29.888,62 poin setelah menyentuh rekor tertinggi 30.024,74 poin yang dipicu pengumuman kebijakan pemangkasan suku bunga ini. Indeks menguat hampir 22% sejak Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi berkuasa pada Mei lalu dengan janji melakukan reformasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Nilai rupee India juga menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), naik menjadi 61,84 dari 61,92 pada Selasa (3/3). Rajan menjadikan kontrol inflasi sebagai prioritas sejak memimpin RBI. Sebelumnya dia sering menolak seruan untuk mengurangi suku bunga. Meski demikian, penurunan harga minyak global mengakibatkan penurunan inflasi dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi grosir (wholesale inflation /WPI) tercatat turun 0,39% pada Januari, penurunan kedua dalam tiga bulan.
“Pemangkasan suku bunga oleh RBI mencerminkan berlanjutnya penurunan tekanan inflasi di India. Dengan WPI sekarang yang menunjukkan deflasi pada harga grosir dan tekanan inflasi konsumen (CPI) melemah, ada lebih banyak ruang bagi RBI untuk menerapkan kebijakan moneter dana murah,” ungkap Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia untuk firma konsultan keuangan global IHS.
“Dengan harga minyak dunia yang tetap rendah selama 2015, prospeknya bagus untuk tekanan inflasi di India tetap terkendali selama 2015-2016.” Pengumuman ini hanya beberapa hari setelah pemerintahan baru merilis anggaran setahun penuh untuk pertama kali. Anggaran ini disambut oleh kepala penasihat ekonom Arvind Subramanian. “Pemangkasan suku bunga sangat diharapkan.
Ini menunjukkan RBI dan pemerintah dalam langkah yang sama dengan outlook ekonomi,” tuturnya pada jaringan bisnis CNBC TV18 . Sebagai bagian kesepakatan antara pemerintah dan RBI yang telah ditandatangani bulan lalu dan dipublikasikan pekan ini, bank sentral memiliki target khusus mengendalikan inflasi tetap di bawah 6% pada Januari, dan 4% pada tahun fiskal 2016-2017.
Menteri Keuangan (Menkeu) India Arun Jaitley mengumumkan peningkatan USD11,3 miliar untuk belanja jalan, kereta, dan infrastruktur lainnya saat mengumumkan anggaran pada pekan lalu. Pemerintah juga berencana memangkas tingkat pajak korporat. Laporan resmi yang dirilis menyatakan, ekonomi India siap tumbuh lebih dari 8% pada tahun fiskal mendatang.
Jaitley meningkatkan belanja untuk jaringan transportasi dan infrastruktur energi, sebagai bagian rencana Modi menarik bisnis asing membuka toko di India. Dia juga menjelaskan beberapa tunjangan untuk warga miskin, termasuk skema keamanan sosial universal. Jaitley menyatakan pada parlemen bahwa India sedang tumbuh ke level yang lebih kuat, inflasi turun, dan nilai tukar mata uang menguat.
“Kita mewarisi sentimen penurunan dan kebangkitan. Komunitas investor hampir meninggalkan kita. Kita menempuh jalan panjang sejak saat itu. Kita telah mengubah perekonomian, secara dramatis memulihkan stabilitas makroekonomi dan menciptakan kondisi untuk menghapus kemiskinan secara berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi dua digit,” ujarnya.
Sejumlah pernyataan penting Jaitley ialah langkah pemerintah untuk membangun lima proyek energi ultra mega 4.000 megawatt (MW) untuk mengatasi krisis energi; Belanja infrastruktur dinaikkan USD11,3 miliar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi; Menciptakan keamanan sosial universal yang akan memberi warga miskin India akses pada asuransi bersubsidi dan dana pensiun; Penerapan penyamaan pajak barang dan jasa pada April 2016;
Dana kesejahteraan akan dibayar langsung ke rekening bank warga tidak mampu untuk memberantas korupsi; Pajak kekayaan akan dihapus dan diganti dengan biaya tambahan untuk warga superkaya; Pajak korporat akan dipangkas hingga 25% selama empat tahun mendatang.
Syarifudin
(bbg)