Inflasi China Naik Menjadi 1,4%

Rabu, 11 Maret 2015 - 09:14 WIB
Inflasi China Naik Menjadi...
Inflasi China Naik Menjadi 1,4%
A A A
BEIJING - Inflasi konsumen China yang naik menjadi 1,4% pada Februari, menguat kembali setelah berada di level terendah dalam lebih lima tahun.

Data resmi terbaru itu mengurangi kekhawatiran tentang deflasi di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.“Peningkatan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) itu dibandingkan peningkatan 0,8% pada Januari,” ungkap data Biro Statistik Nasional China (National Bureau of Statistics/NBS), dikutip kantor berita AFP.

Inflasi moderat dapat menjadi basis untuk konsumsi karena mendorong konsumen membeli sebelum harga naik lagi. Adapun penurunan harga membuat konsumen menunda pembelian, dan perusahaan menunda investasi sehingga dapat mengganggu pertumbuhan.

Terpisah, indeks harga produsen (producer price index /PPI) turun selama 36 bulan berturut- turut pada Februari. PPI mengukur biaya untuk barang di pintu pabrik dan menjadi indikator utama untuk CPI. PPI turun 4,8% year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan penurunan 4,3% pada Januari, dan hasil terburuk sejak Oktober 2009.

Bank Sentral China (People’s Bank of China/ PBoC) memangkas suku bunga untuk kedua kali dalam tiga bulan yang efektif mulai 1 Maret lalu. Langkah ini diambil untuk mendorong pertumbuhan di negara itu. Sejumlah analis menyatakan, masa liburan menjadi faktor kenaikan tersebut.

“Kantor statistik menyatakan, Tahun Baru China menjadi alasan inflasi yang lebih tinggi, meskipun kami merasa penjelasan ini tidak cukup karena Tahun Baru China pada tahun lalu juga jatuh pada Februari,” ungkap ekonom Dariusz Kowalczyk dari Credit Agricole di Hong Kong.

“Dalam kasus apapun, data mengonfirmasi pendapat kami bahwa akan ada pemangkasan suku bunga lebih lanjut dengan mempertimbangkan pernyataan PBoC yang sedang mengelola suku bunga riil, dan itu masih lebih rendah dengan inflasi yang lebih tinggi,” ujarnya.

China saat ini mengalami deflasi harga pabrik selama tiga tahun terakhir. Kelebihan kapasitas di pabrik-pabrik diyakini berkontribusi pada deflasi, seiring penurunan pasar properti. Awal bulan ini, Perdana Menteri (PM) China, Li Keqiang, menyatakan, pemerintah memiliki target inflasi konsumen sekitar 3%, turun dari 3,5% pada 2014.

Sementara Ekonom Alaistair Chan dari Moody’s Analytics menjelaskan, data inflasi untuk Januari yang menyentuh level terendah dalam lima tahun sebesar 0,8%, menunjukkan tekanan inflasi secara umum tetap lemah di China.

“Disinflasi terjadi di sebagian besar kategori, mulai dari pangan hingga perumahan dan barang kebutuhan rumah tangga. Harga konsumen moderat karena penurunan sektor properti dan kelebihan kapasitas di banyak sektor industri, serta rendahnya harga minyak yang mengurangi biaya energi ritel,” ujar Chan.

Diketahui, China telah menetapkan target pertumbuhan sekitar 7% pada tahun ini, turun dari target 7,5% pada 2014. Sebelumnya dilaporkan, para regulator China mempelajari sejarah ekonomi Jepang agar Negeri Panda itu dapat terhindar dari resesi dan deflasi yang telah terjadi di Negeri Sakura selama 20 tahun terakhir.

Beijing menganggap langkah Tokyo meliberalisasi aliran modal dan yen selama lebih dari 30 tahun silam sebagai faktor kunci yang memicu terciptanya gelembung aset di Jepang pada awal 1990-an. Hal itu diungkapkan pejabat Pemerintah Jepang dan sumber lain yang memiliki kontak langsung dengan para regulator China.

“Mereka tidak tertarik dengan kesuksesan Jepang. Ketertarikan terbesar mereka ialah pada kesalahan Jepang. Ekonomi Jepang dan China memiliki banyak kemiripan, jadi saya asumsikan ada banyak yang dapat dipelajari dari pengalaman kami,” ungkap sumber yang berbasis di China yang dekat dengan para regulator di Negeri Panda tersebut, pada kantor berita Reuters .

Para pembuat kebijakan dan analis China di berbagai lembaga think tank pemerintah telah mendalami pengalaman Jepang dan negara-negara lain. Sumber itu menjelaskan, komunikasi dua pihak, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta, terus terjadi meskipun ada masalah diplomasi antara kedua negara sejak 2012.

Meski demikian, saat pertumbuhan ekonomi melemah dan ada tanda-tanda deflasi, ketertarikan China pada Jepang meningkat, terutama sekitar kebijakan pemerintah Negeri Sakura. Saat pertemuan parlemen tahunan yang dimulai pada Kamis (5/3) lalu, China mengumumkan target pertumbuhan ekonomi sekitar 7% pada tahun ini, turun dari 7,4% pada 2014, atau level terlemah dalam 24 tahun.

China menerapkan tiga reformasi keuangan utama Jepang selama dekade lalu yakni liberalisasi suku bunga, internasionalisasi mata uang, dan membuka neraca modalnya. Reformasi ini harus membantu mengembangkan perekonomian, tapi kesalahan langkah dapat memiliki dampak yang besar.

Syarifudin
(ftr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BCA Kolaborasi Jurnalis...
BCA Kolaborasi Jurnalis Ekobis Makassar Kirim Bantuan ke Sulbar
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
8 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
9 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
10 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
12 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
12 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
12 jam yang lalu
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved