Kebijakan Pemerintah Dinilai Rugikan Pertamina

Kamis, 12 Maret 2015 - 17:12 WIB
Kebijakan Pemerintah...
Kebijakan Pemerintah Dinilai Rugikan Pertamina
A A A
JAKARTA - Pengamat ekonomi-politik migas Salamuddin Daeng menilai, berbagai kebijakan pemerintah di sektor energi cenderung melemahkan PT Pertamina (Persero). Padahal, BUMN energi tersebut banyak dibebani penugasan oleh negara untuk melayani kepentingan publik.

"Misalnya liberalisasi sektor migas yang merupakan dasar di balik kebijakan naik turunnya harga migas beberapa waktu terakhir," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Dia mengatakan, kebijakan yang melemparkan Pertamina ke pasar bebas migas dalam negeri masih diiringi dengan penugasan negara seperti distribusi bahan bakar minyak (BBM) public service obligation (PSO). Masalahnya, keuntungan yang diberikan kepada Pertamina minim, kurang dari 1%.

Dia membandingkan dengan keuntungan yang diberikan bagi PT PLN (Persero) untuk PSO listrik sebesar 7%. Selain itu, Pertamina juga ditugaskan untuk menjalankan distribusi BBM PSO dan non-PSO ke daerah-daerah yang biaya transportasinya tinggi.

Sementara pemain lainnya, asing dan swasta nasional, kata Daeng, justru hanya bermain di wilayah basah di Pulau Jawa, Madura, dan Bali tanpa ada persyaratan khusus dari pemerintah.

"Padahal berdasarkan Perpres No 191/2014, Pertamina diberi kewenangan menambah besaran keuntungan untuk distrubusi BBM umum di Jawa, Madura, Bali minimum 5% dan maksimum 10%, namun ini tidak berjalan," ungkapnya.

Di sektor BBM non-PSO, lanjut dia, dikenakannya pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) terhadap BBM non-PSO menyebabkan pemilik kapal enggan membeli BBM Marine di Indonesia. Padahal, peluang bisnis BBM Marine khususnya di wilayah Selat Malaka pangsa pasarnya besar, sekitar 40 juta kiloliter
(kl).

"Padahal jika pemerintah membuat kebijakan penghapusan PPN dan PBBKB terhadap BBM Marine, maka penerimaan bisa lebih besar, ketimbangpenerimaan PPN PBBKB," katanya.

Daeng juga menilai pemerintah tidak ketat mengawasi pungutan PBBKB pada Badan Usaha Pemegang Izin Niaga Umum lainnya oleh pemerintah daerah. Akibatnya, harga jual BBM non-PSO oleh pihak non-Pertamina bisa lebih rendah dari harga jual BUMN energi tersebut.

Pihaknya juga menyoroti lemahnya dukungan pemerintah dalam membangun infrastuktur sektor gas. Dampaknya, pengembangan gas terhambat dan harga meningkat tajam sehingga dimanfaatkan spekulan.

"Tidak adanya sanksi hukum terhadap pelanggaran penggunaan gas subsidi atau tabung 3 kg juga menyebabkan peralihan penggunaan ke gas subsidi terus berlangsung," tuturnya.

Di sisi lain, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum terhadap distribusi gas subsidi, menyebabkan rakyat kerap dirugikan. Sementara itu, Pertamina kerap menjadi pihak yang selalu disalahkan masyarakat saat terjadi kelangkaan.

"Karena itu, pemerintah harus membuat dan menegakkan regulasi secara berkeadilan di sektor hilir migas. Ini sebagai pelaksanaan dari prinsip equal treatment sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang," tutupnya dia.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Petani Mendapat Sosialisasi...
Petani Mendapat Sosialisasi Keamanan Seiring Gas JTB Mulai Dialirkan
Pertamina Mulai Berlakukan...
Pertamina Mulai Berlakukan Transaksi Non Tunai
Penjualan Kondensat...
Penjualan Kondensat Pertamina EP Subang Field
Pertamina EP Donggi...
Pertamina EP Donggi Matindok Field Dorong Perekonomian Kelompok Wanita Banggai
PEP Prabumulih Field...
PEP Prabumulih Field Dukung Gerakan Ketahanan Pangan
Restrukturisasi Pertamina...
Restrukturisasi Pertamina Ditegaskan Sesuai Buku Putih dan Roadmap BUMN
Berita Terkini
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
33 menit yang lalu
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
1 jam yang lalu
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
2 jam yang lalu
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
4 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
7 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
7 jam yang lalu
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved